
Ada sedikit perubahan pada akhir chapter kemarin, jadi silakan dibaca ulang biar tidak kebingungan :3 Selamat membaca!!
----------------------------------------------------------------
Selama sekitar satu setengah jam, Ryugai dan Yuukaru duduk di pinggir danau, menikmati pemandangan yang melenakan hati dan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Sesekali mereka bermain dengan hewan-hewan kecil yang datang mendekat. Setelah puas mengagumi keindahan alam di danau tersebut, keduanya pun beranjak pergi dan pulang agar tidak membuat keluarga mereka khawatir. Namun, mendadak di tengah jalan Yuukaru menghentikan langkahnya.
"Hm? Ada apa?" tanya Ryugai. "Jangan bilang kau sudah lupa jalan pulangnya."
"Mana mungkin, bodoh!! Baru saja beberapa jam lalu aku mengantarmu pergi ke danau itu, dan kita tidak nyasar sama sekali, 'kan?" sahut Yuukaru.
"Lalu, kenapa kau berhenti?" Ryugai bertanya sekali lagi.
"Kurasa ... ada yang kelupaan ...." Yuukaru membalikkan badannya, kemudian berjalan menjauh. "Kau pulang duluan saja, ya. Aku harus kembali ke danau sebentar."
"Hei, kau ingin keluargamu membunuhku?! Ingat, kau sedang mengandung!!" ucap Ryugai dengan suara yang sedikit keras karena istrinya semakin jauh darinya. "Kalau terjadi sesuatu denganmu, aku tidak mau tanggung jawab, lho!!"
"Tenang saja!! Kau tunggu saja di jembatan yang tadi kita lewati!! Aku tidak akan lama, kok!! Kau sudah hafal jalannya, 'kan?!" seru Yuukaru dari kejauhan.
"Yaa!!" Ryugai menyahut dengan turut berseru.
"Dasar. Seenaknya saja," batin pria itu sembari berbalik dan melanjutkan langkahnya.
(Author: Saya jadi ngakak sekaligus nostalgia begitu melihat Ryugai yang dulunya galak kayak preman sekarang jadi takut sama keluarga mertua setelah nikah XD)
Pasangan itu pun berpencar. Ryugai melanjutkan perjalanan dan menunggu di jembatan yang terletak di perbatasan desa sebelah barat seperti yang diminta oleh istrinya, sedangkan Yuukaru pergi entah ke mana. Setelah tiga puluh menit berlalu, akhirnya wanita berambut emas tersebut menampakkan batang hidungnya lagi.
"Maaf agak lama," ucap Yuukaru sambil menghampiri suaminya yang tengah menunggu sambil melipat lengan.
"Urusanmu sudah selesai, 'kan? Ayo, kita pulang," ujar Ryugai sambil melangkah meninggalkan jembatan, diikuti oleh istrinya.
Mereka berdua pun pulang ke rumah, membersihkan diri alias mandi, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan oleh warga desa. Tentu saja dengan menghindari aktivitas berat, karena itu bisa membahayakan kandungan Yuukaru. Awalnya, semua itu terasa menyenangkan. Namun, sekitar jam lima sore, mendadak Yuukaru mengalami kontraksi yang hebat, membuatnya mengerang kesakitan.
"Akh!! A-Aaakkhhh!!!"
"Sepertinya dia mau melahirkan," ucap bibi dengan raut wajah yang tak kalah khawatir.
Wajar saja jika bibi menduga begitu, sebab kontraksi itu terjadi secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Melihat pola makan Yuukaru, sepertinya mustahil kontraksi tersebut disebabkan oleh makanan.
"Ada rumah sakit di sekitar sini?" tanya Ryugai.
"Tidak ada, tapi ada klinik kebidanan," sahut bibi.
"Ya sudah, ayo cepat!!" Dengan segera, Ryugai menggendong istrinya itu dan berjalan keluar rumah.
"Paman, tolong jaga nenek dan rumah, ya," pintanya sebelum pergi. Bibi bergegas mengikuti mereka berdua dari belakang.
Karena saat ini mereka sedang berada di pedesaan yang cukup terpencil, maka satu-satunya alat transportasi yang tersedia adalah jinrikisha (Becak Jepang yang mirip delman dan ditarik oleh manusia. Jin \= manusia. Riki \= tenaga / kekuatan. Sha \= kendaraan). Becak itu hanya muat untuk dua orang sehingga bibi harus mengikuti dari belakang dengan berjalan kaki. Klinik kebidanan yang dimaksud oleh bibi berjarak cukup dekat dari rumah sehingga hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke sana.
Begitu memasuki klinik, dokter dan bidan dengan sigap menangani Yuukaru. Tampaknya kualitas pelayanan di klinik tersebut cukup tinggi. Karena ini adalah klinik kebidanan, maka para anggota keluarga dapat dengan mudah menemani pasien. Saat ini, Ryugai dan bibi sedang berdiri mengelilingi Yuukaru yang sedang berjuang keras untuk melahirkan putra sulungnya dengan dibantu oleh dokter dan bidan.
Ryugai menggigit bibirnya. Ini adalah saat-saat yang sangat genting dan berbahaya, baik bagi istrinya maupun anaknya. Jika Yuukaru tidak bisa bertahan dalam proses ini, maka nyawalah yang akan menjadi taruhannya. Selain itu, usia kandungan Yuukaru baru 32 minggu, yang artinya bayi tersebut tergolong prematur. Itu bisa mengurangi kemungkinan selamatnya sang bayi. Pria itu tak siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dikepalkannya kedua tangannya erat-erat di samping jahitan celananya. Keringat dingin mengaliri tubuhnya. Erangan demi erangan yang terlontar dari mulut istrinya membuat waktu seolah melambat. Namun, ia berusaha untuk terus berpikir positif dan optimis.
"Tidak .... Pada saat-saat seperti ini, aku seharusnya menjadi orang yang menguatkan dan memberi semangat .... Selama kemungkinan sukses belum mencapai angka nol persen, masih ada harapan!!" batinnya.
Ditatapnya wajah istrinya lekat-lekat. Meski rasa takut dan khawatir masih menyelimuti hatinya, dia berusaha sekuat tenaga untuk menggempur ketakutan itu.
"Berjuanglah, Yuukaru!!!"
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 50: Mountain Village