Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Cincin Elemen Kenangan (Part 22)



Matahari sudah mulai tertarik ke cakrawala dan terbenam. Warna merah dan jingga mendominasi langit. Sesekali gagak-gagak melintasi langit sambil berkaok layaknya di film-film dan animasi. Cahaya mentari senja menimpa bulu-bulu mereka yang berwarna hitam kelam.


Salah satu gagak bertengger di atap gedung balai desa, di mana sebuah acara sedang berlangsung. Acara perpisahan antara sang tokoh utama, Ryugai Yuzumoto, dengan para penduduk desa. Ya, jika ada awal, tentu akan ada akhir. Seperti kata lagu. Datang akan pergi, lewat 'kan berlalu\~\~, ada kan tiada\~\~, bertemu akan berpisah\~\~. Hei\~\~ sampai jumpa di lain hari\~\~.


(Lirik lagu 'Sampai Jumpa' oleh Endank Soekamti)


(All rights of the song belongs to the original owners)


(*plak!!*


Author: Nih narator lagi-lagi ngacauin script, mau gua pecat lo?! >:v


Narator: Biar ada lucunya, thor. Masa sad terus, sih :"v Kasian readersnya tersiksa nanti pas baca.


Author: Udah cepet ulang!! Kalau ngacauin script lagi gaji kau aku kurangin!! >:v)


Gagak yang lain bertengger di pohon dekat jendela, memperhatikan dengan saksama kerumunan orang yang tengah duduk di dalam balai desa. Terlihat seorang pria paruh baya tengah berdiri di atas podium dan bersiap untuk menggunakan sihir pengeras suara. Ya, pria itu adalah Kakek Yurato.


"Selamat sore, rakyatku sekalian. Maksud saya mengumpulkan kalian semua di sini adalah karena sebentar lagi Sang Pahlawan yang kita cintai, yang telah dua kali menyelamatkan desa ini akan segera meninggalkan Desa Arafubi ini. Beliau mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu lama menetap di sini, jadi beliau akan kembali ke negeri asalnya malam ini juga," ucap Kakek Yurato. Sihir pengeras suara membuat suaranya menjadi lantang dan bergema ke segala arah. Pengumuman itu segera disambut oleh keterkejutan para penduduk desa.


"Hah?! Dia akan segera kembali?"


"Sayang sekali."


"Padahal dia hebat, lho."


"Yah ..., kalau itu demi kepentingannya sebagai seorang pengembara, kurasa tidak masalah."


"Jadi ...." Kakek Yurato melanjutkan ucapannya. "Sebelum meninggalkan desa, Ryugai ingin mengucapkan pidato terakhirnya kepada kita semua. Dipersilahkan kepada Ryugai Yuzumoto." Pria paruh baya itu melangkah, menjauh dari lingkaran sihir yang mampu mentransformasikan suara kecil menjadi suara nyaring. Prinsip kerjanya mirip dengan speaker.


Ryugai yang tadinya ada di belakang panggung pun mulai melangkah menaiki podium. Senyum terukir di wajah bintang dari acara ini tersebut. Mulutnya yang sedari tadi terkatup mulai terbuka. Sihir pengeras suara bergegas bekerja dan meningkatkan volume suara pemuda itu.


"Selamat sore, semuanya. Ya ..., seperti yang dikatakan oleh Pak Kepala Desa tadi, saya akan meninggalkan desa ini malam ini juga. Sebenarnya, saya ragu untuk kembali ke negeri asal saya, sebab desa ini menyimpan setumpuk kenangan yang amat berharga bagi saya. Namun, jika pengembaraan saya berhenti di sini, saya takkan bisa mewujudkan impian saya. Karena itu, saya harus terus maju."


"Ya, memang perpisahan itu pahit ..., tapi kita tidak bisa hidup tanpa perpisahan dan kesedihan. Saya sadar bahwa semua hal pahit itu adalah bagian dari hidup dan kita mau tak mau harus menerimanya. Karena jika tidak, kita takkan pernah bisa maju."


