Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 33: World of Nightmare



Kediaman keluarga Yuzumoto.


18:45, Waktu Tokyo.


Langit dipenuhi oleh awan kelabu. Hujan mengguyur kota Tokyo yang diselimuti oleh kegelapan malam. Sesekali petir menyambar, membuat suasana menjadi mencekam. Namun, Aojin dan Yamamura masih setia menunggu kepulangan kedua orangtua mereka di ruang tamu, tak peduli pada suara guntur yang membuat mereka serasa berada di dalam film horor.


"Kok, perasaanku tidak enak, ya?" batin Yamamura sembari bertopang dagu. "Firasat buruk. Apa aku benar-benar sudah kembali ke dunia nyata? Atau jangan-jangan ...."


*blaaaarrr!!!*


Bersamaan dengan suara sambaran guntur, sepasang mata berwarna merah menyala melintas di benak Yamamura, membuatnya terperanjat dan segera mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Ada apa, kakak?" tanya Aojin sambil mengalihkan pandangannya dari novel yang sedang dibacanya. "Masa' sudah 12 tahun masih takut petir?"


"Tidak, bukan itu," ucap Yamamura. Dia meraba dahinya, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Tadi ...."


"Tadi ...?" Aojin memiringkan kepalanya, menunggu jawaban kakaknya dengan sabar.


"Ah, tidak," sahut Yamamura. "Lupakan saja."


"Kakak aneh," ucap Aojin. Dia kembali membaca novel yang dipegangnya.


"Sial .... Sebenarnya tadi itu apa?!" Yamamura menundukkan kepalanya dengan tatapan kesal karena dia tidak bisa mengetahui maupun memperkirakan apa yang baru saja terjadi. "Apa ini ulah rusa jadi-jadian itu? Apa dia masih mengikutiku sampai saat ini? Tapi, kalau begitu, berarti semua kejadian yang kualami sebelumnya bukan mimpi, dong?"


"Jadi, sebenarnya yang mana yang benar?! Sial!!"


Ketika Yamamura tengah berpikir keras, bel berbunyi, pertanda bahwa ada seseorang yang datang. Di saat bersamaan, kedua mata merah menyala tadi kembali muncul di benak Yamamura dan menghantuinya, menciptakan aura yang aneh dan mengerikan.


"Suara bel itu .... Jangan-jangan ...."


"Ah, itu pasti ayah dan ibu!" ujar Aojin riang sambil menutup novelnya dan meletakkannya di atas meja. Dia bergegas menuju pintu.


"Tunggu, kalau dunia ini bukan dunia nyata, berarti-"


"AOJIN!!! JANGAN BUKA PINTU ITU!!!" Yamamura berteriak sekuat tenaga, berusaha menghentikan adiknya.


"Sudah kuduga, ini bukan dunia asli!!"


"AYAH!!! IBU!!!"


Suara tawa yang berat dan khas kembali terdengar, diikuti munculnya sepasang mata merah di mana-mana. Itu tawa jahat Rudolf. Berarti, ini dunia ilusi milik rusa monster itu.


Salah satu pasangan mata merah melesat ke arah Yamamura, lalu penglihatannya tertutupi oleh warna hitam legam. Ketika penglihatannya kembali, ia mendapati dirinya sedang berada di sebuah tempat bersalju yang gelap gulita.


"Di mana ini?" ucap Yamamura. "Rusa kurang ajar itu ..., apa lagi yang direncanakannya?"


Bocah tersebut berusaha meraba-raba untuk mencari informasi tentang sekelilingnya, lalu telapak tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket. Ia mendekatkan tangannya ke matanya untuk melihat lebih jelas cairan apa itu, dan di saat yang bersamaan matanya terbiasa dengan kegelapan.


Darah. Cairan itu adalah darah merah yang masih segar, dan pemilik darah itu adalah Aojin yang sekujur tubuhnya sudah dipenuhi oleh luka dalam bekas tusukan benda tajam. Yamamura pun terperanjat dan segera menghampiri adiknya itu.


"AOJIN!!!"


"Kenapa ..., kenapa ini bisa terjadi?!" jeritnya penuh emosi.


"Apa ini nyata? Tidak, tidak!! Tolong yakinkan aku kalau ini cuma mimpi buruk!! Aku harus keluar dari sini!!"


Tawa jahat Rudolf kembali terdengar. Ratusan mata berwarna merah menyala muncul dari balik kegelapan.


"HAHAHAHAHAHAHAHA. KAU TAKKAN PERNAH BISA KELUAR DARI SINI," ucap Rudolf dengan suara berat dan menggema. "KAU AKAN TERJEBAK DI SINI SELAMANYA, BERSAMAKU. KITA AKAN BERSENANG-SENANG BERSAMA. SUDAH LAMA AKU TIDAK KEDATANGAN TAMU DI NIGHTMARE WORLD INI."


"SEKARANG ..., MARI KITA MULAI PERMAINANNYA."


Cuaca di tempat tersebut tiba-tiba berganti menjadi badai salju. Diiringi oleh hembusan angin kencang, Rudolf yang berada dalam wujud monster beserta teman-teman sesama rusa pembunuhnya keluar dari balik kegelapan, menampakkan tanduk, taring, dan cakar tajam mereka. Senyum ala psikopat menghiasi wajahnya.


To be continued


Tiba-tiba genrenya jadi psychological sama horror, nih. Gapapa, lah. Soalnya menyiksa mental chara dengan cara biasa terlalu membosankan. Mending nyiksa mental chara pakai metode ala-ala film horor, biar makin seru XD *ditampol Yamamura*


Yamamura: Kenapa author psychopath satu ini ga pernah puas nyiksa chara _-"