
Pagi itu sangatlah cerah, dengan awan-awan melintas pelan dan angin sepoi-sepoi berhembus. Sesekali kicauan burung terdengar. Berbanding terbalik dengan suasana kelam yang ada di kediaman keluarga Yuzumoto. Penyebabnya tak lain adalah putra sulung mereka yang masih belum juga terbangun dari komanya. Mereka pikir mereka sudah berhasil meraih kedamaian dan mencapai Happy Ending yang selama ini selalu mereka impi-impikan. Namun, ternyata takdir berkata lain. Sekali lagi, kabut kegelapan menyelimuti benang kehidupan mereka. Keluarga Yuzumoto yang terdiri dari Ryugai, Yuukaru, dan Aojin hanya bisa berpegangan pada sebuah dahan rapuh bernama 'harapan' agar tidak jatuh ke dalam jurang keputusasaan, meski ketiganya tak tahu kapan dahan itu akan patah.
Kemudian hal yang paling buruk pun terjadi. Untuk kedua kalinya, Ryugai jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Kabut kegelapan itu membuatnya kembali menjadi dirinya yang lama. Dirinya yang tidak pernah tersenyum dan berekspresi kelam. Semua pelajaran berharga, kebahagiaan, dan semangat hidup yang didapatkannya saat berada di dunia virtual penyembuh Purity Online telah lenyap ditelan oleh kegelapan.
"Hei ..., kau sudah menghubungi perusahaan produsen alat virtual-reality itu untuk meminta pertanggungjawaban?" tanya Ryugai kepada Yuukaru dengan nada serta wajah yang kelam dan tak bersemangat.
"Sudah ..., tapi ... mereka tidak menjawab teleponku. Aku bahkan sudah melapor kepada rekan sesama polisiku yang ada di bidang kriminal dan mereka juga sudah menyerbu gedung perusahaan tersebut. Tapi ..., gedung itu kosong. Tidak ada satupun orang di dalamnya. Kepolisian sudah melakukan pencarian, tapi mereka masih belum menemukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu," sahut Yuukaru panjang lebar. Ekspresinya tampak sama kelamnya dengan ekspresi Ryugai.
Pria berambut biru tersebut menghela napas berat, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yamamura yang tengah terbaring di atas tempat tidur di kamarnya. Bagian Choker Neklace dari Beltsphere Virtual Diver masih terpasang di leher anak lelaki itu, sedangkan infus nutrisi dan beberapa alat medis lainnya terpasang di tubuhnya.
"Tapi, aku yakin orang-orang jahat itu akan segera ketemu, kok!!" Yuukaru mencoba memasang wajah ceria untuk menghibur suaminya, meski saat ini hatinya juga sedang diliputi oleh kegelapan. "Dan juga, pasti Yamamura akan baik-baik saja!! Tenang saja, Ryugai!!"
"Yuukaru .... Terima kasih sudah memberiku harapan, tapi ... tolong jangan beri aku harapan yang palsu dan tidak pasti seperti itu." Ryugai berujar, masih dengan wajah kelamnya.
"Jangan putus asa begitu. Jika kita terus berjuang dan berharap, tidak ada yang mustahil, 'kan?"
"Apa kau punya jaminan?"
Pertanyaan tersebut membuat Yuukaru terdiam. Memang tidak ada jaminan bahwa putra sulung mereka akan baik-baik saja dan dalang dari musibah ini akan bisa tertangkap. Selain itu, mereka berdua juga tidak tahu kapan putra mereka itu akan terbangun dari komanya.
Wanita itu menyadari bahwa Ryugai sudah jatuh terlalu dalam ke jurang keputusasaan sehingga sangat sulit untuk meraih dan menariknya keluar. Ini adalah tingkat tertinggi dari keputusasaan, di mana orang yang mengalaminya tidak lagi bisa melampiaskan kemarahannya terhadap takdir sehingga ia hanya bisa diam dalam jangka waktu yang sangat lama sembari memasang wajah kelam.
"Itu ...."
"Sudah kuduga," ucap Ryugai. "Kau tidak punya, ya? Maaf karena harus mengatakan ini, tapi ...."
Di tengah suasana yang tegang dan dipenuhi kesedihan serta keputusasaan itu, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Yuukaru bergegas menuju pintu depan untuk membukakan pintu dan menyambut sang tamu, yang ternyata merupakan sosok yang sangat familiar baginya.
"Selamat pagi. Sudah lama aku tidak berkunjung kemari, ya?" Senyum tersungging di bibir sosok berambut emas tersebut.
Yuukaru terlihat sedikit terkejut bercampur senang.
"Ah, Kak Otomura!!"
To be continued
Yaps. Seperti judulnya, chapter ini benar-benar dipenuhi oleh despair / keputusasaan, ya XD *ditampol oleh seluruh chara*
Ryugai: Gini amat punya author kang nyiksa chara _-"
Author: Gpp, lah. Biar ada character developmentnya XD *ditampol sekali lagi*
Seluruh chara: PALA KAU CHARACTER DEVELOPMENT!!!
Author: Lah kok ngamoek :v
Seluruh chara: *siap-siap untuk menggebuki author*
Author: Wadooo gawat, sepertinya saya dalam bahaya. Oke, kalau begitu kita langsung closing saja. Sekian untuk chapter kali ini dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!! Bye!! *lari secepat The Flash*