Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 36: Time Skip (Part 1)



Satu bulan telah berlalu. Karena masuk satu tahun lebih lambat dan bukan pada awal tahun ajaran, Ryugai agak keteteran karena ketinggalan pelajaran. Meskipun begitu, dengan otak jenius dan kemampuan hebatnya, ia bisa menguasai teknik-teknik sihir dua kali lipat lebih cepat daripada murid-murid seusianya. Hanya dalam waktu satu bulan, ia bisa mengejar ketertinggalannya dan menguasai pelajaran kelas satu sepenuhnya. Awalnya dia memang payah dalam sihir, tapi berkat kemampuan belajar dan adaptasinya yang hebat, kini dialah yang berada di posisi terdepan di antara teman-teman sekelasnya, baik di bidang teori maupun praktek sihir. Ngomong-ngomong, penjurusan baru diadakan pada waktu murid-murid berusia 15 tahun, sedangkan delapan tahun sebelumnya berisi pelajaran-pelajaran sihir dasar yang sebenarnya tak terlalu penting. Oleh sebab itu, Ryugai memilih untuk tidak mempelajarinya.


Lalu, bagaimana dengan sosialisasi? Mulanya memang Ryugai agak canggung, tapi karena sebenarnya dia anak yang mudah bergaul, ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah hanya dalam waktu setengah bulan. Apalagi pada hari pertama masuk saja pemuda ini sudah menunjukkan aksi kepahlawanannya dengan memberi pelajaran kepada si murid perundung menyebalkan, Genbu Mikazaki. Dalam waktu singkat saja namanya sudah melejit.


"Jadi, bagaimana ulangan tadi, Ryugai?" tanya Arai sambil meletakkan kotak makannya di meja milik Ryugai dan meletakkan kursi yang masih tak bertuan di samping meja, kemudian duduk di atasnya.


"Kau menanyakan soal nilai ulangan kepada Ryugai? Jawabannya sudah pasti A+ ...," ujar seorang siswa berambut oranye. Siswa berambut putih bersih mengekor di belakangnya.


"Benar juga," sahut Arai. "Kalau kau bagaimana, Akiyama?"


"Kali ini aku dapat lumayan," sahut sang pemuda berambut oranye yang ternyata bernama Akiyama. "B+"


"EH? B+?! KAU BERCANDA, 'KAN?" Pemuda berambut putih di belakangnya terperanjat. "Kalau Arai?"


"A," ujar Arai.


Seketika, pemuda itu langsung pundung di pojokan dengan aura keputusasaan menyelimuti udara di sekitarnya. "Kenapa cuma aku yang selalu dapat nilai jelek?"


Akiyama terkekeh. "Memangnya kau dapat berapa, Shiro?"


Pemuda bernama Shiro itu mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya dan membuka lipatannya, kemudian menunjukkannya kepada teman-temannya sambil tertunduk malu. "E ...."


"Hah? E?" ejek Akiyama. "Apa kau tidak belajar? Atau kondisi tubuhmu tidak fit saat ujian berlangsung?"


"Kalau C atau D, sih, masih mending," timpal Ryugai.


"Sudah, sudah. Semua orang memiliki bakat masing-masing," ujar Arai sambil menyendok potongan sayuran dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Eh!! Lepaskan!! Lepaskan!!! Aku hampir menumpahkannya!!! Nanti tumpah!!!"


"Hehehe, maaf ...," ucap Ryugai sembari melepaskan cekikannya.


"Kau ini .... Untung saja belum tumpah."


*kruuukk*


Bagai sebuah alarm, perut Shiro berbunyi nyaring. Lambungnya sudah protes minta dikirimkan makanan. Mendengar itu, Shiro tersenyum masam dan membalikkan tubuhnya, kemudian beranjak menuju kantin, meninggalkan meja dan kursi tersebut. "Tampaknya organ-organ pencernaanku sudah demo. Baiklah, aku pamit. Aku harus memesan makanan sebelum mati kelaparan."


"Dasar. Kalau masalah perut nomor satu," sahut Akiyama sambil melangkah menyusul Shiro. "Sampai jumpa," katanya sembari melambaikan tangan.


"Ya. Makan sana. Nanti kena penyakit maag," ucap Ryugai sambil turut melambaikan tangan.


"Huh? Maag? Penyakit apa itu?"


"Ah, lupakan saja."


"Aku lupa. Di dunia ini, teknologi dan pengetahuan medis belum semaju di duniaku," batin Ryugai.


"Oh, ya. Ryugai. Aku baca di papan pengumuman, katanya Turnamen Tahunan Wajib Maximus Potentia akan diselenggarakan tiga minggu lagi," kata Arai.


"Hm?" Kedua alis Ryugai terangkat, menandakan bahwa ada sesuatu yang menarik perhatiannya. "Turnamen Tahunan Wajib Maximus Potentia?"


To be continued