Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 57: Turnamen Maximus Potentia Bagian Satu (Part 2)



Di ruang tunggu peserta ....


Ryugai, Arai, Genbu, Akiyama, Shiro, dan peserta-peserta lainnya tampak tengah duduk di kursi masing-masing, menunggu giliran mereka dipanggil lewat speaker yang terletak di langit-langit ruangan. Ada yang terlalu bersemangat hingga terkesan hiperaktif, ada yang gugup karena tidak percaya diri dengan kemampuan bertarungnya, dan ada pula yang tengah bertopang dagu dengan bosan. Yah, kepribadian orang-orang memang beragam.


"Bosannya ...," ucap Ryugai sambil bertopang dagu. "Sampai kapan aku harus menunggu?"


"Sabarlah sedikit," ujar Arai.


"Ka-Kalian enak bisa santai begitu ...." Shiro berucap terbata-bata dengan tubuh yang gemetaran. "Sedangkan aku, dari tadi aku tidak bisa santai sama sekali!!"


"Oh, karena kau selalu kalah pada pertandingan pertama di turnamen ini, ya?" ejek Akiyama. Teman masa kecil Shiro itu melirik sahabatnya dengan tatapan sinis. "Tenang saja. Paling kali ini kau akan bertahan BAHKAN DALAM WAKTU YANG LEBIH SINGKAT DARIPADA TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA!!! HAHAHA!!!" Pemuda berambut oranye tersebut tertawa jahat layaknya tokoh antagonis dalam sebuah novel.


"Ja-Jangan beberkan semuanya ke Ryugai, dong!!" ketus Shiro. "Tapi, memang benar, sih ...."


"Berapa lama kau berhasil bertahan dalam pertandingan sebelumnya?" tanya Ryugai.


"Ti-Tiga detik ...." Shiro tertunduk malu.


"Cuma tiga detik?!" Ryugai terperanjat.


"Y-Ya ...," sahut Shiro. "Soalnya ... satu-satunya teknik sihir yang kubisa ... cuma ini ...." Pemuda tersebut menggerakkan tangannya membentuk semacam segel, kemudian ia berubah menjadi seekor kura-kura albino seukuran setengah dari tubuh manusia dewasa.


"Cuma itu?!" Ryugai terperanjat untuk yang kedua kalinya.


"Biar kucoba tes kekuatannya," ucap Genbu sembari bangkit berdiri dari kursinya. Energi hitam melapisi kepalan tangan kanannya. "Tinju naga kegelapan!!!"


"E-E-Eh?! Tunggu!!! Aku belum siap!!!"


*duaarr!!!*


Shiro terkena efek dari ledakan tersebut dan terlempar ke dinding. Beruntung, lantai dan dinding ruang tunggu ini terbuat dari bahan khusus sehingga tidak mudah pecah atau retak.


"Sakit ...." Pria kura-kura itu terjatuh ke lantai, kemudian kembali ke wujud manusia.


"Maaf, apa aku berlebihan?" ucap Genbu.


"Tidak, tidak, kok," sahut Shiro sambil bangkit berdiri.


Ryugai menepuk dahinya. "Kecepatanmu sepertinya setara dengan siput, ya."


"Apa boleh buat." Shiro tersenyum miris. "Mungkin sebenarnya aku tidak cocok berada di antara para petarung tangguh seperti kalian, ya."


"Karena aku ... ingin masuk ke pasukan keamanan .... Aku ingin menjadi pahlawan ...."


"Huh? Maksudmu?"


"Sejak aku kecil, ayahku selalu membacakan kisah-kisah kepahlawanan untukku sebelum aku tidur. Cerita-cerita itu membuat diriku termotivasi untuk menjadi seorang pahlawan. Aku sudah mencoba dan berlatih berbagai teknik sihir berkali-kali, tapi akhirnya yang bisa kukuasai cuma sihir transformasi kura-kura ini, yang merupakan sihir warisan dari keluargaku. Kelemahanku ini membuat aku selalu menjadi korban perundungan di akademi. Beruntung, aku memiliki Akiyama, teman masa kecil yang selalu membela dan melindungiku."


"Perundungan itu tidak membuat semangatku untuk menjadi seorang pahlawan menjadi patah. Karena impian itulah, aku mendaftarkan diri ke jurusan Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan. Aku terus berusaha dan mencoba, tapi hasilnya selalu gagal. Yah, lagipula, aku terlalu bodoh untuk masuk jurusan Flora dan Fauna Sihir. Mungkin sejak awal aku memang sudah ditakdirkan untuk tidak berbakat di bidang manapun, ya?" Pemuda berambut putih tersebut menengadah ke langit dengan tatapan yang sendu dan tampak putus asa. "Mungkin sejak awal aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang pelindung, tapi untuk menjadi seorang pecundang."


"Jangan bodoh!!!"


"Hm?" Bentakan itu membuat Shiro mengalihkan pandangannya ke arah Ryugai.


"Jangan bodoh!! Tidak ada orang yang ditakdirkan untuk menjadi seorang pecundang!! Tidak ada yang namanya nasib!! Kita selalu bisa mengubah takdir!! Karena itu, jangan pernah berkata kalau kau adalah pecundang!!!"


"Jurus transformasi kura-kuramu itu memang membuat kau menjadi lamban, tapi aku yakin kalau teknik itu menyimpan kekuatan tersembunyi yang luar biasa besar!! Teruslah mencoba!! Jangan menyerah!! Jangan putus asa!!! Teruslah berusaha!! Teruslah berjuang!! Tak peduli berapa kali kau gagal, teruslah berjuang!!! Aku percaya kalau kau bisa melakukannya!! Yang harus kau lakukan hanyalah terus berjuang hingga akhir dan percaya pada kemampuanmu sendiri!!! Aku percaya kalau kau bukan pecundang, Shiro!!!"


"Ryu ... Ryugai ...."


"Dia benar, Shiro," timpal Genbu. "Kau tidak harus menjadi yang terkuat dan berada di posisi terdepan untuk menjadi seorang pahlawan. Pahlawan yang sejati bukan yang kuat atau yang menang, tapi pahlawan yang pantang menyerah dan terus berjuang hingga akhir."


"Kau sudah berjuang dengan sangat keras, jadi sebenarnya sekarang ini kau sudah menjadi seorang pahlawan. Kau sudah melakukan langkah pertama. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menunjukkan potensimu yang sebenarnya kepada mereka!! Tunjukkan bahwa kau tidak lemah, kawan!!"


Kata-kata itu membuat Shiro tersenyum. Api semangat yang membara telah kembali ke hatinya. "Baiklah, aku akan kembali menjadi Shiro yang dulu. Shiro yang terus mencoba tanpa kenal lelah dan tanpa takut akan kegagalan."


"Kepada Shiro Airzaleif dari jurusan Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan kelas 2-A, harap segera memasuki arena!!!"


Suara itu terdengar dari speaker yang berada di ruangan tersebut, bergema ke seluruh ruangan, memotong 'khotbah no jutsu' yang dilakukan oleh Ryugai dan Genbu.


(Ryugai: kenapa bahasanya harus khotbah no jutsu dah? :v)


"Giliranku, ya?" Shiro tersenyum penuh semangat, kemudian bergegas mengambil pedangnya.


"Semangat, kawan," ucap Ryugai sambil meraba bahu Shiro.


"Jangan sampai kalah lagi," timpal Akiyama.


"Ya," ujar Shiro. "Tentu saja."


To be continued