Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: Final Fight Bagian 1 (Part 11)



"Sial!!" umpat Arai sambil melindungi dirinya dari laser yang dipancarkan oleh salah satu ranting Azadrasil menggunakan perisai energi berwarna kemerahan. "Kau ini benar-benar merepotkan, pohon besar!!"


"Uakh!!"


Karena lengah, Genbu beserta naga hitam raksasanya terkena ledakan dari salah satu buah ranjau dan terpental ke belakang. Dipeganginya bahu kanannya yang terluka.


"Kau cukup kuat juga, pohon raksasa!!" Dia tersenyum penuh semangat.


"Hoi, Genbu!" panggil Ryugai sambil melambaikan tangannya. "Katanya Kapten Tengkorak itu sudah memasang barrier anti sihir, lalu kenapa kalian masih bisa pakai sihir?"


"Karena kami bawa alat penerobos barrier anti sihir." Genbu menyahut dengan sedikit berteriak agar suaranya tak kalah dari kebisingan pertarungan. Dia mengeluarkan sebuah alat berhiaskan tombol dan melemparkannya kepada Ryugai.


"Terima kasih," ujar Ryugai sambil menangkap alat itu dan menekan tombolnya.


"Berikutnya, giliranku!! Inukai!!"


Tepat setelah dipanggil, capung raksasa peliharaan Ryugai langsung muncul di sebelahnya. Ryugai bergegas melompat menaikinya. Si capung langsung lepas landas. Senyum terukir di wajah Ryugai dan aura pembunuh yang kelam menyelimuti udara di sekitarnya.


"Bagaimanapun juga, aku masih seorang pembunuh sampai sekarang!!"


"Hanya ada satu perbedaannya, yaitu aku akan menggunakannya untuk melindungi jalan cahaya!!"


"Ini pertama kalinya aku menggunakan kemampuan ini untuk hal yang baik, ya?" Ryugai tertawa pelan.


"Hei, kita tak bisa membiarkan mereka pakai sihir!!!" Kapten Tengkorak menyiapkan kuda-kuda bertarungnya, diikuti oleh seluruh prajurit monster. Namun, anehnya sihir mereka tak bisa keluar.


"Heh? Kenapa?" Kebingungan langsung menghampiri pasukan 99 ras monster.


"Kalian pikir hanya kalian yang bisa teknik pembuatan barrier anti sihir, huh?"


Suara itu membuat semua prajurit segera menoleh ke sumber suara. Tampak seorang pria botak tengah melayang, terbang tanpa sayap, mendekati posisi Sang Kapten. Ya, beliau adalah Wakil Kepala Angkatan Darat Dai Fist.


"Ya," sahut Dai dengan wajah datar.


"Jangan ganggu. Ini pertarungan antara kami dengan Azadrasil," lanjutnya sebelum kembali lepas landas, terbang menuju tempat Azadrasil berada.


"Sialan!!!"


Dengan kesal, si kapten menendang pasir di pesisir pantai. Gigi-giginya bergemeretak kencang, menandakan bahwa amarah sedang menguasai tubuhnya.


"Sekarang, apa yang harus kulakukan?!"


"Harapan kita satu-satunya ... cuma Azadrasil, Kapten." Sang Wakil Kapten menimpali. "Lagipula, sepertinya pohon raksasa itu cukup kuat. Jadi, anda tenang saja, Kapten."


Menyadari bahwa ada manusia yang sedang mendekatinya, Azadrasil pun bergegas memancarkan laser beam berwarna hitam pekat dari seluruh rantingnya, sekaligus melepaskan buah-buah ranjaunya yang berwarna-warni dari tangkai mereka.


Dai tersenyum penuh semangat. Kedua matanya bagai dibakar oleh nyala api. Dengan cepat, dipukul dan ditendangnya semua buah ranjau tersebut hingga terlempar dan meledak di berbagai arah, kemudian dia menghindari semua laser beam.


Selanjutnya, Azadrasil memancarkan laser ke arah Ryugai, Genbu, dan Arai yang sedang memulihkan luka-luka mereka. Dengan sigap, Dai memotong salah satu dari sekian banyak ranting kering milik pohon besar itu, kemudian menggunakannya untuk melindungi dirinya, Ryugai, Arai, dan Genbu dari laser tersebut.


"Hei! Bagaimana keadaannya?" Dai menoleh sambil melempar ranting raksasa yang sudah kering kerontang tersebut ke bawah.


"Oh, Wakil Kepala Dai!! Itu berarti ... Greed sudah dikalahkan, ya? Ini secercah cahaya harapan bagi ras manusia!!" Arai tersenyum riang. "Ah ..., tapi lengan kirimu ...."


"Ah, ini?" Dai berujar sambil memandang tempat di mana lengan kirinya seharusnya berada. "Lupakan saja. Ini bukan apa-apa. Greed sudah kukalahkan. Yang penting sekarang adalah keadaan di sini."


"Pohon raksasa itu kuat sekali. Meski kami, pasukan angkatan darat, dan pasukan angkatan udara terus menyerangnya tanpa henti, goresan-goresan yang kami timbulkan langsung hilang tanpa bekas dalam waktu kurang dari dua detik. Asam sulfur dan ledakan mesiu juga tidak bekerja," sahut Ryugai dengan wajah yang terlihat nyaris putus asa.


"Kalau begitu, hanya ada satu cara," ucap Dai. "Aku akan menggunakan Forbidden Magic."


To be continued