Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: Mengapa?! (Part 10)



"KENAPA CUMA KAU YANG DIANGGAP SEBAGAI PAHLAWAN?!" Greed menyemburkan seluruh kemarahannya. "MENGAPA, GURU?!"


"MENGAPA?!"


Greed mengubah wujudnya menjadi monster landak raksasa, kemudian bergulung dan mencabut duri-duri di punggungnya hingga terbang secepat kilat ke segala arah. Wajahnya dipenuhi oleh air mata kekesalan. Dengan cepat, Wakil Kepala Dai menciptakan kubah raksasa berwarna hitam yang langsung mengurung Greed sehingga dirinya, Ryugai, dan pasukannya tidak terkena duri yang setajam peluru itu.


"MENGAPA?!" Greed terus menyemburkan kemarahannya. "MENGAPA?!!!"


"KITA SAMA-SAMA BERBEDA DARI YANG LAIN!!! AKU MEMILIKI KEKUATAN MONSTER DAN KAU TIDAK BISA SIHIR OFENSIF, HANYA BISA SERANGAN FISIK DAN SIHIR DEFENSIF. TAPI ..., KENAPA ...?! KENAPA CUMA KAU YANG DIAKUI OLEH DUNIA?!"


"KENAPA CUMA KAU YANG DIANGGAP SEBAGAI PAHLAWAN?!"


Dai hanya bisa terdiam sambil menatap kubah yang mengurung Greed. Tatapannya menyiratkan rasa iba.


"GURU, JAWAB AKU!!!"


"KENAPA?! KENAPA CUMA KAU?!"


Greed mengubah wujudnya menjadi naga hijau, kemudian menerobos dan menghancurkan kubah yang diciptakan oleh gurunya. Ia kembali mengubah wujudnya, kali ini menjadi rubah kilat. Selanjutnya, ia menyerang Dai dengan kecepatan yang amat tinggi. Namun, berkat indra pendengaran Dai yang sangat tajam, ia berhasil mengetahui letak Greed. Greed kembali harus merelakan tubuhnya menjadi bola sepak bagi kedua kaki Dai. Untuk kedua kalinya, dia ditendang dan terpental sejauh beberapa meter hingga tercebur ke laut.


(Author: ngakak oi, bola sepak 😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣)


Tak menyerah, Greed kembali mengubah wujudnya. Kali ini menjadi Minotaur. Dia menyerang Dai sekali lagi, tapi kembali gagal. Begitulah. Dia terus berganti wujud menjadi berbagai jenis monster, tapi akhirnya selalu gagal. Dia berubah wujud menjadi slime dan mencoba memakan gurunya itu sekali lagi, tapi malah berakhir tersiram oleh asam sulfur.


"Aku tak akan menyerah!!!" seru Greed sambil mencoba memadatkan tubuhnya kembali. "Aku pasti akan mengalahkanmu, guru!!!"


Mendengar itu, Dai langsung teringat akan sosok Greed alias Yuta ketika dia masih menjadi muridnya. Dulu, Yuta juga seringkali gagal dan kalah ketika berlatih tanding. Namun, dia tak pernah menyerah. Bahkan saat ini sosok Yuta kecil tampak berada di samping Greed.


"Aku pasti akan mengalahkanmu, guru!!!"


Dai tersenyum. "Kau ternyata masih belum berubah, ya, Yuta."


"Sayangnya, meski semangatmu itu masih ada, kau sekarang sudah menjadi sosok yang menyedihkan. Hidup dalam kebencian. Aku harus segera menyelamatkanmu dari kegelapan. Aku tak boleh membiarkanmu berlama-lama di jalan kebencian lagi. Aku harus segera mengakhiri pertarungan ini."


"Mungkin pakai barrier anti sihir? Ah, tapi Floranius adalah tipe monster kelas atas dan sihir regenerasinya termasuk tingkat ultimate. Berarti, hanya ada satu cara itu. Eh, tunggu dulu. Risikonya terlalu besar. Ah, masa bodoh lah. Ini semua demi Desa Arafubi yang kucintai!!"


"Forbidden Magic: Ultimate Magic Undo!! Sacrifice Left Hand!!!"


Dengan segera, tubuh slime Greed berhenti memadat dan mulai mencair kembali. Di saat bersamaan, lengan kiri Dai hancur menjadi pecahan-pecahan berwarna hitam legam, membuatnya mengerang kesakitan. Darah mengucur deras dari lengan bajunya.


"Gu-Guru .... Kau ... mengorbankan lengan kirimu untuk mengalahkanku?" Greed menatap tak percaya.


"Ya," ucap Dai sambil tersenyum. "Apapun itu akan kukorbankan, asal Desa Arafubi bisa selamat."


"Greed, kau tadi bertanya kenapa cuma aku yang diakui oleh dunia, 'kan? Akan kujawab pertanyaan itu. Aku diakui oleh dunia karena meski berbeda dan tertindas, aku tetap teguh pada jalan cahaya, sedangkan kau melenceng dari jalan cahaya dan lebih memilih jalan kegelapan. Kau lebih memilih berpihak kepada ras monster. Kau hidup dalam kebencian. Tujuan hidupmu hanya untuk membalas dendam. Benar-benar menyedihkan."


"Jadi, kau membunuhku untuk menyelamatkanku dari hidup yang menyedihkan ini?" Greed tersenyum miris.


"Hei, guru. Apa kau masih ingat ... janjiku waktu itu?"


"Huh?"


Kilasan memori masa lalu kembali terproyeksi di benak Dai. Tampak sesosok pria botak tengah ditindas oleh para bandit. Anak kecil yang berada di sampingnya hanya mampu diam, tak berani membela.


