Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 62: Motivasi yang Aneh



Matahari mulai beranjak naik, meninggalkan cakrawala. Langit malam yang berwarna biru tua perlahan mulai digantikan oleh langit fajar yang berwarna kemerahan. Cahaya matahari yang berwarna kemerahan itu menimpa hutan tempat rumah Senshi dan Yamarashi berada. Udara masih terasa sejuk, tapi sudah tak sedingin udara di malam hari. Di bawah dedaunan rimbun milik sebuah pohon yang terletak di dekat sisi rumah yang menghadap timur, tampak Senshi sedang berdiri dan menunggu seseorang. Wajahnya dengan jelas menunjukkan bahwa dia tidak datang ke tempat itu secara sukarela.


"Dia mau bicara soal apa, sih?" gerutu Senshi sambil mengetuk-ngetuk rerumputan dengan ujung alas kakinya. "Kuharap dia tidak menyuruhku datang kemari untuk membicarakan hal yang tidak penting."


"Maaf, aku sedikit terlambat," ucap Yamamura yang baru saja datang sambil meraba bagian belakang kepalanya. "Aku bangun agak kesiangan tadi."


"Dasar. Padahal kau sendiri yang kemarin mengingatkanku supaya tidak terlambat bangun." Senshi menggerutu sekali lagi. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Katakan dengan cepat."


"Baiklah," sahut Yamamura.


Keduanya duduk bersila. Tubuh dan rambut mereka tertiup angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.


"Jadi, Senshi. Aku sudah mengetahui semuanya. Tentang masa lalu keluargamu, tentang kedua orangtuamu, dan tentang tragedi itu. Aku ingin menyampaikan-"


"Baiklah, sudah cukup."


Belum sempat Yamamura menyelesaikan kalimatnya, Senshi sudah lebih dulu bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya.


"Hei, tunggu!!" seru Yamamura. "Aku belum selesai bicara!!"


"Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan, Yamamura," ucap Senshi dengan wajah yang terlihat agak kesal. "Pasti Kak Yamarashi yang memberitahukannya kepadamu, 'kan? Kadang aku heran, kenapa dia selalu terlalu baik dan terlalu membuka diri kepada orang yang baru saja dikenalnya?"


"Aku minta maaf karena sudah ikut campur dalam hal-hal yang mungkin bersifat pribadi bagimu, tapi-"


"Kau tidak perlu melanjutkan pembicaraan kita, Yamamura." Senshi memotong ucapan bocah adventurer berambut emas itu sekali lagi.


"Kau memintaku datang beberapa menit sebelum matahari terbit. Tempat pertemuan kita adalah tempat teduh di bawah pohon di dekat sisi rumah yang menghadap ke arah timur, yakni arah matahari terbit. Artinya, kau ingin ******* pembicaraan kita berlangsung saat fajar tiba dan di tempat yang menyajikan pemandangan matahari terbit, 'kan? Dari kalimat pembuka yang kau lontarkan, aku sudah bisa memprediksi topik pembicaraan apa yang akan kau sampaikan."


"Yamamura .... Kau ingin berusaha menghiburku, 'kan? Itu yang biasanya dilakukan oleh mereka yang belum memahami kenyataan pahit dari dunia ini, menanamkan optimisme dan pikiran positif yang tidak berguna ke dalam diriku. Anehnya, kakakku yang sudah menanggung penderitaan bersamaku selama ini pun masih belum mengerti juga tentang hal ini."


"Adventurer hebat dan cerdas sepertimu ..., apa juga pernah merasakan perasaan yang setiap hari aku dan kakakku rasakan?"


"Perasaan lemah dan tidak berdaya yang sangat menyebalkan. Sensasi ketika harapanmu dihancurkan berulang kali. Perasaan kesepian yang memuakkan. Rasa tidak adil yang muncul karena kau selalu dikelilingi malaikat-malaikat maut yang siap mencabut nyawamu serta nyawa orang-orang di sekitarmu, padahal kau tidak berbuat salah. Apa kau pernah merasakan semua itu?"


"Dulu, aku sempat berpikir kalau dunia ini telah mengkhianatiku. Berulang kali aku berharap, berdoa, dan berjuang. Tapi, semua itu tidak pernah membuahkan hasil. Kemudian aku sadar. Bukan dunia ini yang mengkhianatiku, tapi akulah yang telah berharap terlalu tinggi sehingga melakukan hal-hal yang sia-sia. Dunia ini hanya menjalankan tugasnya. Ketidakadilan dan kekejaman sudah menjadi sifat alami baginya."


"Itu tidak benar," ujar Yamamura.


"Aku tahu. Kau pasti akan berkata: 'Dewa tidak akan membiarkan ciptaan-Nya menderita sendirian' atau semacamnya, 'kan? Sayangnya, kurasa pada titik ini bahkan Dewa sendiri sudah tidak peduli kepada kami. Kedatanganmu memang menyelamatkan kami untuk semalam, tapi setelah kau pergi, kekacauan itu pasti akan kembali. Rasa sakit dan penderitaan tak bisa lenyap dari kehidupan semudah itu."


"Orang yang selalu berpikiran positif seperti kau dan kakak pasti tidak akan bisa memahami cara kerja dunia ini. Kalian selalu menutupi luka-luka dengan positivisme yang dipaksakan demi memberi 'makna' pada hidup kalian."


"Aku ...."


