
Suara derap langkah yang cukup nyaring terdengar, sesekali diiringi suara ranting kering yang patah karena terinjak. Tampak Yamamura dan Yamarashi sedang berlari menuju ruang penyimpanan daging hasil buruan. Yamamura menggenggam busur miliknya, sementara Yamarashi membawa belati peninggalan ayahnya yang tersarung di pinggulnya. Mereka sudah mengajak Senshi ikut juga tadi, tapi ditolak. Bukan hal baru, sebab semangat bertarung anak itu memang sudah mati sejak lama. Awan-awan hitam melintas di langit yang gelap, sesekali menghalangi cahaya Sang Rembulan.
Keduanya menghentikan langkah kaki di depan pintu ruang penyimpanan yang telah disegel menggunakan papan kayu, lalu memasang kuda-kuda bertarung. Yamamura memunculkan cahaya putih yang kemudian berubah wujud menjadi anak panah di busurnya, sedangkan Yamarashi mencabut belati miliknya dari sarung.
"Kau lihat sesuatu, tidak?" tanya Yamamura sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Tidak, sepertinya mereka masih dalam perjalan-" Ucapan Yamarashi terpotong. Kedua matanya memasang tatapan serius. Suara-suara geraman khas anjing besar terdengar setelahnya.
"Yamamura, mereka datang!! Lihat di arah jam 11!!" serunya sambil menunjuk beberapa sosok yang melintas secepat kilat di antara pohon-pohon.
Selang beberapa detik, sekawanan Dire Wolf muncul dari balik gelapnya hutan. Air liur membasahi bibir mereka dan setiap pasang mata mereka memancarkan hawa membunuh yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Jumlah mereka bisa dibilang cukup banyak.
"Datang juga." Yamarashi menyunggingkan senyum yang menyiratkan kewaspadaan sekaligus kegembiraan.
"Oi, jangan sampai lupa rencana kita!!" peringat Yamamura.
"Tak usah khawatir tentang itu," sahut Yamarashi. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke para serigala sambil mempererat genggaman pada belati miliknya.
"Nah, maju sini kalian!!"
Diiringi oleh geraman, salah satu dari serigala-serigala tersebut melompat dan menyerang Yamarashi, tapi lehernya segera terkena tikaman belati, mengakibatkannya tewas seketika. Tak menyia-nyiakan kesempatan, serigala kedua dan ketiga turut menyerang. Dengan cepat, Yamamura melepaskan anak panah di busurnya. Panah tersebut langsung menembus leher kedua serigala itu sekaligus. Seekor serigala lain bersiap menerkam Yamamura, tapi bocah berambut emas tersebut dengan cepat melompat menghindar.
"Refleksmu bagus, Yamamura!!" puji Yamarashi sembari terus menikam serigala-serigala yang mencoba menghabisinya menggunakan belati miliknya.
"Kau juga!!" balas Yamamura.
Keduanya terus menyerang para serigala sambil melompat menghindari serangan. Jumlah Dire Wolf yang banyak membuat Yamamura terkepung di garis perbatasan antara hutan yang gelap dan pekarangan rumah Yamarashi dan Senshi, sementara Yamarashi terkepung di depan pintu ruang penyimpanan.
"Jumlah mereka terlalu banyak," ucap Yamamura. "Hei, Yamarashi!! Apa memang biasanya jumlah mereka segini?"
"Tidak!! Biasanya tidak sebanyak ini, tapi jumlah mereka saat ini juga tidak sebanyak di malam saat ayah dan ibuku tewas!!" sahut Yamarashi dari kejauhan.
"Berarti mereka memata-matai kedatanganku ke rumah ini, makanya memperbanyak jumlah penyerang yang dikirim untuk jaga-jaga," batin Yamamura. Merasa tertantang, adventurer muda itu menyeringai.
"Padahal mereka adalah hewan nokturnal. Niat sekali sampai melakukan hal itu."
Para serigala yang tengah mengepung Yamamura dan Yamarashi menggeram, bersiap untuk menerkam. Semua anggota kawanan serigala itu terlihat haus darah.
