Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 56: Keluarga Bushida



"Menjadi petarung, ya ...."


Kedua mata emas milik Senshi menerawang ke luar jendela, menatap pemandangan malam.


"Dulu, itu adalah impianku."


"Dulu?" Yamamura menaikkan kedua alisnya. "Berarti sekarang sudah tidak lagi?"


"Ya ...." Senshi melangkah mendekati jendela, kemudian meraba kaca jendela tersebut. "Begitulah."


"Kenapa? Gerakan seranganmu yang bagus itu nanti jadi sia-sia, lho!" ucap Yamamura.


"Itu tidak akan berguna kalau dipakai melawan hewan buas. Lagipula, melemparkan cangkul dengan kecepatan dan presisi yang cukup tinggi untuk mengenai seorang anak kecil bukanlah prestasi yang membanggakan. Yah, walaupun aku sendiri juga masih anak-anak, sih ...."


"Enak saja anak kecil. Umurku sudah 12 tahun, tahu!!"


"Tetap saja masih anak kecil, 'kan?"


"Itu sudah masuk tahap remaja awal, tahu. Eh, sebentar. Kenapa topik pembicaraannya jadi melenceng?"


"Mana kutahu. Jangan tanya aku."


Untuk beberapa saat, keheningan dan suara binatang malam mengisi suasana, sebelum akhirnya Yamamura kembali membuka suara.


"Hei, Senshi. Apa kau pernah berjuang untuk mewujudkan impianmu itu sebelum kau membuangnya?"


"Berjuang? Itu adalah sesuatu yang sia-sia," sahut Senshi dengan wajah yang menyiratkan keputusasaan.


"Tapi-"


"Yamamura, biarkan aku memberitahumu satu hal. Tidak semua impian menjadi kenyataan, bahkan setelah mereka diperjuangkan."


Wajah Senshi tampak semakin suram. Dia menundukkan kepalanya.


"Pada momen ketika aku gagal melindungi mereka, aku sudah memutuskan untuk berhenti berjuang. Aku sudah membuang semua impian dan idealismeku."


"'Mereka'? Siapa yang kau maksud?" tanya Yamamura.


Sebelum Senshi sempat menjawab, sebuah suara telah lebih dulu menyela.


"Makanan sudah datang!!!"


Kedua anak tersebut segera menoleh ke sumber suara yang ternyata merupakan kakak dari Senshi, sang remaja berambut coklat.


"Eh? Apa aku memotong obrolan kalian?" tanya remaja itu sambil meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.


"Tidak," ujar Yamamura.


"Ah, ya. Kita belum berkenalan, ya? Aku Yamarashi, Bushida Yamarashi. Ini adalah adikku, Bushida Senshi. Siapa namamu?" ucap sang remaja dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Bushida, ya .... Nama yang sangat cocok untuk keluarga pejuang. Sayangnya, perilaku Senshi justru bertolak belakang dengan perilaku seorang pejuang," batin Yamamura.


"Ng? Kenapa kau diam? Ada apa?"


Ucapan tersebut membuat adventurer muda itu tersadar dari lamunannya.


"Ah, maaf. Namaku-"


"Yamamura."


"Wah, wah. Kalian sudah berkenalan? Senshi, jadi ternyata selama ini kau diam-diam pandai bergaul, ya?" goda remaja berambut coklat bernama Yamarashi itu.


"Aku tidak meminta berkenalan. Dia sendiri yang memberitahukan nama itu padaku," sahut Senshi, masih dengan nada sedingin es.


"Daripada membicarakan itu, lebih baik aku makan saja." Dia melanjutkan ucapannya sambil berjalan menuju meja makan.


"Oh, ya, Yamamura. Kami punya satu kamar kosong. Kau bisa tidur di sana," ucap Yamarashi kepada Yamamura.


"Tunggu dulu, kakak!!" seru Senshi. "Kau ingin tamu tak diundang ini bermalam di kamar itu?!"


"Yah .... Daripada tak terpakai lebih baik dipakai olehnya," ujar Yamarashi. "Lagipula, kurasa dia tidak akan tinggal terlalu lama di sini."


"Tetap saja aku keberatan!!"


"Ayolah. Jangan kasar begitu."


"Cih! Terserah. Tapi kalau sesuatu yang gawat terjadi, aku tidak mau tanggung jawab."


Yamamura dan Yamarashi pun meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga, menuju lantai dua.


"Kenapa dia sampai semarah itu hanya gara-gara masalah kamar? Pasti ada sesuatu di balik ini," batin Yamamura.


Di saat bocah berambut keemasan tersebut mencoba menganalisis jawaban dari pertanyaannya, Yamarashi membuka pembicaraan.


"Maaf, ya. Senshi memang orangnya seperti itu."


"Aku tidak tersinggung, kok. Aku hanya penasaran kenapa dia sampai semarah itu hanya karena aku menempati sebuah kamar kosong."


"Soalnya itu bukan kamar biasa."


"Eh?"


Mendengar jawaban itu, Yamamura pun menoleh ke arah Yamarashi.


"Itu adalah kamar mendiang orangtua kami," lanjut remaja berambut coklat tersebut.


"Pantas saja," sahut Yamamura.


"Apa ini yang dia maksud dengan 'mereka'?" batinnya.


"Apa kematian kedua orangtua kalian yang membuat Senshi menjadi pribadi yang dingin dan putus asa seperti itu?"


"Sebenarnya ..., bukan cuma karena itu, tapi juga gara-gara aku."


Yamarashi menundukkan kepalanya dengan penuh kesedihan dan penyesalan. Dia tersenyum masam. Mereka berdua sekarang telah tiba di depan pintu kamar orangtua Senshi dan Yamarashi.


"Akulah ... yang sudah menunjukkan gerbang kegelapan kepadanya."


To be continued


Kira-kira apa yang dimaksud Senshi ketika dia berkata ia gagal melindungi kedua orangtuanya? Apa yang menyebabkan orangtua Senshi dan Yamarashi tiada? Dan kenapa Yamarashi menyalahkan dirinya atas sikap dingin dan putus asa yang ditunjukkan oleh Senshi? Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada keluarga Bushida? Nantikan jawabannya di chapter berikutnya :3


Terima kasih sudah membaca chapter ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, dan comment. Sampai jumpa!!


-Author