Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 44: Memori dari Dua Belas Tahun Lalu



Sang Rembulan menggantung dengan damai di langit malam yang gelap. Wajahnya yang hampir purnama memancarkan cahaya kelabu yang cukup terang meski tak seterang cahaya Sang Surya, mengakibatkan sebagian besar bintang menjadi tidak terlihat. Hampir seluruh lampu di dalam rumah-rumah sudah dimatikan karena kebanyakan dari penghuninya sudah tidur. Hanya lampu-lampu teras dan beberapa lampu jalan yang masih menyala. Angin malam berhembus perlahan, meniup daun-daun pohon hingga bergoyang pelan. Di tengah suasana remang-remang dan suara-suara serangga malam, seorang pria berambut biru acak-acakan tampak sedang berdiri menerawang ke luar jendela kamar. Walau malam sudah cukup larut dan istrinya sudah tertidur lelap tak jauh darinya, pria itu tampaknya masih belum rela melepaskan pandangannya dari Sang Langit. Lelaki tersebut tak lain dan tak bukan adalah Ryugai.


Waktu yang tadinya seakan berjalan selambat siput baginya kini terasa berlalu secepat cheetah yang tengah berlari dalam kecepatan maksimum. Pergantian pagi menjadi siang, siang menjadi sore, dan sore menjadi malam sama sekali tak terasa olehnya. Mungkin ini pengaruh dari perubahan pola pikirnya?


"Ternyata benar. Jika kita melakukan suatu hal dengan hati yang bahagia, maka waktu akan seolah berjalan dengan cepat. Begitupun sebaliknya. Jika kita melakukan suatu hal dengan berat hati, maka waktu akan seolah berjalan dengan sangat lambat," ucapnya dengan suara lirih sembari tersenyum.


"Yah ..., kurasa aku harus sering-sering memastikan bahwa cahaya harapan di dalam diriku masih ada, agar aku bisa terus berjalan di dalam kegelapan tanpa kehilangan arah."


"Ah, ya. Aku harus pergi bekerja besok. Kalau tidak segera tidur, bisa-bisa aku telat. Aku kepala pantinya, sih. Sekalipun aku terlambat, takkan ada yang berani memarahiku. Tapi, aku bukan tipe orang yang suka menyalahgunakan jabatan, jadi sebaiknya aku cepat tidur saja. Lagipula bukankah seorang pemimpin harus menjadi teladan bagi mereka yang dipimpinnya?"


Ryugai bergegas menutup tirai jendela. Ia berbalik arah dan sejenak menatap wajah istrinya, Yuukaru, yang sedang tertidur pulas sambil mendengkur pelan. Meski sudah agak berumur, kecantikannya sama sekali tak luntur, apalagi saat sedang terlelap seperti ini.


"Yah ..., kurasa yang namanya istri, kecantikannya tidak akan hilang ditelan waktu." Ryugai menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Tanpa sadar, dia kembali menyunggingkan senyum. "Pengecualian bagi para lelaki yang tidak setia. Oh, tentu saja aku bukan tipe pria seperti itu."


Direbahkannya tubuhnya di kasur. Dia berguling mencari posisi yang paling enak untuk tidur, kemudian memandang lantai kamar yang ditimpa cahaya temaram dari bulan. Sosok putranya, Yamamura, tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia tersenyum sekali lagi sebelum akhirnya memejamkan kedua matanya.


"Yamamura ..., Ayah percaya kau pasti bisa melakukannya ... dengan tanganmu sendiri ...."


Tak butuh waktu lama bagi Ryugai untuk terlelap dan memasuki dunia mimpi. Kilasan memori dari masa lalu terproyeksi dalam mimpinya bagai sebuah film virtual-reality. Memori dari dua belas tahun lalu, tepatnya pada hari kelahiran putra sulungnya. Memori yang memberinya semangat untuk hidup sekaligus mengingatkannya tentang arti dari nama 'Yamamura'.


To be continued


Author: Ha-Halo *ngintip dari balik tembok, kemudian melangkah perlahan ke hadapan readers* Mohon maaf karena novel ini sudah dua bulan tidak upda- *tadinya mau membungkuk dengan hormat tapi keburu ditimpukin readers pakai buah-buahan*


Readers: DI-DROP AJA NIH NOVEL SEKALIAN!!! GAUSAH DILANJUT!!!


Author: Yah, jangan, dong. Nanti saya ga bisa jadi novelis terke- *ditimpuk readers lagi*


Readers: Okelah.


Author: Jadi, penyebab saya tidak update selama 2 bulan adalah karena kesibukan sehari-hari, UAS, persiapan KSN, dan ....


Readers: Dan ...?


Author: Males update. Hehe *ditimpuk readers lagi*


Readers: KAU PIKIR ITU PANTAS DISEBUT SEBAGAI ALASAN, WAHAI AUTHOR?!


Author: Hei. Itu, 'kan, bukan satu-satunya alasan 🗿


Readers: SAMA AJA!!!


Author: Beda, dong.


Readers: SAMA!!!


Author: Dah, lah. Daripada ribut ga jelas mending saya closing 🗿 Terima kasih sudah membaca chapter ini dan jangan lupa tinggalkan jejak kedatangan kalian. Bisa berupa kritik, saran, komentar, rate, like, maupun vote. Sampai jumpa di chapter berikutnya!! Bye!!


Author: Oh, iya. Karena urusan sekolah sudah hampir selesai semua (tinggal classmeeting, pemilihan ketua OSIS, dan bagi rapot), maka saya akan usahakan supaya rajin update.


Readers: Beneran, ya? Jangan kasih janji kosong doang kayak playboy.


Author: Iya, beneran. Gak percayaan amat, dah _-"