Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 54: Hukum Piramida Kehidupan



Sekedar menginformasikan, ada perubahan pada judul chapter ini. Judul "Rumah Kayu di Tengah Hutan" tidak jadi dipakai karena ternyata climax chapternya bukan itu. Dengan demikian, preview judul chapter pada chapter lalu juga akan diubah. Sekian dan terima kasih :v


 --------------------------------------------------------


Dua setengah jam sudah berlalu sejak Yamamura berhenti beristirahat dan melanjutkan perjalanannya. Letak matahari saat ini menandakan bahwa langit biru sebentar lagi akan digantikan oleh langit senja. Adventurer muda itu tampak sedikit lebih segar sekarang karena di tengah jalan tadi dia menemukan sungai yang berair jernih dan minum dari sana. Meskipun begitu, ia masih terlihat kelaparan.


"Sial. Kenapa hutan ini sepi sekali? Hewan-hewan yang bisa dimakan di sini kelihatannya pandai bersembunyi," gerutunya. "Atau memang jumlah mereka sedikit? Makanya kawanan harimau tadi terlihat kelaparan begitu."


Di saat Yamamura sudah merasa dirinya hendak ambruk karena kelaparan, di kejauhan, dari balik cakrawala, muncul bagian belakang dari sebuah rumah kayu. Itu membuatnya menaikkan alis dengan heran.


"Rumah? Di tengah hutan begini? Siapa yang tinggal di sana?"


Dia menghampiri rumah itu dan mencari pintu masuknya. Awalnya ia ingin mengetuk pintu, tapi ternyata pintu masuk rumah tersebut tidak terkunci.


"Tidak terkunci? Pemiliknya ceroboh atau bagaimana?"


Dengan perlahan dan sopan, Yamamura membuka pintu itu.


"Permisiii ...."


"Halo? Ada orang?"


"Rumah ini kosong, ya?" gumam bocah berambut keemasan itu. "Tapi masih belum berdebu. Mungkin baru saja ditinggalkan."


Baru saja masuk, Yamamura sudah disambut oleh piring-piring berisi makanan yang tampak lezat di atas meja. Air liurnya menetes. Tanpa pikir panjang, dia langsung memakan semua itu.


"Mungkin pemilik rumah ini pergi dengan sangat terburu-buru sampai meninggalkan makanannya. Yah, mending kumakan saja daripada terbuang. Lagipula cacing-cacing di perutku sudah demo," pikirnya.


 --------------------------------------------------------


(Di tempat lain ....)


"Aku bukan siapa-siapa, dan akan selamanya menjadi bukan siapa-siapa."


(Note: Supaya feelsnya lebih terasa, baca chapternya bisa sambil dengerin soundtrack "Monologue" dari Oregairu. Btw saya bukan anggota golongan "Gw Banget", yak 🗿)


Matahari mulai menenggelamkan dirinya ke cakrawala, mewarnai langit dengan cahaya oranye senja. Seorang anak lelaki dengan rambut hitam acak-acakan dan iris mata keemasan tampak sedang berjalan di tengah hutan sambil memikul cangkul. Tampaknya ia baru saja selesai berladang dan hendak pulang. Anak itu melihat ke arah matahari terbenam sesaat, kemudian mempercepat langkahnya. Saat malam tiba, hutan akan menjadi lebih berbahaya karena akan semakin banyak hewan buas yang aktif.


Seekor kupu-kupu dengan sayap biru yang indah terbang melewatinya, kemudian memutari bunga-bunga. Sang anak berhenti sejenak dan memandang kupu-kupu tersebut dengan raut wajah datar.


"Mungkin orang lain akan langsung kagum begitu melihat pemandangan ini, tapi tidak denganku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya."


Dugaan si anak rupanya tak keliru. Beberapa saat kemudian, seekor belalang sembah yang berkamuflase dengan sempurna memanfaatkan kesempatan emas saat kupu-kupu tadi sedang lengah dan menerkamnya dengan kecepatan tinggi. Belalang sembah itu segera mencabik-cabik tubuh si kupu-kupu yang tengah berusaha melawan dengan cara mengepakkan sayap lebarnya berulang kali. Namun, usaha kupu-kupu tersebut sia-sia. Perlahan, gerakan sayapnya melemah dan akhirnya terhenti sepenuhnya. Ia berakhir menjadi makanan bagi sang belalang sembah.


"Ya, tepat seperti dugaanku," batin anak lelaki itu.


"Kupu-kupu itu sama seperti kedua orang tuaku."


