Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 10: Hadiah Terbaik



Kembali ke rumah keluarga Yuzumoto.


"10 menit lagi," ucap Yamamura sembari menatap jam dinding. "Apa mereka benar-benar lupa?"


"Ya sudahlah. Masih ada tahun depan, kakak. Semoga saja tahun depan mereka tidak lupa lagi," hibur Aojin.


"Baiklah." Yamamura bangkit berdiri dan menutup gorden jendela di dekat pintu, lalu melangkah meninggalkan ruang tamu. Namun, sebuah suara bel menghentikan langkahnya. Pintu masuk terbuka. Yuukaru dan Ryugai tampak tengah berdiri di ambang pintu. Tubuh mereka dibanjiri keringat.


"Ayah? Ibu?"


"Se-Sepertinya tepat waktu." Senyum terlukis di wajah mereka berdua.


"Yamamura ..., selamat ulang tahun ...."


Air mata mulai menggenangi sudut mata bocah laki-laki berambut keemasan itu. Ia tersenyum penuh haru.


"Rupanya kalian tidak lupa ..., ya? Ayah? Ibu?"


"Tidak juga," sahut Ryugai. "Sebenarnya, kami sempat lupa kalau hari ini hari ulang tahunmu. Lalu, kami bergegas pulang kemari. Untung saja ibumu punya skill akting yang bagus."


"Kami sempat panik. Kami pikir kami sudah terlambat untuk mengucapkannya, tapi ..., syukurlah ... kami tepat waktu ...."


"Ayah ..., Ibu ...."


"Umurmu sudah 12 tahun sekarang, huh?" Ryugai menggendong putra sulungnya itu. "Waktu begitu cepat berlalu, ya ...."


Aojin hanya memandang dengan senyum terukir di wajah. Menyadari itu, Yuukaru pun tersenyum hingga gigi-gigi putihnya terlihat, kemudian merentangkan tangannya.


"Kau mau juga?"


Aojin langsung merangsek ke pelukan ibunya, sementara Yamamura masih berada di dalam pelukan ayahnya.


"Oh, ya. Ayah juga sebenarnya sudah menyiapkan hadiah," ucap Ryugai sembari menurunkan Yamamura ke lantai. "Ayah hampir lupa memberikannya."


Ryugai menuju gudang, lalu mengobrak-abrik berbagai barang di dalamnya, bagai tokoh Doraemon yang sedang sembarangan mengobrak-abrik kantong ajaibnya saat panik.


*"Kenapa aku menyembunyikannya di bagian terdalam gudang, sih?” batin Ryugai. “Sekarang, 'kan, jadi aku sendiri yang kesusa-“ *Mendadak ia terbelalak.


*gedubrak!!*


Sebuah suara benturan yang lumayan nyaring terdengar, membuat Yuukaru bergegas menghampiri suaminya itu, diikuti oleh kedua putranya.


"Ryugai, apa kau baik-baik saja?!"


"Ayah?!"


"Aku baik-baik saja," sahut Ryugai. Dia keluar dari gudang dengan tubuh penuh debu sambil memegang sebuah bola elektronik berukuran cukup besar dengan kalung choker melingkar di bagian tengahnya. "Ini hadiahnya."


"Waaahh!!!" Kedua mata Yamamura berbinar-binar. "BeltSphere Virtual-Diver!!"


BeltSphere Virtual-Diver adalah sebuah virtual gear terbaru yang sedang naik daun di akhir abad ke-21 ini. Gear ini terbilang cukup aman karena didasarkan pada konsep perangkat VR fiktif Amusphere. Pengguna masih bisa merasakan ketika ada orang yang berusaha membangunkannya dari luar meski sedang melakukan dive. Gear ini hanya mengirim sinyal-sinyal elektrik palsu dari sel saraf ke otak serta menge-track sinyal-sinyal elektrik tertentu saja demi membantu kinerja game, sehingga para pengguna tidak perlu khawatir tragedi di film lawas Sword Art Online akan terjadi di dunia nyata.


Ryugai hanya tersenyum melihat anak laki-lakinya yang sedang dipenuhi kegembiraan. Pemandangan itu membuatnya bernostalgia. Ekspresi wajah putra sulungnya saat ini benar-benar mirip dengan ekspresi wajahnya 24 tahun yang lalu, saat ia masih berusia dua belas tahun dan pertama kali menerima hadiah hologram phone dari orangtuanya pada hari ulang tahunnya. Setelah lima tahun menjalani kehidupan yang bagaikan mimpi buruk, akhirnya kedua orangtuanya kembali seperti semula berkat kematian kakaknya. Mereka tak lagi cuek terhadap kebahagiaannya dan mulai memberinya hadiah di hari ulang tahunnya.


"Apa tidak apa-apa? Memberiku barang mahal seperti ini ...."


