
Imaginary Dimension, Malam Natal tahun 2020.
Sang plot creator memasuki ruangan plot creation dan kembali duduk di kursinya. Layar-layar yang menampilkan kilasan adegan-adegan dari plot novelnya tertera di dinding ruangan, dengan sedikit dekorasi natal di bingkai layar. Sebuah pohon natal yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil duduk manis di pojok ruangan berdinding digital tersebut, dihiasi oleh beberapa bola warna-warni, hiasan-hiasan berbentuk rusa kutub, serta bintang di puncaknya.
"Sudah malam natal, ya? Gak kerasa," ucap plot creator itu. Senyum haus darah terukir di wajahnya. "Kalau begitu ..., kita akan merayakan natal dengan cara yang anti-mainstream!! Hahaha!!!"
Sebuah hologram keyboard muncul di depan sang plot creator. Tak ingin membuang waktu, plot creator bergegas mengetik naskah dari plot novel Purity Online.
"Arc Magic of Christmas ... sudah mulai memasuki klimaks."
"Jika yang lain merayakan natal dengan membuat Special Chapter, kita akan merayakan natal dengan sad scene. Hohoho, sudah lama aku tidak membunuh character."
Plot creator tersenyum bengis.
"Ini akan seru ...."
-------------------------
"Aku datang, dungeon boss!!!"
Yamamura telah tiba di depan pintu besar tadi. Seperti yang diduga, pintu besar berbahan batu itu sudah terbuka sepenuhnya. Namun, anehnya di dalam sama sekali tidak ada dungeon boss. Hanya ada monster-monster kecil yang langsung dibantai habis oleh adventurer muda tersebut sebelum sempat menyerang.
"Eh? Aneh sekali," ucap Yamamura keheranan seusai ia membunuh minion (monster kecil) yang terakhir. "Kok, bisa tidak ada boss-nya? Dungeon-dungeon lain biasanya ada."
Ruangan luas itu tidak diisi oleh satupun perabotan, simbol, maupun patung. Benar-benar kosong melompong. Dengan lantai dan dinding terbuat dari batu serta atap yang disangga oleh beberapa pilar. Ada sebuah pintu raksasa lain yang juga terbuat dari batu di seberang ruangan. Yamamura mencoba mendorong pintu tersebut. Berbeda dengan pintu masuk ruangan tadi, pintu ini mudah untuk dibuka. Di luar, terdapat sebuah teras kecil berlantai batu.
"Eh? Sejak kapan cuacanya jadi badai begini? Perasaan tadi cerah." Yamamura melangkah keluar sembari menatap pemandangan di luar yang serba putih karena badai salju.
Ya, cuaca yang tadinya cerah mendadak berganti menjadi badai salju. Mungkin badainya sudah turun dari tadi, tapi dia tidak menyadarinya karena sedang sibuk mengurusi jebakan, monster, dan teka-teki di dalam dungeon.
"Brrr .... Dingin sekali, sih." Ia menggigil sambil menjejakkan kakinya ke lantai batu di teras kecil di luar dungeon. "Badai saljunya parah banget. Sampai tidak kelihatan apa-apa. Apa aku terus maju saja, ya? Tapi ..., bahaya kalau misalkan ada musuh yang melakukan serangan dadakan dengan memanfaatkan badai salju ini."
Bocah berambut keemasan itu tak menyadari bahwa ada sepasang mata jahat berwarna merah menyala yang mengawasinya sedari tadi dari balik putihnya badai salju. Sebuah raungan terdengar.
"Eh? Apaan, tuh?"
Secepat kilat, pemilik mata merah itu melesat ke arah Yamamura dan mencoba menghabisinya. Serangan itu berhasil dihindari, tapi tanduk tajam milik si makhluk menggores sedikit bahu kiri dari armor milik Yamamura sampai tembus ke kulit.
"Urgh!!" rintih Yamamura sambil memegangi bahunya yang terluka. Setetes darah berwarna merah tua mengalir dari luka goresan itu. Makhluk itu mengerem langkahnya di halaman dungeon. Wujud asli dari sang penyerang sekarang terlihat dengan jelas di bawah cahaya obor. Seekor rusa kutub bermata merah dengan hidung yang juga berwarna merah. Hawa jahat terpancar kuat darinya. Sebuah panel notifikasi muncul di hadapan Yamamura.
...[ | Special Quest Series |...
...Quest 1...
...Quest Title: Nightmare of Christmas....
...Rank: ???...
...Place: Winter Region....
...Reward: ???...
...Client: ???]...
"Pantas saja dungeon tadi tidak ada boss-nya. Ternyata dia, toh, boss yang sebenarnya. Dari awal aku sudah merasa aneh. Mana mungkin orang bisa jadi tidak waras cuma karena minion dan perangkap," ujar Yamamura. "Rusa yang bisa meraung ..., sudah jelas dia bukan rusa biasa."
Rusa jadi-jadian tadi kembali meraung, kemudian bersikap layaknya banteng yang tengah bersiap untuk menyeruduk.
(Author: Awkwkwkwk, rusa jadi-jadian anjir XD
Narator: Gimana, komedinya yang ini kerasa, 'kan?
Author: Kerasa dong XD
Narator: AKHIRNYAAAA KERJA KERASKU DIHARGAI OLEH SANG AUTHOOORRR :")
Author: Emang biasanya gak kuhargai?
Ryugai: Biasanya, 'kan, kamu nindas kami cuma karena kesalahan-kesalahan kecil :"
Author: Dahlah, kok malah jadi bahas itu, sih? Lanjut lagi ceritanya.
Yamamura: Menghindar dari kesalahan, nih -_-"
Yuukaru: Emang kapan author pernah mau disalahkan?
Ryugai: Gak pernah :v)
"Apa yang kau lakukan di sini?!" bentaknya dengan suara yang berat dan menggema. "Beraninya kau memasuki wilayahku!!! Aku tidak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup!!!"
"Begitu, ya ...." Yamamura tersenyum menantang. Ia melakukan kuda-kuda, menciptakan anak panah dan memasangnya di tali busur, lalu bersiap dengan posisi memanah.
"Kalau itu keinginanmu ..., habisi saja aku kalau kau bisa!!!"
To be continued