Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 57: Turnamen Maximus Potentia Bagian Tiga (Part 4)



"Wah, wah .... Itu tadi pertandingan yang menyenangkan ...," ucap Shiro sambil kembali memasuki ruang tunggu, menghampiri Akiyama, Genbu, dan Arai. Ryugai menyusul di belakangnya. "Benar-benar menyenangkan ...."


"Hei, bagaimana hasilnya?" tanya Akiyama.


"Dia berhasil," sahut Ryugai.


"Wah, wah, hebat," ujar Arai sembari bertepuk tangan.


"Betul, 'kan, yang kubilang," sahut Genbu sembari tersenyum senang.


"Ngomong-ngomong, membosankan juga menunggu di sini." Arai berucap sambil menguap, kemudian kembali bertopang dagu dengan wajah bosan. "Benar-benar membosankan menunggu debutku di pertandingan terakhir."


"Pertandinganmu dijadikan pertandingan terakhir? Aku juga," sahut Ryugai.


"Oh, ya. Kalau tidak salah, kemarin di pengumuman tertulis kalau pertandingan kita dijadikan pertandingan penutup. Berarti lawanmu adalah aku, dong," ujar Arai.


"Wah, aku bisa mati karena terlalu bosan menunggu."


"Bagaimana kalau kita berlatih, Arai?" usul Ryugai. Ia melakukan pemanasan pada tangannya hingga terdengar bunyi 'krak.' Arai juga melakukan hal yang sama. Aura hitam menyelimuti tubuh Ryugai dan aura merah menyelimuti tubuh Arai. Perhatian semua peserta yang berada di ruang tunggu langsung teralihkan.


"Jangan salahkan aku jika nanti kau cedera parah, ya, Ryugai."


"He-Hei, kalian mau latih tarung di sini?" tanya Genbu khawatir. "Nanti peserta yang lain kena dampaknya!!"


"Tenang saja," sahut Ryugai.


Kedua pemuda tersebut saling bertatap-tatapan.


"Kita mulai!!"


"HWAAAAAAAAARRRRGGGHHH!!!"


Semua peserta yang ada di ruang tunggu hanya terdiam dengan bulir keringat mengaliri kening. Dilihat dari ekspresi wajah, mereka tampak agak kesal. Penyebabnya adalah ....


"HWAAAAAAAARRRRRGGGGGHHHH!!!"


Kedua tangan kekar beradu dengan dahsyat, bahkan sampai mengeluarkan percikan-percikan api. Rupanya, Ryugai dan Arai hanya ingin melakukan panco.


"Panco, ya?" ujar Genbu. "Entah kenapa aku agak kesal."


Peserta-peserta lain berbisik-bisik satu sama lain.


"Kalau cuma ingin panco, kenapa harus pakai kekuatan sihir?"


"Mereka bodoh atau apa?"


"Mungkin otak mereka isinya otot."


"Hahahaha, jangan begitu."


"Kukira tadi mereka benar-benar mau berlatih tarung."


"Harapan memang kadang tidak sesuai dengan espektasi, ya?"


"Konyol sekali."


"GRAAAAAAAARRRRRRRGGGGGGGAAAAAAGGGGGHHHH!!!"


Seruan mereka terdengar semakin nyaring. Pupil mata mereka seolah dibakar oleh kobaran api yang membara. Seisi ruang tunggu bergetar, bahkan sampai menghasilkan gelombang ultrasonik yang memekakkan telinga. Teriakan Ryugai dan Arai bergema ke segala arah.


“Wo-Woy!! Telingaku mau pecah!!” seru Akiyama sambil menutup mata dan kedua telinganya.


“Rasanya aku akan tuli!!” Shiro menimpali. “Panco orang kuat memang beda.”


“HWAAAAARRRRGGGHHH!!! SUPER SAIYAN MODE!!!”


(Author: woy jangan ganti-ganti dialog seenaknya!!! >:v


Ryugai: ehehehehehehehehe :v


Author: jadi harus ngulang lagi, ‘kan >:v)


“HWAAAAAAARRRRRGGGHHH!!!”


“Kalian ini lagi panco atau adu suara?” ujar Shiro.


“Panco aja sampai teriak-teriakan begitu,” timpal Genbu. Ia menepuk dahinya.


“Mereka waras ga sih?” Akiyama turut menepuk dahinya.


“Gwaaaaaaaaaaaaaaaarrrgggg!!!”


Dengan suara hentakan yang keras, tangan Ryugai membentur meja, menandakan bahwa pertandingan panco kali ini dimenangkan oleh Arai.


“Kali ini aku yang menang.”


“Ya, ya ...,” sahut Ryugai.


“Kepada Ryugai Yuzumoto dan Arai Mirakurai, harap segera memasuki arena!!!”


Suara nyaring itu terdengar dari speaker yang terletak di ruangan tersebut, memotong pertandingan panco antara Ryugai dan Arai.


“Giliran kita, ya?” Ryugai bangkit berdiri dan mengambil senjata-senjatanya, diikuti oleh Arai.


“Jangan sampai kau kalah dengan mudah.” Arai meraba bahu Ryugai. “Akan kupastikan gelar juara satu jatuh ke tanganku.”


“Jangan bermimpi terus.” Ryugai terkekeh. “Semoga berhasil, Arai.”


“Ya, semoga berhasil juga, Ryugai.”


To be continued