
"Gre-Greed?!" Kedua mata Ryugai membelalak lebar.
"Ya, ini aku, Greed." Greed menyeringai bengis sembari menatap pasukan Ryugai. Ya, ia berada di posisi terdepan dari pasukan 99 ras monster.
"Apa yang kalian tunggu?!" Salah seorang prajurit yang tidak sabaran dengan ceroboh berlari ke arah Greed. Dipasangnya anak panah berisikan mesiu miliknya di tali busur. "Dia musuh kita, 'kan? Dengan panah ini, pasti dia akan mati terkena ledakan!!"
"O-Oi!! Jangan ceroboh, bodoh!! Kita tak tahu apa kekuatannya!!!" Ryugai berusaha mencegah prajurit gegabah itu.
Namun, terlambat. Dia telah lebih dulu melepaskan panah mesiunya ke arah Greed. Ledakan dahsyat pun terjadi. Asap hitam kembali mengepul hebat, tapi tak butuh waktu lama bagi efek ledakan tersebut untuk lenyap ditelan oleh waktu.
"A-Apa?!" Si prajurit terperanjat.
Greed menyeringai bengis, lalu mengubah wujudnya menjadi seekor ular naga hijau yang amat besar. Dengan wujud itu, dia berhasil melindungi seluruh prajurit yang berpihak kepadanya dari ledakan.
"Mu-Mustahil!!"
Dengan jari-jemari yang licin karena dibasahi oleh keringat dingin, dipasangnya kembali anak panah di tali busurnya. Namun, panah tersebut tergelincir dan jatuh ke tanah. Meskipun begitu, si prajurit masih tetap mempertahankan ekspresi wajah sok beraninya. Ia mengambil dan memasang anak panah itu sekali lagi di tali busurnya, kemudian melepaskannya hingga melesat menuju Greed.
Greed kembali tersenyum licik, kemudian mengubah wujudnya menjadi slime dan menelan anak panah itu dalam sekali lahap.
"Huh, rasanya seperti minum minuman bersoda." Greed bersendawa, mengeluarkan asap hitam kecil dari mulutnya.
"Mustahil!!!" Pasukan manusia terperanjat. "Dia memakan bubuk mesiu seperti meminum soda?!"
"Sekarang giliranku," ucap Greed sambil mengubah lengan kanannya menjadi tubuh kumbang badak, kemudian secepat kilat menjepit tubuh prajurit malang itu.
Ditariknya tubuh si prajurit, kemudian dia mengubah lengan kirinya menjadi seekor cacing raksasa yang tidak memiliki rahang serta mata. Ekspresi sok berani seketika hilang dari wajah Sang Prajurit. Dia menangis ketakutan, memohon ampun kepada Greed. Para prajurit manusia hanya mampu diam terpaku, tak berani bertindak.
"A-Ampun!!! Ampun!!! Ampuni aku!!!"
Kedua mata Greed melotot, kemudian ia memakan si prajurit menggunakan lengan kiri berwujud cacingnya. Teriakan yang memilukan mengiringi tersedotnya prajurit yang malang tersebut ke mulut cacing raksasa.
"Hei, hei. Kenapa kalian terkejut begitu?" Greed memandangi pasukan ras manusia yang tampak tengah ketakutan, kecuali Ryugai yang berusaha untuk tetap terlihat percaya diri.
Tentu saja, sebab dia adalah ahli strategi dari pasukan militer ras manusia. Jika ia terlihat ketakutan dan panik, maka pasukan musuh akan semakin percaya diri dan semakin kuat.
"Ini baru permulaan, lho." Greed tertawa kecil. Ia menjentikkan jarinya.
Air laut di pesisir pantai bergolak, bergelombang hebat. Sesuatu yang amat besar naik ke permukaan air, tepat di belakang pasukan monster. Matahari lenyap. Langit biru cerah kini digantikan oleh langit ungu yang gelap dan kelam. Bahkan air laut yang jernih layaknya kristal itu juga digantikan oleh warna ungu dan hitam, seolah-olah pasukan manusia dan pasukan monster berpindah ke dimensi lain.
Sesuatu itu adalah sebuah pohon. Ya, pohon raksasa dengan ukuran berkali-kali lipat lebih besar daripada wujud naga hijau raksasa milik Greed. Warnanya putih bersih dan buah-buahnya mengeluarkan cahaya warna-warni, tapi anehnya pohon raksasa itu tak mempunyai dedaunan.
Sepasang mata keemasan yang tampak marah muncul di bagian tengah dari batang pohon. Raungan nyaring terdengar, memekakkan telinga.
“I-Itu!!” Ryugai teringat akan sesuatu. “Aku pernah melihat yang serupa dengan itu di mitologi orang Nordik!! Kalau tidak salah, itu adalah pohon suci, Yggdrasil!! Tapi, kenapa ranting-rantingnya kering kerontang dan aura ungu menyelimutinya?”
Seringai licik yang tergambar di wajah Greed semakin mengembang. Diangkatnya kedua lengannya membentuk huruf W.
“Perkenalkan. Sang pohon dunia yang telah jatuh ke dalam kegelapan, sekaligus Sang Senjata Pembalas. Namanya adalah ... Azadrasil ....”
To be continued
Next Chapter:
Day 62: Kekuatan yang Dahsyat!! Azadrasil Si Penghukum!! (Part 8)