
"Hm? Turnamen Tahunan Wajib Maximus Potentia?"
"Ya," sahut Arai. "Turnamen yang diadakan setiap tahun dan wajib diikuti oleh seluruh murid dari semua kelas jurusan Teknik Sihir Perburuan dan Pertarungan. Terdiri dari tiga level, yakni first year tournament untuk murid-murid yang baru masuk jurusan, second year tournament untuk murid tahun kedua jurusan, dan third year tournament untuk murid tahun terakhir, yakni yang sudah berusia 17 tahun. Turnamen ini berlangsung selama empat hari. Hanya ada satu pemenang dari setiap angkatan. Jadi, mari berlatih dengan giat. Kuperingatkan kau, aku takkan membiarkanmu menang dengan mudah."
"Oh, begitu ...." Ryugai mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. "Aku juga takkan membiarkanmu menang, Arai," ucapnya dengan tatapan yang menantang. "Aku akan berlatih dengan sangat keras. Posisi terdepanku tak boleh diambil orang lain."
"Ya, berjuanglah," sahut Arai.
Keheningan dan dentingan sendok sempat mengisi suasana selama beberapa detik, kemudian pintu kelas terbuka. Seorang siswi berambut keemasan sebahu masuk membawa sebuah kotak bekal dan menghampiri meja Ryugai.
"Lama sekali, Yuukaru. Aku hampir mati kelaparan, tahu," gerutu Ryugai. "Aku tahu kalau kelas Teknik Sihir Farmasi dan Kimia istirahat belakangan, tapi biasanya tidak selama ini."
"Maaf, aku tadi belum selesai mengerjakan tugas," ucap siswi bernama Yuukaru itu sambil tersenyum masam dan menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Daripada begitu, kenapa kau tidak membeli makanan di kantin saja?" Arai menimpali.
"Sebenarnya ..., aku ...."
"BOKEK!!!" ujar Ryugai sambil pundung di pojokan, membuat Yuukaru serta Arai terdiam dengan bulir keringat mengaliri kening.
"Kalau begitu, kenapa tidak dibawakan sejak Ryugai berangkat sekolah saja?"
"Eh? Tapi, kelas kalian, 'kan, mulai lebih dulu daripada kelas kami," jawab Yuukaru.
"Benar juga. Karena ada satu ruangan yang harus dipakai bergantian, ya. Kenapa kau tidak bangun lebih pagi supaya bisa memasak makanan untuk Ryugai sehingga dia bisa membawanya saat berangkat ke akademi?"
"Sebenarnya ...."
"Aku malas," sahut Yuukaru sambil terkekeh pelan.
*GEDUBRAK!!!* Arai langsung jatuh terpelanting dari kursinya dengan posisi kaki di atas.
"Kukira apa," ujar Arai sambil bangkit berdiri dengan ekspresi yang terlihat agak kesal.
"Hehehehe." Yuukaru hanya cengengesan.
"Tapi, romantis, ya. Seperti suami istri saja. Kalian tinggal serumah, 'kan?" goda Arai yang membuat wajah Yuukaru serta Ryugai langsung memerah seperti kepiting rebus. Ya, sebenarnya mereka saling menyukai satu sama lain, sayangnya perasaan itu tak bisa mereka utarakan dan akhirnya berakhir terpendam, terkurung di dalam jeruji sangkar hati.
"Bodoh!! Siapa yang suka dengan pemuda seperti dia?!" seru Yuukaru.
"Ampun. Bercanda doang," ucap Ryugai sambil berlutut dengan keringat dingin membanjiri seluruh tubuh.
"Dasar suami takut istri," ujar Arai sambil terkekeh.
"Diam!!" bentak Ryugai.
"Tapi, ya benar, sih. Yuukaru itu cewek yang cerewet, pemarah, pemalas lagi. Gayanya saja sok perhatian, tapi sebenarnya cuma memberi harapan palsu. Yaaa, kurasa walau ada seratus orang kandidat, ga akan ada yang mau menerima dia ..., hahaha .... HAHAHAHAHA!!!"
"A-Arai ...." Ryugai menyenggol bahu teman sekelasnya yang sedang tertawa terbahak-bahak itu. Pemuda berkacamata tersebut jelas sedang menggali liang kuburannya sendiri tanpa ia sadari. Ryugai berkeringat dingin begitu melihat Yuukaru yang dikelilingi oleh Killer Aura.
"Aduh, perutku sakit." Arai masih terus tertawa sambil memegangi perutnya. "Waktunya kembali ma-"
"Kan?!"
Keterkejutan menghampiri pemuda berambut merah itu. Tubuhnya mendadak jatuh ke meja, lemas dan tak bisa digunakan. "O-Oi, apa-apaan ini?" bentaknya.
"Hihihihihihi\~\~ racun pelumpuh ...." Yuukaru tertawa layaknya nenek sihir, membuat Ryugai beserta Arai bergidik ngeri. "Aku menciptakannya menggunakan teknik Poison Creation dan memasukkannya ke makananmu saat kau sedang lengah. Jangan khawatir, efeknya cuma lima belas menit."
"He-Hei!! Aku harus seperti ini terus selama lima belas menit?!" protes Arai.
"Kalau kau berani mengatakan itu lagi, YANG AKAN KUGUNAKAN ADALAH RACUN ALKALOID ...." Hawa membunuh memenuhi tatapan mata Yuukaru. "DAN KAU AKAN MENDERITA SAMPAI MATI!!"
"Sampai jumpa, Arai," ucap gadis itu sembari berbalik dan melangkah meninggalkan kelas.
"'Kan, sudah kubilang ...," ucap Ryugai.
Sementara itu, Arai hanya menghela napas berat. "Nasib ...."
(Author: pengen ngakak tapi kasian :"v
Ryugai: ketawain aja, thor :v gapapa
Arai: WOY!!!)
To be continued