Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
After Story 3: Reunion



Plot Creation Room, Imaginary Dimension.


Sebuah portal berwarna hitam dengan campuran warna ungu muncul di ruangan berdinding digital berwarna hitam legam dengan garis-garis berwarna ungu terang menghiasi sudut-sudut 90 derajat. Tampak sebuah kursi berada di sana dengan layar-layar yang menampilkan kisah dari berbagai novel terletak di depannya.


Dari dalam portal itu, keluar seorang remaja lelaki berambut hitam pendek yang sedang menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Remaja itu duduk di kursi. Meski kelihatannya dia hanyalah anak SMA biasa, ialah yang memegang kendali atas world-world yang ditampilkan di layar-layar hologram tersebut.


"Akhirnya writing spirit-ku kembali juga. Kenapa akhir-akhir ini aku jadi malas nulis, ya?" Sang remaja SMA terus menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. "Padahal tinggal dua chapter lagi. Perasaan bulan lalu aku rajin sekali sampai menulis 4 chapter per hari. Apa aku kebanyakan main ke world lain, ya?"


"Ya sudahlah." Dia memunculkan sebuah hologram keyboard di hadapannya, kemudian menempatkan kedua tangannya di atas mesin ketik tipis transparan berwarna biru muda tersebut. Layar-layar di depannya langsung mengganti gambar-gambar yang ditampilkan dengan gambar-gambar dari dimensi Purity Online.


Dengan cepat, si remaja lelaki menekan tombol anak panah yang mengarah ke samping, terus menggeser gambar-gambar itu hingga ke batas maksimum, sampai akhirnya seluruh layar menampilkan gambar Ryugai yang sedang berbicara dengan Yuukaru yang berada di dalam mobil patroli polisi dengan dikelilingi oleh cahaya merah senja.


"Aku harus cepat-cepat menamatkan novel yang satu ini. Lagipula, aku masih perlu mengerjakan project lain. Kalau nge-stuck di sini, bisa-bisa ide untuk project-project lain keburu hilang entah ke mana."


Senyum terukir di wajah pemuda berambut hitam itu. "Saa ..., hajime youka!! (Baiklah ..., mari kita mulai!!)"


"Eh, tunggu. Kenapa aku malah cosplay jadi Kamen Rider Build?"


———————————————————————————————


"Ini benar-benar kau, Yuukaru?!" Ryugai masih tak bisa memercayai apa yang dilihatnya. "Sekarang kau bekerja sebagai polisi?"


"Ya," sahut Yuukaru.


"Bu-Bukannya dulu kau selalu bilang keadilan itu sampah?"


"Masa lalu biarlah masa lalu," ujar gadis itu. "Ryugai, coba tebak apa yang terjadi setelah eksperimen Purity Online berakhir."


———————————————————————————


Yuukaru POV


Ya. Eksperimen itu sudah berakhir sekarang. Aku dibebaskan dari balik jeruji sel tahanan dan diterima kembali di sekolah karena perbuatanku memang belum termasuk perbuatan kriminal berat. Namun, teman-teman di kelasku semuanya diam saja dan tidak mau buka mulut tentang yang sebenarnya, membuat anak-anak dari kelas lain menjauhiku dan menganggapku sebagai siswi yang berbahaya. Bahkan aku seringkali dibicarakan di belakang dan dijadikan bahan gosip. Sebenarnya aku sudah tidak tahan, tapi aku berusaha untuk terus menahannya. Ingin melawan pun aku tidak punya bukti yang kuat. Sepertinya, kembali ke dunia ini adalah sebuah kesalahan besar. Mungkin memang benar, keadilan adalah sampah. Tapi, aku tak mungkin bisa kembali ke dunia Purity Online. Aku tidak bisa lari dari kenyataan lagi. Sepertinya eksperimen Purity Online sama sekali tidak ada gunanya. Tidak ada satupun yang berubah dari diriku.


Ya, setidaknya begitulah pola pikirku ..., sampai aku mendengar kabar bahwa Yukiko dan teman-temannya ditangkap dan kebenaran atas rumor tentangku terbongkar. Teman-teman seangkatan langsung meminta maaf kepadaku atas gosip yang sudah mereka sebarkan. Dengan setengah tidak percaya, aku pun mendatangi kantor polisi untuk meminta keterangan, dan jawaban mereka adalah ....


"Teman sekelasmu sudah buka mulut tentang kenyataannya. Kami sudah tahu yang sebenarnya sekarang. Yang kau lakukan tidak salah. Kau hanya membela diri. Kaulah korbannya, bukan? Justru kaulah yang menderita setiap hari, 'kan? Ah, ya. Pelapor dan teman-teman satu geng-nya sudah kami tangkap atas tuduhan pencemaran nama baik dan penganiayaan. Kami benar-benar minta maaf karena sudah memperlakukanmu seperti penjahat. Sebagai gantinya, kami akan memberikanmu bintang jasa pembelaan diri, beasiswa, dan sejumlah uang ganti rugi .... Ah, ya. Teman sekelasmu yang melapor balik juga mengatakan mau diproses secara hukum atau tidak, semuanya terserah dirimu. Sepertinya dia merasa bersalah karena sudah tutup mulut dan membuatmu menderita. Jadi, nasib saudari Yukiko dan kawan-kawannya berada di tangan anda ...."


"Itu berarti ...." Aku maju selangkah dengan tatapan mata tak percaya. "Keadilan sudah ditegakkan?"


Sang inspektur polisi tersenyum. "Ya ...."


Senyum penuh haru tergambar di bibirku. Aku menjabat tangan inspektur dengan penuh rasa terima kasih. Berulang kali kata terima kasih terlontar keluar dari mulutku. Keadilan bukanlah sampah. Keadilan juga bukan pisau bermata satu yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Cepat atau lambat, keadilan akan ditegakkan. Mereka yang menderita akan segera mendapat kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan. Hanya saja, kebahagiaan itu tidak bisa didapatkan secara gratis. Kita juga harus berusaha untuk mewujudkannya. Jika di sekeliling kita tak ada keadilan, kitalah yang harus menegakkannya sendiri. Jika dunia tempat kita tinggal bukanlah dunia tanpa penderitaan, maka kita sendirilah yang harus berinisiatif untuk menciptakan dunia tanpa penderitaan.


Memang, mungkin kadang tidak ada happy ending bagi para pembela keadilan, tapi cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Akan datang masanya di mana orang-orang bisa mendapatkan hak yang sudah sepantasnya mereka dapatkan. Jika kita gagal untuk menegakkan keadilan, maka kita harus bangkit kembali. Sekalipun kita tak bisa bangkit kembali, maka ambillah pelajaran berharga dari kegagalan abadi itu. Carilah kemenangan di tengah kekalahan itu, karena di balik kegagalan pasti terdapat sebuah kejayaan. Kita tak bisa memaksa Sang Pencipta untuk memberi kita hidup tanpa penderitaan dan mengakhiri hidup kita dengan happy ending. Ini bukanlah dongeng Cinderella atau dongeng-dongeng lain di mana orang yang membela kebenaran selalu menang. Ada kalanya mereka kalah.


Mungkin ada banyak orang di luar sana yang belum bisa merasakan keadilan. Mungkin kisah mereka tak berakhir dengan happy ending seperti kisahku. Karena itu, aku akan mewujudkannya untuk mereka ....


Mewujudkan dunia di mana keadilan bukan sekedar omong kosong atau mitos ....


To be continued


Next Chapter:


After Story 4: Jawaban dan Happy Ending (TRUE END)