
Jam di dinding telah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi Ryugai masih tertidur pulas walau gorden kamarnya sudah sengaja dibuka supaya ia terbangun. Bahkan, derit pintu yang menandakan seseorang masuk ke kamarnya tak ia pedulikan. Dasar tokoh utama pemalas.
"Masih tidur juga? Padahal aku sudah membuka gordennya. Bagaimana, sih? Hancur nanti desa ini kalau pahlawannya malas seperti ini," ucap Otomura sambil membuka pintu kamar Ryugai dan memasuki kamarnya.
"Berisik, ah," sahut Ryugai sambil membenamkan kepalanya ke bantal. "Kalau mau pergi berburu, kau saja yang pergi."
Otomura menghela napas berat. "Padahal sifat dinginnya sudah lenyap seluruhnya dan kepribadiannya sudah berubah drastis, tapi kenapa dosa kemalasan masih setia berdiam di dalam jiwanya, sih?"
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membuat peraturan baru. Siapa yang belum bangun sampai jam 9 pagi, maka telah melanggar aturan dan sebagai hukumannya harus angkat kaki dari rumah ini."
"Eh?! Masa begitu, sih?!!" Ryugai langsung menyibakkan selimutnya, kemudian bangkit dan duduk di ranjangnya.
"Ya. Kalau kau ingin tetap tinggal di rumah ini dan ingin tetap memakan masakan Yuukaru setiap hari, kau harus bangun sebelum jam 9 pagi.
"Baiklah, baiklah!! Aku bangun!! Menyebalkan sekali," gerutu Ryugai sambil bangkit berdiri dan bersiap membereskan ranjangnya.
"Dasar otoriter."
————————————————————————————
"Huh?" Ryugai mengedarkan pandangannya ke sekeliling sembari duduk di kursi ruang makan. Sarapan telah tersaji dengan rapi di hadapannya. "Di mana Yuukaru?"
"Dia pergi dari pagi, sekitar jam 7. Bersekolah," ujar Otomura sambil duduk di kursi di hadapan Ryugai.
"Sekolah? Memangnya di desa ini ada sekolah juga? Kukira peradaban kalian tertinggal terlalu jauh dari peradabanku," sahut Ryugai sambil mengelap sendok dan garpunya.
"Enak saja. Di sini juga ada sekolah, walau hanya satu. Sekolah Sihir Zanz atau Akademi Sihir Zanz merupakan sekolah pertama dan satu-satunya yang terletak di desa ini. Aku adalah lulusan dari akademi itu juga. Jurusanku adalah teknik sihir perburuan dan pertarungan, dengan sub-kelas penyerang jarak jauh dan tipe sihir panah. Setiap anak dari penduduk yang mampu dikirim ke sana sejak umur tujuh tahun dan baru lulus setelah berumur tujuh belas tahun. Jurusan di sana terbagi menjadi delapan. Satu jurusan wajib dan tujuh jurusan minat bakat. Jurusan wajibnya adalah sihir dasar seperti sihir komunikasi dan inventory, sementara jurusan minatnya adalah teknik sihir perburuan dan pertarungan, sihir arsitektur, sihir medis, flora dan fauna sihir, sihir farmasi dan kimia, teknik sihir pertanian, dan teknik sihir penempaan. Teknik sihir perburuan dan pertarungan terbagi menjadi sihir jarak dekat seperti sihir pedang, sihir gada, dan sebagainya serta sihir jarak jauh seperti sihir panah dan sihir tongkat."
"Begitu ..., tak jauh berbeda dengan di negeri asalku, ya ...." Ryugai mendengarkan penjelasan Otomura dengan antusias sembari memotong irisan daging dengan garpu dan sendok. "Tapi di negeri asalku, penempaan dan semua aktivitas tidak menggunakan sihir. Dengan kata lain, kita harus meningkatkan suhu api dengan usaha kita sendiri."
"Pasti susah dan melelahkan sekali, ya. Di sini, kau hanya perlu mengkonsentrasikan energi sihir elemenmu dan suhu api akan meningkat drastis. Karena itulah, salah satu syarat untuk masuk kelas sihir penempaan adalah memiliki elemen api." Otomura berucap sambil memasukkan sesendok nasi dan potongan kecil daging ke dalam mulutnya.
"Ugh!! Pusing!! Padahal ini hanya game VRMMORPG!! Developernya suka sekali sih, sama yang rumit-rumit!!" batin Ryugai.
"Enam belas tahun," sahut Ryugai.
"Kalau begitu, masih sempat!!"
"Tapi, kenapa aku harus mendaftar ke sana?" tanya Ryugai. "Tanpa sihir sekalipun, aku masih bisa mengandalkan akurasi dan kecepatan gerakku."
"Kalau suatu saat kau perlu menggunakan sihir dan aku tidak ada di sampingmu, bagaimana?" tanya Otomura.
"Iya juga, sih ...," gumam Ryugai.
"Ngomong-ngomong ..., kenapa kau menanyakan soal Yuukaru?" Ekspresi yang tampak jahil dan menyebalkan terukir di wajah Otomura. "Kau suka sama dia, ya?"
"Bukan begitu, bodoh!!!" bentak Ryugai. "Mana ada yang suka dengan gadis cerewet seperti dia!!"
"Ah, ya. Ke mana Kakek Yurato?"
"Pergi meneliti tanaman lagi. Kakek lulusan kelas flora dan fauna sihir di Akademi Sihir Zanz, lho."
"Jangan bilang dia lupa membawa bekal lagi ...."
"Sepertinya, sih, begitu. Bekalnya masih ada di tempat."
"Dasar pikun ...."
To be continued
Next Chapter:
Day 4-5: Hari Pertama di Akademi Sihir