
"Tahun demi tahun berlalu. Aku sekarang sudah duduk di bangku SMA. Namun, pola pikirku masih sama seperti dulu. Aku masih berpikir kalau Santa itu benar-benar ada. Aku masih menunggunya setiap kali malam Natal tiba."
"Hingga ... hari itu tiba ...."
"Hari di mana aku menyadari ... bahwa keajaiban Natal hanyalah sebuah kebohongan."
"Malam Natal saat usiaku 16 tahun. Orangtuaku pergi untuk ikut acara Natal, sedangkan aku tetap tinggal di rumah karena sedang demam. Mereka berpesan kepadaku agar aku segera pergi tidur, tapi diam-diam aku meninggalkan kamarku dan pergi ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan Santa sampai jam 12 malam nanti, seperti biasanya."
"Namun ..., Santa tidak kunjung datang."
"Jam 10 malam. Orangtua angkatku belum pulang juga. Ponselku tiba-tiba berdering. Aku pun mengangkatnya. Awalnya, kukira itu cuma telepon dari orangtuaku yang ingin memberitahukan kalau mereka akan terlambat pulang atau semacamnya. Aku sama sekali tidak pernah menduga kalau ini akan terjadi lagi. Aku belum siap untuk menghadapi semua ini."
"Telepon itu dari pihak rumah sakit yang memberitahukan kalau kedua orangtuaku mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang kondisi mereka sedang kritis."
"Tanpa memikirkan apapun lagi, dan bahkan tanpa mengucapkan kalimat 'terima kasih untuk informasinya' atau 'saya akan segera pergi ke sana,' aku segera menaruh ponselku di sofa dalam keadaan telepon masih tersambung tepat setelah penelepon memberitahukan alamat rumah sakitnya. Aku tidak peduli walaupun pihak rumah sakit mungkin akan menganggapku tidak sopan."
"Aku bergegas memakai sepatu, mengunci pintu, berlari keluar rumah, dan menerobos hujan salju. Aku tak peduli meskipun aku sedang demam. Pikiranku dipenuhi oleh rasa panik dan takut. Aku tidak peduli terhadap semua hal. Aku hanya ingin segera bertemu kedua orangtuaku. Aku tidak ingin Natal mengambil hartaku yang paling berharga sekali lagi."
Seketika, penglihatan Yamamura menampilkan sosok seorang remaja SMA yang sedang menapaki kakinya di jalanan yang cukup ramai, menerobos hujan salju tanpa mengenakan satupun pakaian hangat. Sesekali ia nyaris terjatuh karena rasa pusing yang melanda kepalanya. Salju mengotori bajunya. Kesadarannya berkali-kali hampir hilang, tapi dia terus mempertahankannya dengan susah payah.
Pejalan-pejalan kaki lain menyarankan kepadanya untuk beristirahat di rumah saja karena kondisi tubuhnya sedang tidak fit, bahkan ada yang sampai menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya pulang. Namun, sang remaja menghiraukan mereka semua. Jeritan-jeritan dari batin remaja berambut merah tersebut terdengar dengan sangat jelas.
"Kumohon!!!"
"Kumohon, jangan sekarang!!!"
"Jangan rampas kebahagiaan ini dariku lagi!! Tolonglah!!!"
"Cuma ini ... satu-satunya permintaan Natalku tahun ini!!!"
Detik itu juga, sang remaja berambut merah menyadari apa yang terjadi. Tubuhnya melemas hingga ia terjatuh dengan posisi berlutut. Kedua matanya menatap penuh ketidakpercayaan.
Ya .... Kedua orangtuanya angkatnya ... sudah tiada.
Malam itu, Natal merampas sekali lagi kebahagiaan darinya.
Hujan salju yang tadinya terbilang cukup kecil menjadi semakin deras, dan kini telah menjadi badai salju yang hebat. Orang-orang bergegas berteduh. Salju yang melapisi jalan semakin menebal.
Bersamaan dengan tertutupinya cahaya lampu dari pohon-pohon Natal oleh warna putih, harapan untuk hidup sirna dari dalam diri sang remaja.
"Ini ... bukan keajaiban sama sekali ...."
"Ini seharusnya tidak terjadi di hari yang bahagia dan indah seperti hari Natal."
"Orang-orang bilang Natal selalu penuh dengan kebahagiaan dan keajaiban, tapi ...."
"Natal kali ini ... adalah kutukan."
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 30: Lie of Christmas
Maap baru up, kemaren saya sibuk bikin project Rewind Game SFS :v *digeplak*