Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Ketidakadilan (Part 1)



"Keluarkan aku dari sini!!!" Seorang gadis berambut keemasan sebahu berseru dengan suara nyaring sambil menggedor-gedor jeruji besi sel, yang tentu saja tidak ada gunanya dan hanya membuat para petugas kepolisian merasa terganggu. "Ini salah!!! Aku tidak menganiaya!!! Aku hanya membela diri!!!"


"Diamlah!!" hardik petugas polisi yang tengah berdiri di depan sel. "Semua saksi yang ada di sana mengatakan bahwa kau yang melakukan perundungan terhadap korban!! Jangan berusaha menutup-nutupi kesalahanmu sendiri dan memutarbalikkan fakta!!!"


"Justru dia yang memutarbalikkan fakta, Pak Polisi!!!" Gadis itu berseru sekali lagi. "Kumohon!! Percayalah kepadaku!!! Aku mengatakan yang sebenarnya!!! Aku tidak menganiaya gadis itu!! Percayalah!!!"


"Percuma saja berseru-seru begitu, nona. Cuma akan menambah berisik suasana." Sang pria berseragam polisi menatap dengan muak ke arah gadis berambut keemasan tadi. "Yang bisa kulihat dari kedua bola matamu sekarang hanyalah kebohongan."


"Kenapa kau terus berusaha menghindar dari kesalahanmu? Hadapilah kenyataan dan belajarlah darinya!! Jangan terus lari dari kenyataan. Aku pergi. Jangan berisik lagi, ya."


Si gadis terduduk di pojok ruangan sel. Kedua tangannya terkepal erat. Ditinjunya keramik lantai sel dengan gusar. Amarah sudah menguasai dirinya.


"Sial!!! Apa ini yang disebut sebagai keadilan?! APA INI YANG DISEBUT SEBAGAI HUKUM, BODOH?!"


"Palsu!! Semua bukti itu palsu!!! Pasti ada orang ketiga yang mengatur semuanya. Dan lagi ..., teman-teman sekelasku ..., kenapa mereka diam saja?! Apa mereka sudah disuap agar tutup mulut?! Dan kenapa kamera pengawas hanya menunjukkan adegan di mana aku memukul Yukiko?! Apa sudah disabotase?! Sial!!! Di manakah keadilan?!"


"Apa keadilan sudah ditelan oleh zaman?!"


Ditendangnya tembok sel dengan keras. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Air mata mengalir turun melintasi pipinya.


"Keadilan itu sampah!!! Kedamaian abadi itu tidak ada!!! Ini semua tidak ada gunanya!!! Tak ada gunanya!!! Sial. Seandainya saja aku diam saja waktu itu. Tapi, kurasa hasilnya akan sama saja. Jika diam, aku akan terus hidup di dalam penindasan. Aku mencoba menegakkan keadilan, tapi kenapa keadilan terus menjauh dariku?! Sialan!!!"


"Lagipula, luka yang kubuat tidak separah itu. Kenapa saat dia mengajukan tuntutan, wajahnya dipenuhi memar?!"


"Yukiko Asamura .... Aku tahu kalau dia membenciku, tapi aku tidak pernah mengira kalau dia akan berbuat sejauh ini."


————————————————————————————


Beberapa hari sebelumnya.


Sekarang adalah jam istirahat. Bel baru saja berbunyi dan Sang Guru baru keluar beberapa menit yang lalu. Setiap murid menikmati waktu luang mereka masing-masing. Ada yang memakan bekal mereka, ada yang bercanda ria dengan sahabat, ada yang bergosip alias gibah, ada yang mengobrol, ada yang bermain game, ada yang nobar (nonton bareng) di deretan bangku belakang kelas yang tentunya memiliki sensasi melebihi nonton di bioskop, dan ada pula yang iseng membuka-buka buku pelajaran karena bosan dan tidak membawa smartphone serta bekal. Sang gadis berambut keemasan sebahu tergolong ke kelompok pertama. Ia menyantap bekal yang dibawanya dengan tenang dan lahap.


“Hei!!!” Dengan kasar, seorang gadis berambut coklat yang diikat dengan gaya ekor kuda menghentakkan tangannya ke meja gadis berambut keemasan tadi yang sedang menikmati makanannya.