"Dia berusaha melawan dengan gagah berani, tapi berakhir mengenaskan."


"Di dunia ini, mereka yang berada di posisi terbawah tak berhak untuk hidup dengan tenang. Baik itu dalam hal perekonomian, rantai makanan, maupun yang lainnya."


"Mereka yang lebih lemah akan berakhir menjadi pengorbanan bagi yang lebih kuat. Aku menyebut ini sebagai Hukum Piramida Kehidupan. Bagi mereka yang tidak berada di puncak, hanya perlu menunggu waktu sampai mereka dimakan dan mati dengan cara tragis. Tak peduli seberapa keras kau berjuang, endingnya akan selalu sama, sebab itulah cara kerja dunia ini. Dunia penuh kekejaman yang tak diinginkan oleh siapapun. Dunia yang seharusnya tidak pernah eksis sejak awal. Namun, tak ada seorangpun yang bisa mengubah sistem yang absolut ini."


"Mereka yang tak ingin dianggap sebagai pengecut akan terus membuat impian besar dan terus melawan dengan berharap pada ketidakpastian, sampai pada akhirnya mereka sadar bahwa semua usaha mereka sia-sia. Menurutku, diam adalah sikap yang paling tepat. Orang-orang akan menyebutku 'pengecut', tapi inilah jalan hidupku. Untuk mencegah timbulnya kekecewaan terhadap hasil, kita harus menurunkan ekspektasi."


"Sebagai seseorang yang berada di posisi terbawah dan telah menyadari bahwa berharap pada ketidakpastian bukanlah langkah yang tepat dalam menghadapi kejamnya dunia, yang bisa kulakukan hanyalah menanti datangnya maut yang mungkin akan membebaskanku dari semua penderitaan ini. Meski begitu, aku sama sekali tidak berencana untuk bunuh diri. Masih ada beberapa hal yang harus kuurusi di dunia ini."


"Apakah aku ... marah terhadap semua ini? Yah, tentu saja. Tapi semua kemarahanku telah habis ditelan oleh kejamnya realitas. Lagipula, marah dan dendam hanya akan membuatku terobsesi serta membuang-buang staminaku. Aku juga sudah tidak peduli lagi dengan hak, kemenangan, atau impian."


"Pada dasarnya, kami dari kalangan bawah tidak akan pernah bisa melakukan hal yang besar."


"Sebab kami bukan siapa-siapa, dan akan selamanya menjadi bukan siapa-siapa."


Angin sore meniup rambut hitam pendek milik anak lelaki itu. Menyadari bahwa hari sebentar lagi akan gelap, dia kembali berjalan sambil terus mempercepat langkah kakinya.


"Kurasa tesisku akan kuakhiri sampai di sini. Aku tidak akan mengembangkannya menjadi sebuah makalah, karena aku bukan filsuf atau semacamnya. Lagipula siapa yang akan tertarik dengan topik ini?"


"...."


"Aku dari tadi bicara dengan ... siapa, sih?"


"Kurasa dunia ini sudah membuatku tidak waras."


Matahari hampir tenggelam sepenuhnya ketika sang anak tiba di rumahnya. Sebuah rumah kayu dua lantai yang terlihat sederhana. Ia hendak membuka kunci pintu, tapi ternyata pintu itu tidak terkunci.


"Eh?"


Dia memperhatikan sekeliling pintu dan mendapati jejak kaki yang tidak dikenalnya dan mengarah ke pintu. Berpikir bahwa pencuri mungkin telah membobol rumahnya, anak lelaki tersebut bergegas membuka pintu. Dorongannya yang dipenuhi kepanikan membuat pintu itu terbuka dengan kasar sampai membentur dinding. Tampak seorang anak laki-laki berambut keemasan sedang menyantap makanan yang tersaji di meja. Ya, anak itu adalah Yamamura.


"Kau ... siapa?"


Melihat sang tuan rumah datang, Yamamura langsung menghentikan aktivitas makannya. Dengan wajah panik bercampur takut yang berusaha disembunyikannya dengan senyum kecut, dia mengangkat tangannya, menyapa pemilik rumah.


"H-Hai ...."


To be continued


Author: Kayaknya sebentar lagi akan terjadi penggebukan, nih XD


Yamamura: Woy, thor. Bantuin aku, la. Jangan pelit-pelit jadi author.


Author: Gamau, ah. Salahmu sendiri ga ngecek dulu itu rumah beneran kosong atau enggak.


Yamamura: Pelit. Liat aja ntar pas meninggal kuburannya sempit.