Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 2: Sang Pahlawan (Part 4)



"Otomura, semengerikan apakah Minotaur ini?" tanya Ryugai.


"Sa-Sangat mengerikan ...." Wajah Otomura mendadak berubah pucat. "Dia pernah datang ke desa ini sebelumnya dan baru pergi setelah menghancurkan separuh dari desa ini. Kekuatannya luar biasa destruktif, dan kecepatan serangannya ..., setara dengan Mach 20!! Raksasa berkepala banteng dengan kedua mata merah menyala yang bagaikan sensor senjata. Setiap kali ada orang yang membawa senjata masuk dalam radius 10 meter darinya, maka pasti akan tewas hanya dalam waktu 0,5 detik. Kalaupun tidak tewas, minimal lengannya akan patah."


"Boss macam apa itu? Dia jauh lebih berbahaya dibandingkan last boss di game VRMMORPG yang pernah kumainkan sewaktu kecil dulu," batin Ryugai.


"Hei, Ryugai!! Sebagai petualang, kita juga harus membantu pasukan keamanan!! Kita akan menyusul ke sana dan berusaha mengalihkan perhatian Minotaur!!"


"Tidak, kau saja," ucap Ryugai sambil melangkah meninggalkan Otomura dan melambaikan tangannya ke kiri dan kanan sebagai tanda penolakan.


"Apanya yang 'kau saja?!' Ini demi masa depan dan keselamatan desa kita!!!" hardik Otomura.


"Desa kita? Ini desamu. Bukan desaku." Ryugai menoleh ke belakang. "Aku hanyalah pengembara yang kebetulan mampir di sini. Aku bukan penduduk, jadi keselamatan desa ini tidak ada sangkut-pautnya denganku."


"Apa maksudmu?! Ini desamu juga!!! Bukankah kami sudah banyak menolongmu?!" Urat kekesalan di dahi Otomura semakin tampak.


"Itu salah kalian sendiri. Aku tidak akan pernah membalas budi. Sekarang, sampai jumpa. Aku akan meninggalkan desa ini. Selamat menikmati melodi kehancuran dan kekacauan."


"CIH, TERSERAH!!!" Tak mampu menahan emosi lebih lama lagi, Otomura berseru dengan nada tinggi. Ia membalikkan tubuhnya, lalu melangkah sambil menghentakkan kakinya meninggalkan Ryugai yang tengah memandangi punggungnya. "MEMANGNYA SIAPA YANG BUTUH BANTUANMU?!"


"Sebenarnya, aku ingin membantumu, Otomura ...."


"Sayangnya, aku tidak mau melakukan hal yang sia-sia."


——————————————————————————————


"Meskipun tadi aku berkata begitu ..., kenapa hatiku terasa hampa, ya? Bukannya hatiku sudah mati sejak hari itu?" Ryugai berbicara kepada dirinya sendiri.


"Sialan .... Apa yang aku lakukan di sini? Seharusnya aku berlari sejauh-jauhnya dari desa ini. Bisa saja Minotaurnya menuju kemari. Siapa peduli dengan orang-orang desa? Mereka pasti hanya NPC. Tidak masalah kalau mereka mati."


"Tapi ..., mengapa sedari tadi hatiku memerintahkan tubuhku untuk menyusul Otomura ke medan pertempuran?"


Sesaat kemudian, Ryugai menyadari sesuatu. Kedua matanya membelalak lebar.


"Mungkin ... karena ... aku mencintai desa ini ...."


"Mereka berbeda dari orang-orang busuk di bumi .... Mereka sudah menolongku .... Mereka menghiburku ..., mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk membantuku .... Mereka ..., menghidupkan kembali hatiku yang telah mati dan membeku."


Ryugai tersenyum, kemudian bangkit berdiri. Ia mengambil busur yang tergeletak di rerumputan tepat di sebelah kanannya. "Jadi ..., ini tujuan game bernama Purity Online ini dibuat?"


"Aku memang tidak memiliki ikatan apa-apa dengan mereka .... Aku bukan siapa-siapanya mereka ..., tapi ...."


"Lebih baik lakukan sekarang daripada menyesal selamanya!!! Kuharap masih sempat!!!"


Ryugai berlari secepat yang ia bisa, menyusul Otomura dan pasukan keamanan beserta para petualang lainnya di medan pertempuran.


"Begitu hatiku hidup kembali, aku merasa bersemangat!!! Hatiku terasa seperti dibakar oleh api!!! Jadi, ini yang dinamakan semangat juang .... Selama ini aku sangatlah bodoh ..., aku menjalani hidup yang datar demi egoku sendiri!!! Ini kesempatan sekali seumur hidup!!! Masa bodoh meskipun mereka semua hanya NPC!!! Bagiku mereka lebih manusiawi daripada para manusia sampah di bumi!!! Walau hanya di dunia virtual, tapi aku ingin mewujudkan impianku sewaktu masih SD dulu, yang sempat terlupakan karena dendam dan kebencian ...."


"Impian yang timbul karena melihat semangat juang kakakku yang begitu tinggi untuk melindungiku ...."


"Impianku adalah ..., menjadi seorang pahlawan!!!"


To be continued