Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 27: Curse of Christmas (1)



"Santa Claus?!"


Anak laki-laki berambut merah itu mencoba keluar, tapi ternyata pintu masuk sudah dikunci. Ketika si anak hampir kehilangan harapan, tiba-tiba ada seseorang yang meraba bahunya dengan lembut. Seorang pria dengan rambut, kumis, dan janggut putih serta pakaian serba merah. Ia memanggul buntalan besar berwarna hijau. Ya, dia adalah Santa.


"Kelihatannya para pengurus dan anak-anak lain di panti asuhan ini sudah tidur semua. Tidak ada yang menyadari kedatangan Santa." Yamamura berucap sambil melihat ke sekeliling.


"Tapi ..., apa yang kulihat sekarang ini bukan mimpi, 'kan? Santa Claus asli? Kukira itu cuma dongeng."


"Selamat Natal, Rudolf," sapa sang Santa kepada si anak beramhut merah.


"Rudolf?!" Yamamura terperanjat. "He-Hei .... Jangan-jangan ...."


"Aku paham. Jadi ini sebabnya aku dikirim kemari," ujar Yamamura sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Diletakkannya tangannya di atas dagu hingga menutupi mulutnya.


"Tempat ini ... adalah bagian dari ingatan masa lalu si monster rusa. Atau dengan kata lain, saat ini aku sedang berada di alam bawah sadarnya. Jadi, dulu dia pernah menjadi manusia?"


"Kau sudah menjadi anak yang baik tahun ini. Tidak ..., mungkin hampir setiap tahun. Bahkan malam Natal ini juga kau menungguku dengan setia, sama seperti Natal-Natal sebelumnya," puji Santa Claus.


"Ya. Aku sudah menunggumu dari tadi," sahut anak bernama Rudolf tersebut.


"Semua orang selalu menganggapmu tidak ada. Bahkan tadi teman-temanku menertawakanku saat aku menunggumu. Mereka bilang kalau aku cuma mengkhayal," keluhnya sambil mengerucutkan bibir.


"Kau tidak perlu menghiraukan ucapan mereka, Rudolf. Selama kau percaya, maka aku akan terus ada bagimu. Keajaiban Natal akan selalu ada," hibur Santa.


"Tapi ..., aku tidak yakin aku akan bisa selalu bersama denganmu," ucap Santa lirih dengan tatapan sendu. "Rudolf. Seiring kau beranjak dewasa, mungkin ... kau akan melupakan semua ini. Kau mungkin akan meragukan eksistensiku. Dan kau akan menjadi terus semakin jauh dari hari-hari bahagia ini."


(Author: Kasih deathflag, ah. Kita siksa chara satu ini, hehe XD


Rudolf: Mentang-mentang jadi author, nyiksa chara sembarangan!! >:v


Author: Lagi nulis dimarahin, ngajak berantem!!


Yamamura: Kamu, sih!!


Aojin: Lah kok jadi aku?


"Santa? Ada apa?" tanya Rudolf khawatir. "Kau terlihat sedih. Apa ada masalah?"


"Ah, tidak," sahut Santa. "Tidak apa, Rudolf. Oh, ya. Aku sampai lupa. Hadiah apa yang kau inginkan pada Natal kali ini?"


Senyum lebar terlukis di wajah Rudolf. Anak itu menimbang-nimbang apa yang hendak dimintanya.


"Aku ingin ...."


Tepat setelah ucapan itu terlontar, mendadak penglihatan Yamamura dipenuhi oleh warna putih bersih.


"Kau sudah melihat semuanya tadi, 'kan?" Sebuah suara berat terdengar. Itu adalah suara Rudolf dalam wujud monster rusanya.


"Iya ...," ujar Yamamura sambil menganggukkan kepalanya. "Jadi, dulu kau adalah manusia?"


"Ya ...," sahut suara tadi.


"Aku tumbuh besar tanpa tahu siapa orangtuaku. Yang kutahu, saat aku masih bayi, aku ditemukan oleh pengurus panti asuhan ini di depan panti. Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum itu. Aku juga tidak tahu apa alasan orangtua kandungku meninggalkanku di sana. Layaknya balita pada umumnya, aku memutuskan untuk mengabaikan semua pertanyaan itu dan bermain serta bersenang-senang selagi aku masih bisa. Pengurus dan pemilik panti sangat ramah kepadaku. Aku juga mendapat banyak teman yang luar biasa baik."


"Saat berumur 3 tahun, aku terbangun di tengah malam pada malam Natal dan melihat Santa Claus secara tak sengaja. Awalnya aku sedikit takut, tapi lama-lama aku semakin terbiasa karena Santa sama sekali tidak terlihat seperti orang jahat. Sejak itu, aku jadi dekat dengannya."


"Aku selalu menunggunya setiap malam Natal dan dia selalu memberiku hadiah, seperti yang kau lihat tadi. Ketika aku terbangun, hadiah yang kuminta sudah ada di bawah pohon Natal. Waktu terus berlalu. Aku dan teman-teman satu pantiku sudah duduk di bangku sekolah dasar. Kami mulai menyadari batas antara fantasi dan realita. Teman-temanku mulai beranggapan bahwa Santa itu tidak ada. Mungkin karena mereka tidak pernah melihatnya dan hanya pernah mendengar tentangnya dari cerita pengantar tidur yang dibacakan oleh pengasuh kami."


"Pola pikirku berbeda dari mereka. Aku terus bersikeras kalau Santa itu nyata, bahkan setelah masuk SD. Sama sekali tidak terlintas di benakku kalau Santa yang kulihat itu cuma mimpi atau imajinasi. Aku hanya ingin terus menikmati hari-hari Natal itu dan ingin Santa bersamaku selamanya. Aku ingin kebahagiaan itu terus bertahan selamanya."


"Aku selalu kegirangan setiap kali Natal datang, karena aku bisa bertemu lagi dengan Santa. Hari-hari Natal di masa kecilku selalu dipenuhi oleh keajaiban. Rasanya seperti masuk ke dalam dunia dongeng. Tapi ..., keajaiban Natal itu ternyata tidak bisa bertahan selamanya."


"Seiring berjalannya waktu, aku terus tumbuh dewasa dan keajaiban Natal mulai berubah menjadi kutukan Natal."


To be continued


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 28: Curse of Christmas (2)