“Huh?” Sontak, si gadis berambut keemasan menghentikan kegiatan makannya dan menatap ke arah si gadis berambut coklat.“Yukiko ... Asamura? Ada apa?”


“Apanya yang ‘ada apa,’ Yuukaru?! Jangan cari muka di hadapan guru, bodoh!!!” seru gadis bernama Yukiko tadi.


“Aku tidak ingin dan tidak pernah mencari muka di depan guru,” sahut gadis bernama Yuukaru dengan tatapan yang mulai terlihat serius. “Kuharap kau menghentikan ini semua sebelum terjadi perang. Aku takkan tinggal diam diperlakukan seperti ini. Ini bukan yang pertama kalinya kau bersikap begini.”


“Hmph. Berperang, ya?” Yukiko tersenyum sinis.“Majulah, teman-teman.”


“Siap, Queen Yukiko.”


“Sepertinya kau harus diberi pelajaran.” Yukiko mengelus kepalan tangannya, kemudian mulai meninju wajah dan tubuh Yuukaru bertubi-tubi.


“Hentikan, bodoh!!!” seru Yuukaru. “Hentikan!!!”


“Diam, anak sok baik,” ucap Yukiko sambil terus meninju wajah Yuukaru. “Kalau kau tak ingin berakhir babak belur, berhentilah mencari muka. Dasar sampah.”


Pupil mata Yuukaru membesar. Kata itu seolah membangkitkan seorang iblis perkasa di dalam jiwanya. Kerutan pertanda amarah mulai timbul di dahinya. Wajahnya memerah. Kedua matanya menatap garang.


“Kau bilang ... AKU SAMPAH?!” Sambil menyemburkan amarahnya, Yuukaru memberontak dan melepaskan tangan kanannya dari kuncian salah seorang teman lelaki Yukiko, kemudian menahan kepalan tangan Yukiko dan memuntirnya perlahan. Yukiko pun mengerang kesakitan.


“A-Agh!! Argh!!!”


“Berhentilah melakukan itu atau lenganmu kupatahkan, mau?” ucap Yuukaru dengan nada dingin dan wajah datar. Ia kemudian melepaskan tangan Yukiko. Gadis berambut coklat itu terduduk di lantai.


“Kau!!” Dengan geram, Yukiko kembali berlari menuju Yuukaru dengan tinju teracung, tapi tinju itu berhasil ditahan. “Kau kurang ajar!!!”


“Sudah kubilang ....” Yuukaru melangkah mundur sambil terus menahan tinju Yukiko sampai akhirnya dia terpojok di tembok kelas.


“SUDAH KUBILANG HENTIKAN, SIALAN!!!” bentaknya sambil berlari dan mendorong Yukiko ke belakang, kemudian meninju wajahnya. Yukiko terduduk, memegangi pipinya yang memar.


“Kau ...!!” Salah seorang teman lelaki dari Yukiko mulai naik pitam. Dia berjalan ke arah Yuukaru dengan kedua tangan terkepal.


“Hentikan.” Yukiko merentangkan tangan kanannya untuk menghalangi jalan si murid lelaki. Dia bangkit berdiri.


“Kalau kalian menghajarnya, rencana kita takkan berjalan dengan mulus, ‘kan?” bisik Yukiko.


“Ah ..., benar juga ....” Teman lelakinya itu tersenyum licik.


Yukiko kembali mengalihkan pandangannya ke arah Yuukaru. Ditatapnya gadis tersebut dengan kesal. “Kali ini kau lolos, tapi lihat saja lain kali, sialan!!!”


Sementara itu, sisi lain dari diri Yukiko tengah tersenyum penuh kemenangan.“Lihat saja nanti, Yuukaru,” batinnya.


To be continued


Yap kok backstorynya serasa mirip film Pintu Berkah yak? 😂Kek sinetron indosiar wkwkwk. Makanya kubikin adegan pas Yuukaru ninju Yukiko itu bukan settingan, biar charanya ga terlalu ‘tak berdosa’ kayak di indosiar XD


Sekian untuk chapter kali ini dan terima kasih telah membaca. Sampai jumpa di chapter selanjutnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan comment!! ^^


-Author