"Tidak apa-apa, Ryugai. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena selama ini kami sudah memperlakukanmu dengan buruk."


"Tapi ..., ini terlalu ...."


"Tidak apa, Ryugai. Hadiah ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan hadiah terbaik yang pernah kau berikan kepada kami."


"Huh? Aku? Tapi ..., kapan? Hadiah apa?"


"Kelahiranmu. Itu adalah hadiah terbaik yang tak ternilai bagi kami berdua."


Ryugai masih ingat betapa terharunya dirinya waktu itu. Setelah sekian lama, setelah kehilangan satu-satunya orang yang mengakui keberadaannya, akhirnya kedua orangtua kandungnya menghargai keberadaannya. Akhirnya mereka bersikap seperti orangtua yang seharusnya. Setelah sekian lama diabaikan, menjadi korban kekejaman dunia, disepelekan, dan dianggap sebagai sampah, akhirnya ada orang yang menganggapnya sebagai harta. Sebagai sesuatu yang berharga. Sesuatu yang harus dijaga. Sesuatu yang dicintai. Ya, setelah sekian lama, akhirnya dia mendapatkannya kembali. Kasih sayang orangtua yang seharusnya sudah dia dapatkan sejak dulu.


Pikiran Ryugai melayang kembali ke waktu kini. Dia melepas kedua anaknya dari pelukannya dengan perlahan dan lembut.


"Jangan lupa untuk berbagi waktu bermain dengan adikmu," ucap Ryugai.


"Tapi, Ayah ..., apa tidak apa-apa?" tanya Aojin. "Memberi kami barang mahal seperti ini ..., rasanya terlalu ...."


"Tidak. Ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan hadiah terbaik yang kalian berdua berikan kepada Ayah dan Ibu."


Kakak-beradik itu tampak kebingungan. "Hadiah terbaik?"


Ryugai tersenyum, lalu mengusap rambut kedua anaknya. "Kelahiran kalian berdua. Itu adalah hadiah terbaik yang tak ternilai bagi kami."


(Biar feelsnya nambah, silakan dengarkan lagu ini. https://youtu.be/0vTvKTfG7Wg)


Mendengar itu, Yamamura dan Aojin pun tersenyum penuh haru. Mereka merangsek ke pelukan Ryugai.


"Terima kasih, Ayah," ucap mereka berdua bersamaan.


Yuukaru turut tersenyum melihat adegan mengharukan itu. Sementara itu, di halaman rumah yang ditimpa cahaya jingga matahari senja, sepasang roh turut tersenyum melihat kejadian itu. Mereka adalah orangtua kandung dari Ryugai.


"Ayah lihat, 'kan?" Roh wanita membuka pembicaraan. "Ryugai, anak kita .... Dia sekarang sudah benar-benar dewasa ...."


"Ya," sahut sang roh pria. "Kita tak perlu mengkhawatirkannya lagi. Ayo pergi."


Secara tak sengaja, pandangan Ryugai menangkap sosok sepasang roh tersebut dari balik kaca jendela samping yang gordennya belum ditutup. Entah bagaimana, dia mampu melihat arwah kedua orangtuanya itu. Kedua mata Ryugai pun membelalak. Menyadari bahwa keberadaan mereka diketahui, sepasang roh itu pun tersenyum, lalu melambaikan tangan, membalikkan tubuh, dan menghilang entah ke mana bersamaan dengan lenyapnya berkas terakhir cahaya senja.


"Ada apa, Ayah?" tanya Aojin.


"Jangan bilang kalau kau melihat hantu," timpal Yuukaru.


"Tidak," sahut Ryugai. "Bukan apa-apa. Lupakan saja. Bagaimana kalau sekarang kita makan malam?"


"Setuju!!"


"Tunggu, Ryugai!! Kita, 'kan, belum mandi!!"


"Oh, iya!!"


"Ayah jorok."


"Hei, hei!! Kalian jangan berani-beraninya mengataiku, ya!!"


"Ampun, Ayah!!"


"Rasakan ini!! Jepitan kepiting!!"


"Sudah, sudah!! Berhentilah bermain-main."


"Selamat tinggal ..., Ayah ..., Ibu ...."


To be continued


Yaps kembali lagi bertemu dengan saya author di sini dengan chapter yang lagi-lagi dipenuhi oleh adegan sad *ditabok readers*


(Readers: TISU GUA ABIS SEKOTAK GARA-GARA LO, AUTHOR LACKNAD!!!)


Author: Lah, kok marah? :v Bagus, dong. Artinya character development dan chemistry di novel saya berkualitas.


(Readers: PALA KAO BAGUS!!! *jitak pala author pake kotak tisu*)


Author: kabur ah :p


(Readers: WOY JANGAN LARI!!!)


Author: *Sambil lari* Sekian untuk chapter kali ini dan terima kasih sudah membaca. Btw kalian habis tisunya berapa banyak? :v