Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: The Promised Dragon Toy - A Letter From Heaven Part 2 (Part 16)



"Tunggu, mainan ini!!"


"Ada apa dengan benda itu, Ryugai-sama?" tanya Kapten Tengkorak penasaran sambil mendekatkan kepalanya ke mainan naga tersebut.


Ryugai tak mampu berkata-kata. Wajahnya kaku. Perlahan, air mata mengaliri pipinya.


"A-Apa kau baik-baik saja?" Arai mulai khawatir. "Ada apa?"


"Aku baik-baik saja," sahut Ryugai sambil menghapus air matanya. "Hanya sedikit mendapatkan feeling nostalgia. Aku tak pernah mengira akan melihat benda ini lagi."


"Ya ...."


"Ini mainan yang sama ...."


"Dengan yang waktu itu ...."


"Mainan naga perjanjian ...."


"12 tahun yang lalu ...."


Ryugai memandang ke langit biru gelap yang dihiasi rembulan dan bintang-bintang beraneka warna yang berusaha untuk terus bersinar di tengah gelapnya malam. Benaknya mulai memutar kilasan memori dari masa lalu. Sebuah memori dari 12 tahun yang lalu, saat ia masih berusia empat tahun.


"Wah!! Lihat, lihat!! Dia terbang dengan tinggi!!!"


Ryugai yang masih berusia 4 tahun tampak tengah tersenyum gembira sambil menggerak-gerakkan tuas kendali di remote control yang tergenggam di tangannya. Sebuah mainan naga terbang berputar tak jauh darinya. Seorang anak yang lebih tua darinya, seorang pria, dan seorang wanita memijakkan kaki mereka ke rerumputan di halaman belakang, memandangi wajah Ryugai yang terlihat kegirangan sambil tersenyum damai. Ya, dilihat dari ekspresi wajah saja, sudah jelas bahwa mereka adalah keluarga dari Ryugai.


"Suatu hari nanti, aku tak akan memainkan mainan ini lagi. Aku akan menunggangi naga sungguhan dan menjadi kesatria!!!" ucap Ryugai dengan polos dan bersemangat, membuat ketiga anggota keluarganya tertawa kecil. Ya, bagaimanapun, dia itu masih anak kecil. Berfantasi dan membangun impian sesuka hati adalah hal yang wajar pada usianya sekarang.


"Jangan mimpi ketinggian, Ryugai. Nanti jatuhnya sakit, loh," ejek kakaknya."Kau saja masih suka menangis kalau jatuh ketika belajar naik sepeda. Bagaimana mau jadi pahlawan?"


"Ya, ya." Ibu dari Ryugai turut menimpali*. "Pahlawan sejati adalah pahlawan yang berani, rela berkorban, dan tak pernah menyerah seberapa sulit dan berbahaya pun rintangan yang dia hadapi. Bagaimana? Apa kau bisa melakukan itu semua? Ini agak sulit, lho."*


"Tentu saja!!" Ryugai langsung menyambar."Tentu saja aku bisa melakukannya!!"


Ryugai mendekatkan mainan naga itu ke tubuhnya menggunakan remote control, kemudian menyambarnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke langit, seolah hendak menunjukkan tekadnya pada langit biru cerah yang dihiasi awan-awan putih yang terlihat bagaikan kapas.


"Aku berjanji kepada kalian!! Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang pahlawan dan menunggangi naga sungguhan!!! Mainan naga ini ... adalah bukti perjanjian kita!!!"


Ayahnya tersenyum*. "Kalau begitu, semoga berhasil. Semangat, Ryugai. Jangan mudah menyerah."*


"Pasti, dong!!!"


Kemudian, otak Ryugai berhenti memproyeksikan kilasan memori tersebut. Senyum tergambar di bibirnya. Air matanya mengalir semakin deras. Saat itu adalah masa-masa yang paling indah. Masa kecilnya yang menyenangkan. Saat-saat di mana dia belum dipaksa oleh kehidupan untuk menelan pil pahit bernama 'takdir.' Seandainya saja masa kecilnya itu bisa berlangsung selamanya. Sayangnya, Takdir dan Dewa tak mengizinkan itu terjadi.


"Aku belum mengerti keseluruhannya, tapi apakah benda itu menyimpan memori yang sangat indah bagimu?" tanya Genbu.


"Eh? Ya," ujar Ryugai.


"Tapi, ini aneh. Para developer .... Bagaimana mereka bisa tahu tentang masa kecilku? Apa VR Gear itu mengandung gelombang khusus yang bisa melakukan 'dive' ke bagian otak yang menyimpan memori dan kenangan?" Ryugai memiringkan kepalanya kebingungan.


"Ah, itu tidak penting. Aku hanya bisa berharap gelombang itu tidak mengungkapkan hal-hal pribadi yang kusimpan di otakku. Yang penting sekarang adalah surat ini. Dari siapa? Tapi kalau dikirim dengan menggunakan mainan naga ini sebagai alat transportasinya, berarti ...."


Ryugai melepaskan lipatan kertas yang terjepit di mulut mainan naga, kemudian membuka lipatannya. Dia terkejut begitu membaca isi suratnya. Tulisan yang sama persis dengan tulisan tangan ibunya.


"I-Ini ... tulisan ibu?!"


To be continued