"Di saat begini, mereka akan menyerah ketika pemimpinnya terbunuh, 'kan?" Yamamura bergumam sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Tiga ekor serigala menyerangnya sekaligus. Namun, dengan gesit Yamamura melompat menghindar, memanjat pohon, dan berpegangan di salah satu dahan pohon tersebut. Ia berniat memperlebar jangkauan pandangannya, dan usahanya berhasil! Kedua matanya menangkap sosok seekor serigala yang tengah berdiam di garis belakang dan dilindungi oleh anggota-anggota wolf pack lainnya.
Karena sebelah tangannya sedang memegang busur sekaligus berpegangan di dahan (dia berpegangan dengan cara melingkarkan salah satu lengannya di dahan pohon), Yamamura tidak bisa menarik tali busurnya. Maka, secepat kilat ia memunculkan anak panah dan melemparkannya menggunakan tangan yang masih bebas. Anak panah tersebut sukses menancap di leher pemimpin kawanan serigala.
Sang Pemimpin segera tumbang dengan darah mengalir deras dari lehernya. Serigala-serigala yang menjaganya tampak terkejut dan mencoba membangunkan pemimpin mereka itu, tapi gagal. Perhatian para serigala yang mengepung Yamamura serta Yamarashi segera teralihkan.
"Bagaimana, para serigala? Pemimpin kalian sudah gugur, jadi menyerahlah sekarang!!" perintah Yamamura sambil melompat turun dari atas pohon.
Namun, sebelum adventurer itu sempat melangkahkan kakinya ke depan, seekor serigala yang muncul dari balik kegelapan telah terlebih dahulu menggigit lehernya dengan buas. Dia meronta-ronta, berusaha melepaskan gigitan, tapi tenaga serigala tersebut lebih kuat. Dalam hitungan menit, ia tewas di tengah genangan darahnya sendiri.
Melihat rekannya dalam kondisi seperti itu, Yamarashi pun berseru dengan histeris. Kedua matanya membelalak lebar.
"Yamamura!!!"
Ia hendak menghampiri jasad rekannya. Namun, sebagian anggota kawanan serigala tersebut bergegas menghalanginya sambil menggeram, sementara sebagian lagi menghampiri jasad Yamamura untuk menikmati kudapan malam.
"Sial!!!" gerutu Yamarashi sembari menggigit bibirnya. Gigi-giginya bergemeletuk dengan kasar.
"Kenapa semuanya jadi begini?! Rencana kami seharusnya berjalan dengan lancar!!"
"Sekarang, Yamamura sudah tiada. Sialan. Pasti mangsa mereka yang berikutnya adalah aku."
"Atau ..., mungkin bukan."
Tiba-tiba, seringai licik terukir di wajah remaja tersebut. Serigala-serigala yang melihatnya segera menyadari bahwa ada yang salah. Namun, sebelum otak mereka sempat menyimpulkan apa yang terjadi, jasad Yamamura sudah lebih dulu berubah menjadi kobaran api panas yang membakar tubuh ketua mereka bersama serigala-serigala lain yang sedang menikmati jasad tersebut.
Dengan cepat, tubuh para Dire Wolf yang terbakar itu menghitam, menandakan bahwa nyawa telah meninggalkan tubuh mereka. Serigala-serigala yang masih hidup tampak terkejut.
Sementara itu, di tengah gelapnya hutan, sekelebat bayangan melompat dengan cepat dari satu pohon ke pohon yang lain, kemudian melompat turun ke tanah. Sosok tersebut ternyata adalah Yamamura yang asli.
"Hehehe. Kalian tertipu! Yang tadi itu hanyalah Pyro Clone. Kalian pasti tadi sudah merasa berada di atas angin, 'kan? Sayangnya, aku telah memprediksi rencana kalian, dan prediksiku seratus persen tepat." Bocah adventurer itu menyeringai licik.
"Kau memang hebat, Yamamura," batin Yamarashi sambil tersenyum. "Semuanya berjalan sesuai dengan rencanamu."
To be continued
Author: Yak, entah kenapa unsur strategy di novel ini jadi semakin kental dan MC kita jadi semakin licik. Apa karena author habis nonton Classroom of the Elites dan Battle Game in 5 Seconds?
(Readers: Lah. Yang nulis situ, kok nanyanya ke kami? _-")
Author: Ya sudah, lupakan saja 🗿 Sekian untuk chapter kali ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, dan comment. Sampai jumpa di chapter berikutnya!!