Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 61: Keputusan Ryugai (Part 2)



"Ke-Kenapa harus ahli strategi?!"


"Apa boleh buat. Ahli strategi pasukan kami sedang sakit dan kami tidak punya ahli strategi cadangan."


"Saya mengerti, tapi kenapa harus saya?" Ryugai yang masih terkejut mencoba mengelak dari permintaan tolong itu.


"Anda berhasil membuat strategi hebat yang berhasil mengalahkan Minotaur. Anda punya bakat alami sebagai ahli strategi. Sayang, 'kan, kalau bakat itu disia-siakan?"


"Sial!! Otakku belum siap!!!" gerutu Ryugai di dalam hatinya. "Pengambilan keputusanku akan mempengaruhi masa depan Desa Arafubi. Apa aku bisa melakukannya? Tapi, aku tak bisa lari. Aku tak boleh kabur dari tanggung jawab. Masa depan Desa Arafubi berada di tanganku. Semuanya tergantung pada diriku. Ya sudahlah, pembuatan strateginya spontan saja. Lagipula kalau aku menolak, artinya aku tak percaya dengan kemampuanku sendiri."


"Baiklah. Aku menerima permintaan bantuan kalian." Akhirnya Ryugai mengambil keputusan.


"Terima kasih banyak, Ryugai-sama. Datanglah ke Kantor Pusat Kemiliteran secepatnya."


Setelah mengucapkan itu, kepala prajurit langsung mengakhiri sihir komunikasi yang menghubungkan dirinya dengan Ryugai. Ryugai menatap bulan purnama yang bersinar terang di atas ditemani jutaan bintang yang terlihat indah. Senyum tergambar di bibir merahnya.


"Doakan supaya keputusan-keputusan yang kuambil tepat, ya, ayah, ibu, dan kakak."


————————————————————————


*kriiieett*


Pintu kantor ACMH (Arafubi Central Military Headquarters) terbuka, diiringi oleh derit yang terdengar jelas. Ryugai melangkahkan kakinya memasuki ruangan beralaskan papan kayu dan karpet berkualitas itu. Para prajurit yang sedang berjaga langsung membungkukkan kepala mereka dengan hormat begitu mengetahui kalau tamu yang datang itu adalah Sang Pahlawan, Ryugai Yuzumoto.


"Oh, ayolah. Tidak perlu formal begitu. Memangnya aku jenderal kalian?" Ryugai tertawa dengan pelan karena dia tidak terbiasa dengan formalitas khas militer. "Angkat kepala kalian."


"Baik!!" Seluruh prajurit mengangkat kepala mereka diiringi oleh seruan serempak yang terdengar tegas dan mantap. Telapak tangan mereka terpasang di dahi, memberi hormat, kemudian kembali ditempatkan di samping pinggang dengan cepat hingga menimbulkan suara benturan kecil.


"Memangnya pangkatku lebih tinggi dari mereka, ya?" Ryugai terdiam dengan bulir keringat mengalir di kening. "Ya ..., aku menyelamatkan mereka, sih .... Wajar saja kalau rasa hormat mereka kepada diriku agak berlebihan."


"Di mana kepala prajurit?" tanya Ryugai.


"Kepala Prajurit Akira dan Wakil Kepala Prajurit Dai ada di ruangan mereka," ucap salah seorang prajurit. "Sebentar, saya panggilkan." Ia melangkah menuju ruang kepala prajurit dengan langkah tegas dan formal.


Beberapa detik kemudian, prajurit itu kembali bersama dua orang berpakaian militer dengan beberapa atribut serta lencana terpasang di seragam mereka. Ryugai mengenali salah satu dari kedua orang itu. Pria yang sama dengan yang bertarung bersamanya melawan Sang Raksasa Banteng, Minotaur, Kepala Prajurit Akira.


"Wah, wah. Tak kusangka kau langsung datang," ucap kepala prajurit.


"Kepala prajurit!!" seru Ryugai sembari memberi hormat kepada pria paruh baya tersebut.


"Tak usah formal, Ryugai. Kau pernah menyelamatkan Desa Arafubi sekali, jadi pangkatmu adalah pahlawan. Pangkat tersebut setara dengan pangkat kepala prajurit milikku," sahut Kepala Prajurit Akira. "Ngomong-ngomong, perkenalkan. Ini wakilku. Wakil Kepala Prajurit Dai. Dia orang yang agak ceroboh, tapi dia baik."


"Salam kenal." Pria berkumis tipis yang berada di sebelah Kepala Prajurit membungkuk memberi hormat, tapi naas, kelingking kaki kirinya terbentur kaki meja.


"ADUH!!!" jeritnya. "Addduuuuh!!!"


Ketika wakil kepala sedang melompat-lompat kesakitan sambil mengangkat kaki kirinya yang terbentur, kesialan kembali menimpanya. Sang Wakil menabrak tembok.


"Wakil kepala prajurit!!"


"Ti-Tidak usah dipikirkan ...." Kini giliran Kepala Prajurit Akira yang keningnya dialiri oleh bulir keringat. Pasti di dalam hati beliau berteriak 'malu-maluin banget, sih!!!'


"Y-Ya ...," ujar Ryugai."Bagaimana orang ceroboh seperti dia bisa jadi wakil kepala prajurit?!" batinnya.


"Mari ikut saya. Ruang penyusunan strateginya ada di sini. Petinggi-petinggi lain sudah berkumpul. Wakil Kepala Prajurit Dai akan menyusul nanti." Kepala prajurit berjalan duluan di depan, menjadikan dirinya sebagai penunjuk arah bagi Ryugai.


"Ah, ya." Sadar dari lamunannya, Ryugai pun melangkah mengikuti kepala prajurit.


To be continued


Wah, kira-kira strategi apa ya, yang akan dibuat oleh Ryugai? Dan apakah strategi itu akan berhasil? Atau Ryugai malah akan menghancurkan harapan yang telah diberikan oleh Desa Arafubi kepadanya? Saksikan di chapter berikutnya :v Jangan lupa tinggalkan jejak berupa krisar, vote, dan comment yaa. Sampai jumpa lagi ^^


Next Chapter:


Day 61: Strategi Kraken (Part 3)