
"Waaahh .... Matahari senjanya sangat indah ...." Akiyama tersenyum sambil memandang matahari yang tengah beranjak turun ke barat, melintasi langit berwarna jingga.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, aku baru sadar kalau kau adalah Sang Pahlawan, Ryugai." Arai mencoba membuka topik. "Kudengar pahlawan yang berhasil mengalahkan Minotaur itu sama sekali tidak bisa sihir, dan kau masuk ke sini pada umur enam belas tahun dan juga tidak menguasai sihir sama sekali."
"Ah, benar juga," sahut Akiyama. "Bodohnya kita. Kenapa kita tidak menyadarinya sedari awal?"
"Kenapa gang ini sepi, ya?" ujar Ryugai sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Hari ini hari libur bagi seluruh penduduk desa karena adanya Turnamen Maximus Potentia. Mungkin sekarang semuanya sedang rebahan di rumah masing-masing," sahut Arai. "Mungkin para peserta dan penonton lain yang berjalan pulang tidak ada yang searah dengan kita, atau mereka lewat jalan lain."
"Ngomong-ngomong, pemandangan senja ini benar-benar indah," timpal Genbu. "Aku belum pernah mengagumi keindahan alam sebelumnya. Ya, hatiku waktu itu masih terperangkap di dalam prinsip 'berhati dingin dan menegakkan kekuasaan agar bisa bertahan hidup.' Tapi, pola pikirku sudah berubah sekarang. Terima kasih, Ryugai. Akhirnya aku tak perlu memakai topeng lagi untuk menyembunyikan jati diriku."
"Ah, rupanya berkat Ryugai, ya? Baguslah. Aku sendiri sampai heran kenapa Genbu tiba-tiba jadi ramah begitu." Akiyama tersenyum senang.
"Ya. Berkat Ryugai juga, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menjadi pemenang." Shiro menimpali.
"Hm? Ada apa dengan tubuhmu, Shiro?"
Ucapan Ryugai membuat perhatian ketiga pemuda lainnya langsung teralihkan ke tubuh Shiro. Struktur tubuhnya tampak memudar dan tanda-tanda seperti error muncul di sekujur badannya. Akiyama, Genbu, dan Arai terbelalak seketika.
"Shi-Shiro?"
"Tampaknya sudah waktunya, ya ...." Shiro menatap tubuhnya dengan tatapan miris. "Aku harus pergi. Setelah kepergianku, semua akan melupakanku kecuali kalian. Tidak akan ada yang mengingat pemuda bernama Shiro Airzaleif."
"Pergi?! Apa maksudmu?!"
"Sebenarnya ... aku ... bukan manusia dari dunia ini ...."
"Bukan dari dunia ini? Apa maksudmu?" seru Arai.
Shiro menoleh ke arah Ryugai. "Ryugai. Kau berasal dari dunia yang sama denganku, 'kan? Aku sudah menyadarinya sejak aku tahu kalau kau tidak menguasai sihir sama sekali."
"Eh?" Ryugai terkejut. "Ya .... Tunggu, itu berarti kau berasal dari-"
"Ya, aku juga berasal dari bumi," sahut Shiro. "Tapi, aku sudah mati."
Sekelompok pemuda itu terperanjat untuk kedua kalinya. "Kau ... sudah mati?!"
"Ya ...." Shiro menundukkan kepalanya. "Semasa hidupku, aku tak pernah berada di posisi atas. Aku selalu dijadikan budak, pecundang, bawahan, anak buah, pelayan, batu pijakan. Semasa sekolah, aku selalu menjadi korban perundungan. Aku sudah mencoba melawan, tapi itu tak ada gunanya. Mereka malah semakin menjadi-jadi. Aku berusaha membuktikan bakatku lewat prestasi, tapi itu tidak berhasil. Aku berusaha di bidang olahraga, tapi gagal juga. Setelah aku lulus, aku senang karena kupikir akhirnya aku bisa lepas dari rantai perundungan, tapi aku salah. Aku juga menjadi korban penindasan dari para senior di kantor. Merasa kecewa dan putus asa terhadap takdir, aku pun gantung diri di kantorku ...."
"Kemudian, aku bertemu dengan dewa. Dewa memberiku kesempatan kedua untuk hidup. Dia baru akan mengirimku ke surga jika impianku sudah dikabulkan, yakni jika aku sudah menjadi seorang pemenang. Aku berusaha sekuat tenaga, tapi lagi-lagi aku hanya menjadi seorang pecundang. Namun, aku terus berjuang. Aku terus mencoba dan mencoba di berbagai bidang. Kemudian, impian baru pun timbul di dalam jiwaku setelah aku mendengarkan cerita tentang kepahlawanan yang dibacakan oleh orangtua angkatku, yang melahirkanku di dunia ini. Aku bertekad menjadi seorang pahlawan. Karena itu, aku bertekad untuk memenangkan TurnamenMaximus Potentia, setidaknya satu pertandingan saja. Namun, aku gagal di tahun pertama. Ketika aku sudah merasa gagal dan enggan untuk meneruskan perjuanganku, Ryugai datang. Dia memberiku nasihat dan kata-kata mutiara yang membuatku bersemangat. Berkat itu, aku berhasil menjadi seorang pemenang."
"Aku tak punya lagi alasan untuk berada di dunia ini .... Jadi, aku harus pergi ...."
Air mata mulai mengalir menuruni wajah Shiro. "Aku seharusnya pergi dengan damai, tapi entah kenapa perasaan emosional ini malah muncul."