Yamamura tak melanjutkan kata-katanya. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dalam bayangan. Suasana hening selama beberapa menit, hanya diisi oleh kicauan burung. Yang terjadi selanjutnya adalah peristiwa yang cukup mengejutkan. Bukannya mencoba mendebat Senshi, Yamamura justru tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum? Kau mau menertawakanku?" tanya Senshi dengan wajah heran.


"Maaf karena mungkin aku sudah meremehkan penderitaanmu. Harus kuakui bahwa orang-orang seringkali meremehkan kegelapan dan rasa sakit yang ada di dalam diri mereka dan diri orang lain. Bahkan orang-orang yang telah menanggung terlalu banyak kegelapan pun melakukan hal yang sama. Mereka berpikiran terlalu positif sampai tidak menyadari bahwa mereka sedang berada tepat di depan jurang. Tidak jarang mereka juga tanpa sadar menyeret orang lain mendekati jurang itu."


"Yah, ada banyak hal yang bisa membutakan mereka sampai tidak sadar akan keberadaan bahaya, kehancuran, dan kenyataan pahit di depan. Entah apakah itu keluarga, harapan kepada Dewa, teman-teman, orang yang dicintai, prinsip keadilan โ€” baik keadilan bagi diri kita sendiri maupun keadilan bagi semua orang โ€”, impian, atau jiwa pantang menyerah dan semangat api yang terus berkobar. Mereka harus mengikatkan diri pada sesuatu, untuk memaksa diri agar terus bergerak. Pada dasarnya, kita terus bergerak maju karena kita semua adalah budak bagi sesuatu yang menjadi pegangan hidup kita masing-masing. Meski ada juga yang melawan arus dan melepaskan semua pegangan itu seperti dirimu."


"Aku hanya ingin menyampaikan satu pesan ini kepadamu, Senshi. Hiduplah seperti tisu toilet."


Senshi mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Yamamura. Wajar saja. Siapapun pasti akan merasa aneh jika diberi pesan seperti itu.


"Kau sedang mengejekku?" ujarnya.


"Tidak, bukan begitu," sahut Yamamura. "Contoh yang kuambil memang agak absurd karena tisu toilet selalu dianggap sebagai benda kotor dan tak pernah dihargai, tapi justru di situlah poinnya."


"Tisu toilet tak pernah mengeluh atau menyerah, meski tak pernah dihargai dan selalu dianggap sebagai sesuatu yang kotor. Sejak pertama kali dipasang, dia hanya bisa melihat teman-temannya berakhir di tempat sampah satu-persatu dan menunggu giliran dirinya dibuang ke tempat sampah karena kondisi kotor yang bahkan tidak disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Dia mengorbankan dirinya untuk menjaga kebersihan kita, para manusia. Tak peduli bagaimana pandangan kita terhadapnya, dia akan terus berjuang dan menunggu dengan penuh kesetiaan."


"Tapi, tisu toilet adalah benda mati," sanggah Senshi. "Tisu toilet tidak bisa merasakan sakit atau mengeluh. Berhentilah menghumanisasinya dengan perumpamaan yang konyol itu."


"Ucapanmu itu memang benar. Namun, terkadang kita juga bisa mendapatkan nilai-nilai kehidupan yang dalam dari mereka yang tidak bernyawa, bahkan jauh lebih dalam daripada nilai-nilai yang kita dapatkan dari mereka yang bernyawa." Yamamura berujar.


"Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapanmu itu." Senshi mengerutkan keningnya sekali lagi.


"Suatu saat, kau pasti akan memahaminya." Yamamura menepuk pundak Senshi, kemudian melangkah pergi. "Ayo, kita sarapan dulu."


"Kau tidak akan mencuri makananku lagi, 'kan?"


"Enak saja!! Waktu itu, 'kan, aku memakannya karena kelaparan dan tidak tahu kalau itu milikmu!!"


"Alasan. Mengaku saja kalau kau punya jiwa pencuri seperti kawanan Dire Wolf itu."


"Jangan sembarangan menuduh, ya!! Yang kemarin itu cuma ketidaksengajaan, tahu!!"


Matahari semakin meninggi, seiring dengan bertambahnya jumlah langkah kaki kedua remaja itu. Udara semakin menghangat dan cahaya kemerahan makin memenuhi langit. Burung-burung terus berkicau dengan merdu, menyambut Sang Fajar. Awan-awan melintas dengan perlahan, bagaikan sekumpulan siput yang menyamar sebagai gumpalan-gumpalan kapas.


"Sebenarnya ..., pesan apa yang ingin adventurer ini sampaikan kepadaku?" batin Senshi.


To be continued


Halo, author kembali setelah hampir setengah tahun menghilang ๐Ÿ—ฟ Ternyata mendapatkan niat menulis itu lebih sulit daripada mencari waktu menulis saat masa ujian kelulusan, ya ๐Ÿ™ƒ Ujian kelulusan sudah beres, UTBK sudah beres pada awal Juni kemarin, eh malah kemalasan yang menyerang.


Semoga ke depannya author bisa mendapatkan niat menulis yang cukup untuk kembali rajin update.


Dah, gitu aja. Mohon maaf sudah membuat kalian menunggu sangat lama, dan sampai jumpa di chapter berikutnya :3 Bye bye!!


Yamamura: Kok tumben nih author gak banyak basa-basi?


Senshi: Entahlah. Mungkin kehilangan semangat hidup karena kebanyakan nolep ketika liburan.