"Hei, cepat serahkan uangmu."


"Aku takkan menyerahkannya kepadamu!!!"


"Heh, gak bisa sihir ofensif saja belagu. Cepat serahkan atau kau akan berakhir babak belur."


Si pria botak tetap teguh pada pendiriannya. Bahkan tubuhnya tidak tampak gemetar sedikitpun.


"Kalau begitu, rasakan ini!!!"


"Argh!!!"


"Guru!!!"


"Oi, jangan apa-apakan guruku!!!"


"Guru? Pria lemah yang gak bisa sihir ofensif ini gurumu? Hahahahaha!!!" Sang ketua bandit tertawa terbahak-bahak. "Gurunya saja sudah payah, apalagi muridnya."


"Cepat minggir kalau kau tak mau babak belur, bocah."


"Tak akan!!!"


"Kalau begitu, rasakan ini!!!"


"Kau mau mati, hah, bocah?! Kau mau babak belur?! Buat apa kau melindungi guru payahmu itu?!"


"Dia bukan guru payah!!! Dia bukan guru lemah!!! Kemampuan sihirnya memang hanya ada yang defensif, tapi kemampuan fisiknya luar biasa!!! Dia pasti akan bisa jadi orang yang hebat!!!"


"Hah, palingan si payah itu cuma akan jadi pengemis."


"Dia tidak payah!!! Jangan panggil dia si payah!!!" Si bocah masih terus berseru di tengah pukulan yang menghujaninya. "Dia adalah guruku yang sangat hebat!!!"


"Yuta!! Sudah!!! Kita serahkan saja uangnya." Sang pria botak terlihat khawatir.


"Bodoh!!! Aku tak bisa menyerah sekarang!! Gak mau!!!"


"Sudah kubilang hentikan!! Kau mau mati, ya?!"


"Gak mauuu!!!"


Melihat muridnya tersakiti, sang pria botak pun mulai naik pitam. Dikepalkannya kedua tangannya erat-erat, kemudian dia meninju kelompok bandit tersebut bertubi-tubi.


"Agh!! Apa ini?!"


"Kemampuan sihirnya jelas-jelas tidak ada yang ofensif, tapi kemampuan fisiknya-"


"Sial!! Kita harus kabur!!!"


"Lari!!!"


"Aku tak akan melupakan ini, sialan!! Pasti akan kami balas!!! Tunggu dan lihat saja!!!"


Kemudian, sudut pandang berganti. Matahari sudah mulai terbenam dan langit kini telah berwarna jingga. Tampak sang pria dan sang anak tengah duduk di kursi yang ada di suatu lapangan yang tertimpa cahaya oranye senja.


"Guru tadi hebat sekali!!" Si anak membuka pembicaraan, memuji gurunya.


"Ah, biasa saja." Si pria botak menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. "Kau juga hebat, Yuta. Kalau aku jadi kau, pasti aku sudah kabur."


"Guru. Apa aku bisa jadi sekuat guru?"


"Tentu saja. Suatu hari nanti, kau pasti akan menandingiku. Aku percaya itu."


"Kalau begitu, aku berjanji!" Si anak bangkit berdiri dari posisi duduknya. "Aku berjanji akan menandingi dan mengalahkan guru suatu hari nanti. Maukah guru menunggu sampai hari itu tiba?"


"Tentu saja." Sang pria botak mengusap-usap kepala anak yang bernama Yuta itu."Aku akan menunggu."


Kilasan-kilasan memori itu kemudian lenyap. Dai tersadar dari lamunannya. Dia baru saja ditarik kembali menuju kenyataan.


"Ya," sahutnya sembari tersenyum miris. "Hari itu, selain berjanji kepadaku kalau kau akan mengalahkanku, kau juga mengakui keberadaanku untuk pertama kalinya."


"Bodoh sekali aku." Air mata kesedihan yang murni mulai mengaliri wajah Greed. Ya, dia mengeluarkan air mata walau berada di wujud slime. "Aku yang berjanji kepada guru, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa menepatinya. Padahal sudah dua puluh tahun berlalu, tapi aku masih belum bisa mengalahkan guru."


"Tidak masalah," sahut Dai. Air mata juga mulai mengaliri wajahnya. "Tidak masalah, Yuta."


"Maukah guru ... terus menungguku?"


"Ya," sahut Greed. "Aku tetap akan menunggu sampai kapanpun, sampai hari itu tiba."


Senyum yang terukir di wajah Greed semakin mengembang. Tubuhnya hampir mencair seluruhnya.


"Terima kasih ..., guru .... Satu hal lagi, guru boleh memanggilku Yuta lagi."


Dai mengangguk. "Ya ..., sama-sama ...."


"Yuta ...."


To be continued


Fuh, akhirnya Greed mati juga XD Awokwokwokwok. Akhirnya satu-satunya masalah yang tersisa hanya Azadrasil. YEY!!! *ditampol Greed*


Greed: ni author lacknad keknya ga ikhlas bikin gua mati dengan damai begini -_-


Gimana menurut kalian chapter kali ini? Mengharukan, nggak? Author sengaja buat backstorynya Greed indah seperti itu supaya kalian menghapuskan pola pikir ‘yang jahat sampai kapanpun akan tetap jahat’ dan menanamkan pola pikir ‘everyone is silver dan semuanya hanyalah korban dari ketidakadilan takdir.’ Karena ..., yah kalian tahu, ‘kan, author orangnya gimana XD Menuju tak terbatas dan melampauinya!!! Awokwokwokwok.


Sekian untuk chapter kali ini dan terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan. Sampai jumpa di chapter berikutnya!! Bye!!


-Author