
"Di mana ini?"
Yamamura mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hanya kegelapan yang menyambut matanya. Dengan raut wajah yang menyiratkan kebingungan, dia mulai melangkahkan kedua kaki kecilnya. Anak itu tak tahu arah, jadi ia hanya berjalan ke sembarang arah saja tanpa memedulikan kemungkinan tersesat selamanya di ruangan hitam yang sunyi tersebut. Yang ada di dalam otaknya sekarang hanyalah keinginan untuk segera keluar dari tempat ini.
"O-Oi, seriusan?" Yamamura mulai menggerutu karena tak kunjung menemukan jalan keluar meski ia sudah cukup lama berjalan. "Sebenarnya ini di mana, sih?"
Mendadak sebuah siluet bertudung muncul tak jauh dari posisinya sekarang, membuatnya tersentak kaget. Bocah berambut emas itu bisa merasakan aura yang sangat dahsyat terpancar dari sosok tersebut.
"Cepatlah kembali, My Lord ...," ucap sosok itu dengan suara yang menggema dan terdengar seperti suara wanita.
Yamamura terkejut untuk kedua kalinya. Suara itu terdengar familiar baginya.
"Kau ... wanita yang menjebakku di dunia ini, 'kan?!" Ia mundur selangkah dengan hati-hati. "Apa maumu?!"
Sang wanita misterius tak menjawab. Dia hanya melayang menjauh dan perlahan sosoknya menghilang.
"Hei, tunggu!!" seru Yamamura sembari berlari mengejar siluet si wanita yang semakin lama semakin samar.
--------------------------------------------------------
*gedubrak!!!*
"Aduh!!!"
Yamamura mengelus bokong dan punggungnya yang memar. Dia baru saja terjatuh dari dahan pohon yang tadi digunakannya sebagai tempat tidur.
"Ternyata cuma mimpi," ucapnya dengan tatapan mata yang malas.
Bocah itu bangkit berdiri, kemudian menepuk-nepuk bagian belakang pakaiannya untuk mengusir dedaunan kering, tanah, dan debu yang menempel di sana. Sebenarnya dia agak menyesal memilih dahan pohon yang letaknya cukup tinggi sebagai alas tidur, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk mencegah serangan hewan buas saat ia terlelap.
"Benar-benar, deh. Dua hari yang lalu aku mimpi buruk tentang Rudolf dan kemarin malam aku mimpi buruk tentang wanita misterius itu. Apa mereka tidak bisa membiarkanku tidur dengan tenang?"
Diarahkannya pandangannya ke langit untuk mencari letak matahari karena fitur jam di system yang tertanam dalam tubuhnya sudah dihilangkan dan dia tak membawa jam.
"Letak mataharinya sedikit meleset dari puncak langit. Kemarin matahari terbenam di arah sana, berarti arah barat di sana. Matahari agak condong ke arah barat, berarti sekarang ini sekitar jam satu siang. Waduh?! Aku tidur sampai jam satu?!"
"Yah ..., apa boleh buat. Semalam aku baru tidur saat malam sudah larut," ucap Yamamura sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa berada di hutan ini?" Adventurer muda itu berusaha mengingat-ingat kejadian pada malam sebelumnya.
--------------------------------------------------------
Kemarin malam ....
"Terima kasih, bocah ...."
Pandangan sang rusa monster semakin menggelap. Cahaya berwarna merah di matanya yang tertusuk oleh pedang kini telah lenyap dan matanya yang tidak tertusuk telah terpejam. Yamamura hanya bisa tersenyum dengan perasaan sedih bercampur bahagia sembari memandang rusa bernama Rudolf itu. Setelah sekian lama menderita, akhirnya rusa monster tersebut bisa mencapai kedamaian sejati.
"Beristirahatlah dengan tenang ..., Rudolf ...."
"Ah, tidak, tidak!! Apa yang kupikirkan?" Adventurer cilik tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Dia sudah menderita cukup lama. Setidaknya aku harus menguburkan tubuhnya dengan hormat."
Yamamura mencabut pedangnya dari mata Rudolf, menggali salju dan tanah, meletakkan jasad tersebut di lubang hasil galiannya, dan menimbunnya setelah memberikan penghormatan terakhir. Beberapa saat kemudian, sebuah jendela notifikasi muncul tepat di hadapan bocah itu.
...[ | Special Quest Series |...
...Congratulations!!!...
...You've completed Quest 1: Nightmare of Christmas....
...Reward: Skill: Red Gleam....
...Due to the amount of EXP gained, you leveled up from level 11 to level 18....
...Skill awakened: Pyro Arrow.]...
"Hei, yang benar saja!! Aku hanya naik 7 level setelah hampir mati dan mengalami siksaan mental seperti itu?!" serunya dengan gusar. "Pelit amat kau, system!!"
"Ditambah lagi, kenapa skill yang kudapatkan dari Rudolf adalah skill terlemah yang dimilikinya?! Setidaknya kalau tidak mau memberikanku kekuatan mimpi buruknya, berikan aku kemampuan ilusi bayangan miliknya!! Ini, sih, tidak ada bedanya dengan tokoh final boss di game yang ketika dilawan sangat OP tapi ketika di-unlock malah jadi lemah!!"
"BERISIK!!! KALAU MAU JADI LEBIH KUAT, YA KERJA KERAS!! JANGAN CUMA MENGELUH!!! MASIH UNTUNG KUKASIH SKILL DAN KUNAIKKAN LEVELMU. MAU SEMUA STAT-MU KURESET JADI 0?!" Suara bentakan khas system terdengar, membuat Yamamura menghentikan keluhannya.
"Baik ...," ucap anak itu sambil pundung.
(Yamamura: Mengsedih :"(
Author: Awokwowokwokwok. Rasain, tuh XD Makanya jangan ngeluh mulu.)
"Ngomong-ngomong, ada yang membuatku penasaran." Kedua mata Yamamura memicing, memfokuskan pandangannya pada salah satu kata di panel notifikasi di depannya.
"Aku tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya, tapi ... kenapa di sini tertulis awakened dan bukan acquired? Biasanya di game-game lain tertulis acquired. Awakened artinya terbangun atau bangkit. Untuk bisa bangkit, kita harus tertidur lebih dulu, 'kan?" Dia meraba dagunya sembari berpikir dengan keras.
"Apa ini maksudnya aku sudah pernah memiliki skill tersebut? Tapi, apa yang membuat skill ini tertidur? Atau kata awakened di sini merujuk pada potensi di dalam diriku?"
Pikiran bocah berambut keemasan itu melayang menuju mimpinya tadi malam.
"Wanita misterius itu memanggilku dengan sebutan My Lord. Apa maksudnya? Sejak kapan aku jadi atasannya? Jika aku memang atasannya dan dia ingin aku pergi menuju suatu tempat, kenapa dia malah menyuruh Rudolf untuk menghentikan dan menghabisiku? Ugghh, aku sama sekali tidak mengerti!!!" ucapnya sambil mengacak-acak rambut keemasannya karena frustasi.
"Ya sudahlah, nanti juga dia akan menjelaskan semuanya ketika aku bertemu dengannya. Sekarang, aku harus menyelesaikan quest series ini dulu."
Yamamura menyentuh tulisan 'OK' di jendela notifikasi itu, kemudian panel tersebut tergantikan oleh panel yang berisi informasi mengenai quest selanjutnya.
"Yosh, waktunya melanjutkan perjalanan!!"
To be continued