"Saya ingin berterima kasih kepada Kakek Yurato beserta keluarganya, teman-teman dan guru-guru saya di Akademi Sihir Zanz, serta seluruh penghuni desa yang sudah sangat ramah dan hangat kepada saya. Saya tidak tahu apa kita bisa bertemu lagi atau tidak. Saya juga tidak bisa memaksakan supaya kita bisa bertemu lagi. Saya bukan dewa. Saya manusia. Saya tidak bisa mengubah tulisan yang sudah ditulis di gulir takdir sesuka hati saya. Karena itu, hanya ada satu hal yang bisa saya lakukan, yakni terus maju dan percaya, sebab mungkin saja ada keajaiban yang bisa mempertemukan kita kembali."


"Akhir kata, terima kasih dan sampai jumpa. Jaga kesehatan kalian."


Tepat setelah itu, Ryugai menuruni podium dan kembali ke belakang panggung, di mana Otomura sudah menunggunya dengan senyum terukir di wajah, puas akan pidato Ryugai yang luar biasa. Ya, Otomura. Ryugai berhasil meyakinkannya untuk kembali ke dunia nyata. Walau agak susah meyakinkan pemuda yang satu itu.


"Kerja bagus, Ryugai," ucap Otomura sembari meraba bahu pemuda berambut biru acak-acakan itu.


"Ya, terima kasih," sahut Ryugai.


Mendengar namanya dipanggil, Ryugai pun menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Akiyama, Arai, dan Genbu sedang berlari ke arahnya. Setelah memberi salam kepada Otomura, ketiga pemuda itu pun menghadapkan badan mereka ke arah Ryugai.


"Kalian?"


"Tadi itu keren sekali, loh!!" Akiyama menepuk punggung Ryugai dengan keras. "Kata-katamu terdengar bijak sekali!!"


"Ya," ujar Arai sambil tersenyum.


"Terima kasih. Ngomong-ngomong, kenapa kalian ada di sini?" tanya Ryugai.


"Kami ingin memberikan sesuatu kepadamu," sahut Genbu. "Hadiah perpisahan."


"Hadiah perpisahan?" Alis Ryugai tertaut.


"Ya." Genbu merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan tiga buah cincin berhiaskan permata berwarna merah, oranye, dan hitam. "Ini."


"Hm?" Ryugai mengulurkan tangannya, kemudian mengambil ketiga cincin tersebut.


"Permata yang melekat di ketiga cincin ini kami buat dengan mengekstrak energi sihir kami sendiri. Dengan kata lain, ini adalah cincin elemen. Karena itu, cincin ini juga bisa berguna untuk perlindungan."


"Tapi, energi sihir takkan bisa bekerja di negeri tempatku berasal," sahut Ryugai.


"Yang berharga bukan kekuatannya, tapi kenangannya," ucap Akiyama.


"Benar juga," ujar Ryugai sembari memasangkan cincin itu satu-persatu di jari-jari tangan kirinya. "Cincin-cincin ini benar-benar bagus. Terima kasih."


"Ah, ada satu cincin yang ketinggalan." Genbu merogoh saku celananya sekali lagi, kemudian mengeluarkan sebuah cincin berhiaskan permata berwarna putih bersih. "Ini."


Kedua mata Ryugai langsung berkaca-kaca begitu melihat cincin elemen tersebut. Warna putih itu ..., jelas menggambarkan Shiro Airzaleif.


"Untung aku menyimpan sedikit kekuatan elemennya yang kucuri menggunakan teknik Absorb sewaktu kami berlatih tanding. Jadi, kami tetap bisa mengekstrak kekuatan elemen dari pemuda satu itu. Yah ..., dia memang penakut dan lemah. Dia juga pecundang. Meskipun begitu, dia tetaplah teman kita yang berharga."


"Huh. Jadi mereka belum bisa juga melupakan pemuda lemah yang satu itu, ya?" Ryugai membatin. Senyum haru terukir di wajahnya. Diambilnya cincin itu, lalu dipasangnya di jari kelingking tangan kirinya.


"Terima kasih."


To be continued


Next Chapter:


Day 63: Perpisahan (Part 23)