Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 35: Sesuatu Untuk Dilindungi (2)



Plot Creation Room, Imaginary Dimension.


23 Januari 2021.


"Mwaaagghhh." Sang Creator meregangkan badannya sembari melangkah memasuki Creation Room. Dia baru saja muncul dari dalam portal antar-dimensi.


"Lagi-lagi aku kecanduan game ...," ucapnya sembari melihat ke sekeliling. Di ruangan plot creation tersebut sekarang sudah tak ada lagi dekorasi Natal. Event Christmas sudah berakhir.


"Natal sudah lewat hampir sebulan, tapi arc Magic of Christmas-ku belum selesai juga. Sial. Kalau akunya pemalas begini, kapan tamatnya ini novel? Untung saja aku ingat dengan tanggung jawabku sebagai seorang plot creator."


Creator tersebut duduk di kursinya. Seketika, layar-layar hologram muncul di hadapannya dan menampilkan gambar-gambar dari berbagai adegan. Hologram keyboard berwarna biru muda juga muncul di dekat kedua tangannya. Ia membetulkan letak kacamata yang dikenakannya dan mempersiapkan kesepuluh jari tangannya untuk mengetik. Senyum penuh semangat tersungging di bibir creator muda itu.


"Yosh, waktunya kembali menulis."


-------------------------------------------------------------------------------------------


"Sesuatu ... untuk kulindungi ...," batin Yamamura.


"Aku memang tidak berjuang untuk siapapun. Aku tidak punya rekan. Aku tidak punya sesuatu untuk kulindungi sama sekali. Selama ini aku berjuang tanpa tujuan yang jelas. Aku selalu bersikeras untuk tidak lari, tapi aku bahkan tidak tahu untuk siapa aku terus berjuang."


"Hei ..., Ayah ..., Ibu ...."


"Apa perjuanganku selama ini ... adalah tindakan yang sia-sia?"


Anak lelaki berambut keemasan itu tertunduk di tengah kegelapan yang kelam.


"Rudolf ..., dia memiliki Winter Region."


"Dia punya sesuatu untuk dilindungi."


"Sedangkan aku ... tidak punya satupun."


"Bahkan aku tidak punya tujuan untuk hidup."


"Apa aku punya alasan ... untuk tidak membiarkan diriku ditelan oleh kegelapan ini?"


"Dulu aku terus berjuang karena tidak ingin mati sebagai pengecut, tapi ... sekarang mau berjuang sekuat tenaga pun hasilnya pasti akan sia-sia."


"Apakah selama ini aku terlalu naif?"


Tiba-tiba, Yamamura teringat akan perkataan yang pernah dilontarkan oleh ayahnya, Ryugai.


"Dalam kehidupan, perpisahan memang tidak bisa dihindari. Tapi, meski sudah berpisah secara fisik, ikatan yang menghubungkan hati tidak akan pernah pudar walaupun waktu terus berlalu. Itulah yang kupelajari dari masa laluku."


"Benar juga ...," ucap Yamamura sembari bangkit berdiri. Senyum penuh semangat terukir di wajahnya. "Sebenarnya ... aku tidak pernah sendirian sama sekali!! Hanya karena terpisah secara fisik, bukan berarti secara batin aku juga terpisah jauh dari mereka!!! Aku masih bisa melindungi harapan yang mereka percayakan kepadaku!!"


"Jadi ternyata ... ketakutanku inilah yang menghalangiku!!" serunya sambil meninju kegelapan, membuat sebuah retakan besar dan lubang kecil. Setitik cahaya memasuki ruang hitam tersebut berkat lubang itu.


"Gara-gara rasa takut dan keputusasaan itu, aku sampai tidak menyadari keberadaan dinding ini dan mengira semua ilusi itu adalah kenyataan!!!"


"Apa?! Dia bisa merusak dinding dunia ilusi Nightmare World milikku?!" Suara Rudolf terdengar terkejut dan panik.


"Kenapa ..., kenapa ini bisa terjadi?! Kukira aku sudah menghisap habis seluruh keberanian di dalam dirinya. Harusnya dengan ketakutannya dia tidak mungkin bisa menyadari keberadaan dinding dimensi itu!!!"


Yamamura terus meninju dinding dimensi dari segala arah, hingga akhirnya tembok dimensi tersebut runtuh, menampakkan Rudolf yang sedang berada dalam wujud rusa kutubnya.


"Sudah kuduga. Semua peristiwa tadi itu cuma ilusi untuk menakut-nakutiku. Wujud aslimu tidak semenyeramkan itu!!"


"Kenapa?! Kenapa kau bisa keluar dari dunia ilusi mimpi buruk milikku?! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Rudolf.


"Karena ... aku sekarang sudah tidak takut lagi!! Baik terhadap darah, kegelapan, atau apapun itu!!"


"Hei, Rudolf. Kau tadi bilang kalau aku tidak punya sesuatu untuk dilindungi, makanya aku tidak perlu berjuang lagi. Ya, 'kan? Itu tidak benar," ucap Yamamura sambil mengangkat kepalanya. Dia sekarang tidak takut lagi untuk menatap lurus ke arah Rudolf.


"Aku juga punya ... sesuatu untuk kulindungi ...."


"Bahkan ...."


"Lebih banyak dari punyamu."


To be continued


Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa kritik, saran, komentar, maupun vote.


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 36: Menyusun Strategi