
Dua hari setelah percakapan antara Ryugai dan Otomura ....
Matahari belum lama terbit. Warna kebiruan baru saja memadamkan warna kemerahan di waktu fajar. Ryugai berdiri sambil menatap bangunan raksasa yang berdiri kokoh di hadapannya. Tampak cukup megah dengan pemuda-pemudi bersetelan sama berlalu-lalang di halaman. Ia telah berhasil melewati tes masuk Akademi Sihir Zanz kemarin. Baginya, soal-soal itu tak terlalu susah. Tentu saja, sebab ia sudah belajar mati-matian malam sebelumnya. Lagipula, sebenarnya dulu Ryugai adalah anak yang cukup berprestasi, baik dalam pelajaran maupun olahraga. Ah, ya. Sesuai dengan pekerjaannya, Ryugai memilih kelas Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan.
"Ini dia. Hari pertamaku bersekolah," ucapnya. "Kuharap tidak ada senioritas, perundungan, atau semacamnya di sini. Kalau tidak salah ..., dalam pembagian kelas kemarin ..., aku dapat Kelas HBM (Hunt and Battle Magic) 2-A, ya? Baiklah. Tak perlu berlama-lama. Nanti bel masuk keburu berbunyi."
Ryugai pun bergegas melewati gerbang, melintasi lorong, menaiki tangga, kemudian masuk ke kelasnya dan duduk di bangku yang masih kosong. Entah mengapa, pemuda itu merasa canggung dan terpinggirkan begitu melihat murid-murid yang asyik bercanda ria, sedangkan dia terlihat seperti siswa yang anti-sosial.
"Kenapa aku jadi canggung begini? Ini cuma sekolah dalam game!! Mungkin karena aku tidak pernah bersosialisasi dalam pelarianku untuk mereduksi kemungkinan ketahuan oleh polisi. Ah, sudahlah. Biar kelihatan keren, sok kalem saja."
"Maaf. Apa tempat duduk ini sudah ada yang punya?" Ryugai mencolek bahu siswa berkacamata berambut merah tua yang duduk di depannya.
"Huh? Belum, kok," ujarnya sambil menoleh ke belakang. "Di situ kosong. Eh? Kau anak baru, ya?"
"Sial. Dia bertanya kepadaku. Aku harus jawab apa?"
"'Ya!! Aku baru masuk hari ini, bro!! Salam kenal. Namaku Ryugai!! Yo!!' Ah, tidak. Nanti aku dikira sok gaul. 'Ya, benar. Perkenalkan, nama saya adalah Ryugai.' Tunggu, apaan itu?! Formal banget!!! Kayak orang mau ngelamar kerja aja!! 'Namaku Ryugai. Salam kenal.' Kalau aku mengatakan itu dengan wajah datar .... Tidak, ah. Nanti aku dikira sombong. Sialan. Ini cuma sekolah di dalam game!! Kenapa aku jadi bingung cuma karena memikirkan balasan salam? Apa kemampuan berkomunikasiku sudah hilang karena aku mengurung diri dari dunia luar selama masa pelarian?"
"Haloo? Kau baik-baik saja?" ucap siswa itu sambil mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Ryugai, bermaksud menyadarkan siswa itu dari lamunannya.
"Ya, aku baik-baik saja," sahut Ryugai. "Perkenalkan, namaku adalah Ryugai. Aku baru masuk hari ini."
"Begitu, ya. Semoga betah. Namaku Arai Yuzumatsu," ucap pemuda bernama Arai itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah. Ryugai menyambut uluran tangan itu dengan senyum ramah turut terukir di wajahnya.
"Huh? Murid baru, ya?" ucap seorang murid berambut hitam kelam yang bergaya acak-acakan sambil memasang tatapan mengintimidasi. "Kau bisa jadi budak baru yang bagus."
"Hei, jangan bersikap begitu kepada teman baru," tegur Arai.
"Siapa yang akan berakhir di rumah sakit? Aku dan dia, atau kau?" tanya Ryugai dengan tatapan menantang. Ia mengambil sebuah pulpen dari kotak pensilnya.
"Tentu saja kalian. Kalian pikir bisa menang melawanku?" ujar murid berambut hitam itu dengan ekspresi wajah yang menyebalkan. "Hei, anak baru. Kau pasti baru masuk ke akademi. Kau belum menguasai sihir, 'kan? Level kita berbeda jauh. Jangan harap kau bisa menang. Jangan gaya-gayaan, atau kau akan merasakan akibatnya!!"
"Siapa yang akan merasakan akibatnya?" ujar Ryugai.
Pemuda tadi langsung naik pitam. Tangan kanannya terkepal erat. Energi kegelapan berkumpul dan menyelimuti kepalan tangan tersebut. "Kurang ajar!!! Kau menantangku?!" bentaknya sambil melancarkan tinju berbentuk naga hitam. Secepat kilat, Ryugai menghindar hingga tinju itu mengenai kaca jendela dan memecahkannya. Dengan kecepatan gerakan yang luar biasa, pemuda berambut biru tersebut menyapu kaki murid tadi hingga terjatuh dan mengunci seluruh anggota tubuhnya. Ia menempatkan ujung tajam dari pulpen miliknya di leher murid berambut hitam itu. Hawa pembunuh terpancar kuat dari tatapan matanya.
"Jika seluruh anggota gerakmu terkunci begini, kau tak bisa mengeluarkan tnju naga kegelapan lagi, 'kan? Aku peringatkan kau, jika ini adalah pisau, aku bisa membunuhmu sekarang juga. Karena itu, jangan macam-macam lagi di kelas ini."
Ryugai melepaskan kunciannya terhadap tubuh pemuda itu, kemudian duduk di kursinya dan menaruh kembali pulpennya di kotak pensil. Sementara itu, seisi kelas beserta murid berambut hitam kelam tadi hanya mampu diam terpaku di tempat mereka. Bel masuk berbunyi, membuat seluruh siswa dan siswi langsung menempati bangkunya masing-masing.
"Ayah, ibu, kakak ...."
"Akhirnya ..., aku menemukan kegunaan yang tepat untuk bakat dan keahlianku ini ...."
"Bukan untuk merenggut nyawa orang lain dan memisahkan orang-orang dari keluarga tersayang dan teman-teman mereka ...."
"Melainkan ..., untuk menegakkan keadilan ...."
"Bukan hanya keadilan bagi diriku sendiri ...."
"Melainkan ..., keadilan yang sebenarnya ...."
To be continued