"Ryugai, terima kasih banyak. Berkat kau, aku berhasil menjadi seorang pemenang. Aku jadi sadar, bahwa tidak ada seorangpun yang lahir untuk menjadi seorang pecundang. Semuanya adalah pemenang."
"Ya, ya. Pergilah sana." Ryugai membalikkan badannya, berusaha menyembunyikan air mata yang mengaliri wajahnya. "Aku tidak ingin terlihat emosional dalam hal ini."
"Ryugai, bukankah kau yang berkata kepadaku?"
Kata-kata Genbu membuat Ryugai terkejut.
"Bukankah kau yang berkata kepadaku ... 'jangan membohongi dirimu sendiri dan jangan kenakan topeng untuk menutupi jati dirimu?'"
Kata-kata itu membuat tangis Ryugai pecah. Ia mengepalkan tangannya erat-erat. Dibalikkannya tubuhnya. Ia kini tak lagi malu menunjukkan wajahnya yang bercucuran air mata.
"Aku ... masih ingin ... terus berjuang bersama dengan Shiro!!!"
"Awalnya ... aku adalah pemuda yang berdarah dingin ..., tapi ... entah sejak kapan ... batinku sudah terikat dengan desa sampah ini ... dan dengan kalian ...."
"Aku ... akhirnya bisa mendapatkan kembali kebahagiaan sejati setelah bertahun-tahun berlalu ...."
"Aku ... tak ingin itu diambil dariku!! Relasi dan kenangan-kenangan yang sudah kubangun dengan susah-payah!! Aku ... tak ingin menghancurkannya!!!"
"Kau tahu, terkadang kau tidak harus menahan semuanya, Ryugai. Biarkan itu lepas. Tak perlu menahannya."
"Itu benar, Ryugai," timpal Genbu. "Bukankah kau yang bilang padaku ... bahwa menangis ... tak ada salahnya?"
"Biarkan mereka lepas. Jangan sampai mereka membusuk di dalam dirimu. Tidak apa-apa. Sebab, kau yang sekarang bukan Ryugai si pemuda berdarah dingin lagi."
"Itu benar ...," batin Ryugai."Aku bukan ... iblis pembunuh lagi ...."
"Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
Tangis Ryugai tumpah, membasahi jalanan. Tangis pertama yang Ryugai tunjukkan di depan teman-teman sekelasnya. Struktur tubuh Shiro semakin memudar, nyaris menghilang.
"Tampaknya ... waktuku sudah tiba ... Sampai jumpa, teman-teman. Aku takkan melupakan kalian ...," ucap Shiro sebelum akhirnya tubuhnya menghilang sepenuhnya.
"Pergi sana, kura-kura bodoh!!!" seru Arai dengan berlinang air mata. "Siapa yang peduli denganmu?!"
"Kura-kura, ya? Julukan yang bagus .... Mungkin aku akan meminta kepada dewa supaya direinkarnasi menjadi kura-kura dalam kehidupan berikutnya. Hahahahaha."
Suara tersebut menggema, terdengar dari arah langit senja berwarna oranye yang semakin lama semakin menggelap. Matahari semakin turun ke arah barat, nyaris tenggelam di cakrawala. "Aku akan terus berjuang bersama kalian, meski mungkin kalian tidak menyadarinya ...."
"I-Itu ... suara Shiro?!" Akiyama terperanjat.
Arai tersenyum walau wajahnya masih berlinang air mata. "Jadi ... apa yang dikatakannya itu benar ...."
"Bahwa ... dia akan selalu berjuang bersama kita dari atas ...."
-------------------------------------------------------------
Ayah, ibu ....
Aku berhasil melakukannya.
Aku bukan pecundang lagi.
Aku berhasil menjadi pemenang.
Aku bukan kura-kura lemah lagi ....
Banyak hal yang telah terjadi, jadi banyak sekali yang ingin kuceritakan kepada kalian. Namun, yang paling tidak sabar untuk kuceritakan adalah ....
Pemuda ini, salah seorang temanku.
Dia memiliki hati yang pengertian dan berhasil menggerakkan hati banyak orang .... Mulutnya itu ... bahkan mungkin melebihi mulut orang bijak .... Dia bicara tidak dari mulut, tapi dari hati. Dia berhasil menginspirasi banyak orang, termasuk diriku.
Ryugai ..., namanya adalah ... Ryugai Yuzumoto ....
To be continued
Yep akhirnya chapter ini berakhir juga :"v ide ini author dapatkan secara dadakan, tapi boleh jugalah jadi surprise :v kalian pikir Shiro sudah mendapat happy ending setelah menang di pertandingan pertama di Turnamen Maximus Potentia? Ohohoho tidak :v Bukan saya namanya kalau tidak bittersweet ending. Wkwkwkwkwk. Harus ada chara yang tersiksa XD *ditampol oleh seluruh chara*
By the way, I cried when I was writing this chapter. Yeah, I cried :"v Bayangin. Masih sentimental gegara abis nonton Violet Evergarden episode 10 langsung nulis ini chapter. Sambil dengerin Ichiban no Takaramono lagi. Otomatis langsung galau berat. Apalagi kalau boleh jujur, di hidup author juga jarang jadi seorang pemenang. Dan selalu menjadi loser. Bedanya, author agak lebih 'comeback' di akademik, jadi ya ga separah Shiro :v Tapi tetep aja sad :"v
Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan untuk membaca chapter ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya ^^
Bye!!
'There's no humans that born as a loser. We all are winners. The losers ... are the true winners ...."
-Shiro Airzaleif (Nama asli: Itabashi Shiro)
2046-2071
'Born as a loser, lived as a loser, and died as a loser, but reincarnated, lived once again, and then came to heaven as a winner.'