
"Apa-apaan sinar ini?!" ketus Ryugai ketika cahaya mentari yang menyilaukan menerpa matanya yang masih terpejam. Sensasi-sensasi aneh yang terasa di tubuhnya telah hilang. "Ini masih di dalam kapsul, 'kan? Jangan-jangan, para polisi itu sedang melakukan sesuatu terhadap kapsul ini?!"
Dengan kesal, Ryugai membuka matanya. Yang ia dapati selanjutnya adalah keterkejutan karena tubuhnya tengah terbaring di rerumputan hijau, dipayungi oleh dedaunan dari pohon-pohon rimbun yang melindunginya dari teriknya Sang Surya.
"Apa ini?!" Ryugai terperanjat dan langsung bangkit menuju posisi duduk. Di sekelilingnya, yang tampak hanyalah hutan dan rerumputan. "Ja-Jangan bercanda!! Polisi itu memberiku hukuman pembuangan secara online ke hutan virtual?! Atau mungkin bisa lebih parah lagi. Sial, kuharap tidak akan ada kiamat meteor yang datang setelah ini. Sebenarnya, para polisi itu merencanakan apa?! SIALAN!!" geramnya. "Saat aku kembali ke dunia nyata, akan kubunuh mereka!!!"
"Pemberitahuan: Anda sedang berada di dunia Purity Online. Waktu maksimal anda di dunia ini adalah 9 minggu di dunia Purity Online, yaitu 9 jam di dunia nyata." Suara layaknya mesin penjawab telepon itu kembali terdengar di telinga Ryugai, membuat pemuda itu berdecak kesal.
"Apanya yang 'Purity Online?!' Aku disuruh main game seperti bocah?!" sergah pemuda berambut biru acak-acakan itu. "Dan lagi, siapa kau? Kalau sekarang kita sedang bertemu fisik, pasti sudah kutikam tubuhmu dari tadi!! Dan, waktu maksimal, huh?! Kuharap setelah waktu itu tiba aku bisa kembali ke bumi. Aku ingin cepat-cepat keluar dari dunia ini!!"
Di tengah kekesalannya, kedua mata Ryugai menangkap sosok seekor kelinci yang tengah lengah dan berada cukup jauh darinya. Dengan cepat, ia mengedarkan pandangannya mencari senjata. Pandangannya menangkap sebuah batu besar. Kedua matanya bersinar penuh hawa membunuh. Ia menjilat bibirnya. Dengan hati-hati dan dalam diam, pemuda itu mengambil batu besar tadi dan menggunakannya untuk membidik kelinci yang malang tersebut.
"Berbulan-bulan memang sudah berlalu sejak terakhir kalinya aku membunuh ...," ucapnya dengan tatapan tajam dan bengis. Naluri pembunuhnya telah bangkit.
"Namun ...."
"Aku ... masih seorang pembunuh!"
Dengan cepat, Ryugai melemparkan batu itu ke arah kelinci tadi, dan berhasil mengenainya dengan telak!! Melihat itu, Ryugai tersenyum puas.
"Hebat. Ternyata naluri pembunuhku masih ada," ucapnya dengan bangga. "Sekarang tinggal membuat api unggun."
"A-Anu ..., maaf ...." Sebuah suara yang renta tertangkap oleh telinga Ryugai.
"Boleh aku meminta makananmu? Aku datang ke pedalaman hutan ini untuk meneliti tumbuhan langka yang katanya ada di suatu tempat di tengah hutan ini, tapi aku lupa membawa bekal. Perutku sudah lapar sekali. Aku sudah tak sanggup lagi berjalan kembali ke rumah untuk mengambil bekal. "Bolehkah ..., aku menumpang makan di sini ..., bersama denganmu? Tolong, anak muda," ucapnya memelas sembari mengelus-elus perutnya. Suara keroncongan terdengar dengan nyaring dari bagian dalam perutnya. Benar-benar nyaring, hingga mampu terdengar oleh Ryugai.
"Mungkin aku harus membunuhnya. Tapi ..., bagaimana, ya .... Satu kelinci bakar utuh tak mungkin kumakan sendirian. Lagipula, mungkin dia tahu di mana desa atau kota di sekitar sini. Ada untungnya juga aku tidak membunuhnya, Jika aku membiarkannya hidup sekarang, aku akan bisa menemukan kota atau desa dan menjarah habis serta membunuh seluruh penduduknya." Ryugai bergumul di dalam batinnya. Beberapa detik kemudian, akhirnya ia memutuskan.
"Boleh, Pak Tua. Tapi sebagai gantinya, kau harus memberitahu kepadaku kota atau desa di sekitar sini," ujar Ryugai.
"Oh. Kau butuh tempat tinggal? Kalau begitu kau bisa tinggal di desaku. Aku punya satu kamar kosong di rumah. Terima kasih banyak, anak muda," ucap pria tua itu sambil tersenyum senang. "Ngomong-ngomong, jangan memanggilku Pak Tua. Tidak sopan, tahu ...."
"Lalu kau mau dipanggil apa?" ujar Ryugai acuh.
"Tentu saja dengan namaku," ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya yang keriput. "Namaku Yurato. Panggil saja aku Kakek Rato. Namamu?"
Ryugai menerima uluran tangan itu. "Ryugai," ujarnya masih dengan wajah datar dan nada dingin.
To be continued
Wah. Keadaan berbahaya sekali bagi Kakek Yurato. Apakah Ryugai akan membunuh Yurato-san dan membakar habis seluruh desa sesampainya mereka di desa? Atau akankah kehangatan hati Kakek Yurato mengusir naluri pembunuh dari hati Ryugai? Saksikan di chapter selanjutnya, yakni Day 1 (Part 2): Kehangatan Desa Arafubi.
Sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan dan sampai jumpa di chapter selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa kritik, saran, vote, dan comment, Bye!!!
-Author