Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 37: Strategi Dipatahkan?! Sang Penyihir Ilusi



Sekedar info. Pada akhir dari chapter kemarin ada sedikit perubahan. Silakan baca ulang supaya tidak kebingungan. Sekian :v *digeplak*


-----------------------------------------------------------------------


Rudolf mulai memasang raut wajah waspada ketika melihat senyum di wajah Yamamura. Walaupun dia masih punya senjata yang belum ditunjukkannya, tetap saja kejeniusan bocah itu tidak bisa dianggap remeh.


"Apa dia sudah berhasil menemukan cara untuk mengalahkanku?"


Cahaya putih muncul di tali busur Yamamura, perlahan membentuk wujud sebuah anak panah yang langsung melesat ke arah mata Rudolf.


"Lagi-lagi serangan itu. Kukira dia sudah belajar dari pengalaman." Rusa tersebut membatin sembari menghindar. Detik berikutnya, dia menyadari sesuatu yang berbeda.


"Tunggu!! Ekspresi wajahnya saat menembakkan anak panah tadi ..., tidak seperti biasanya!! Dia kelihatan menembakkannya dengan asal tanpa memedulikan akurasi. Berarti-"


Seketika, Rudolf menyadari sesuatu yang tengah melesat ke arahnya dari belakang. Secara refleks dia menghindarinya dengan cara melakukan back flip.


"Seperti dugaanku, yang barusan itu controller arrow!! Jadi dia mewarnainya ulang supaya warnanya mirip dengan panah biasa untuk membuatku lengah, ya? Sial, harusnya aku langsung tahu begitu melihat raut wajah dan gaya memanahnya tadi!!"


"Bocah ini jenius ..., tapi ... masih ada kemampuanku yang belum dia ketahui!!"


"Red Gleam!!"


Sepasang laser berwarna merah terang keluar dari kedua mata Rudolf, menghancurkan controller arrow milik Yamamura.


"Jadi kau masih punya jurus lain, ya?!" Yamamura terperanjat.


"Sial, yang ini di luar perhitunganku!! Kukira dia cuma punya invisible body armor dan kemampuan menarik orang masuk ke dalam dunia ilusi miliknya!!" gerutu bocah berambut keemasan itu di dalam hatinya.


"HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA!!!" Rudolf tertawa dengan suara nyaring sambil mendaratkan keempat kakinya di tanah, kemudian tersenyum puas. "Pintar!!! Pintar sekali, bocah!!!"


"Menggunakan controller arrow yang di-repaint untuk membuatku lengah sehingga aku terpaksa melompat ke udara dan pergerakanku menjadi terbatas, ya? Sudah lama aku tidak melawan adventurer secerdas dirimu!!!"


"Tadinya aku tidak mau bertarung terlalu serius denganmu, tapi apa boleh buat. Kecerdasanmu itu memang tidak bisa diremehkan. Aku akan menggunakan kekuatan penuhku."


"Oohh ..., itu menarik ...," ucap Yamamura sambil terus berusaha terlihat tenang.


"Kau tahu apa julukanku selain Rusa Mimpi Buruk?"


Sosok Rudolf bergoyang-goyang dan mulai kabur, tapi anehnya Yamamura sama sekali tidak merasa pusing. Ketika ia mengedipkan matanya, tampak belasan rusa kutub monster lain yang serupa dengan Rudolf tengah mengelilinginya, membentuk sebuah lingkaran.


"Penyihir Ilusi .... Itulah julukanku yang kedua ...."


"Sekarang, kita akan bermain tebak-tebakan. Jika kau kalah, maka sebagai hukumannya, kau akan mati." Rudolf menyeringai bengis. "Tebak, mana aku yang asli?"


"Bagaimana caranya mengetahui siapa yang asli kalau semuanya sama persis begini?" Yamamura mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tatapan matanya terlihat serius.


"Kalau di anime-anime, sih, caranya dengan merasakan aura keberadaannya. Tapi ..., apa cara itu juga berlaku di dunia nyata?"


"Masa bodoh, lah. Coba saja!!"


Yamamura memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya, berusaha mendeteksi aura keberadaan dari Rudolf yang asli. Suasana hening selama beberapa saat. Hanya ada suara hembusan angin dari badai salju yang belum berhenti sejak pertarungan dimulai.


"Ayolah, ayolah, ayolah!! Berilah aku pencerahan."


Ia mengerutkan keningnya dan menambah konsentrasi, tapi hasilnya nihil.


"Memang gak bisa, ya?" batinnya sambil sweatdrop.


"Kalau kau tidak mau menyerang, akulah yang akan menyerang!!!"


Bayangan-bayangan Rudolf menciptakan suara yang bergema ke segala arah. Seluruh Rudolf yang ada di sana bersiap-siap untuk menyeruduk dengan gaya layaknya sekawanan banteng. Bahkan sampai ada napas panas yang keluar dari lubang hidung mereka.


"Kalau aku menyerang secara asal, pasti tidak akan kena yang asli. Dengan penampilan mereka yang sama persis seperti ini, kurasa sistem auto-target dari controller arrow sekalipun tidak akan bisa mengetahui mana Rudolf yang asli," batin Yamamura. "Jadi, satu-satunya cara adalah ... melompat!!"


To be continued


Yaps sekali lagi maafkan author yang jarang update, soalnya- *ditimpuk readers pake kayu* *menghindar*


Readers: GAUSAH KEBANYAKAN ALASAN!!!


Author: Bjir, galak amat jadi readers :v


Readers: Bodo!!


Author: Yeh ngambek :v Yaudah sekian untuk chapter kali ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, vote, dan comment. Bye bye!!


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 38: Strategi Kedua