
Ruang Operasi CCTV, SMP Yuuki.
"Hm?" Seorang petugas menaikkan alisnya bingung ketika melihat salah satu layar di hadapannya yang menampilkan rekaman hasil CCTV kelas 9-B mendadak mati. Tak lama kemudian, layar itu kembali hidup dan menampilkan adegan seorang siswi meninju wajah siswi lainnya. Setelahnya, warna hitam legam kembali menguasai layar tersebut.
"Hah?!" Petugas itu terkejut. "Perundungan? Aku harus segera melaporkan ini kepada para guru!!"
—————————————————————————————
"Kemudian ... peristiwa itu pun terjadilah ...."
"Polisi datang ke rumahku bersama dengan Yukiko yang entah sejak kapan wajah dan tubuhnya dipenuhi oleh memar-memar palsu. Aku berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya kepada mereka, tapi itu tidak ada gunanya. Mereka sudah menyiapkan bukti palsu. CCTV itu pun hanya menampilkan adegan di mana aku memukul Yukiko, dan semua saksi di kelas mengatakan bahwa akulah yang melakukan perundungan terhadapnya. Tampaknya, ada pihak ketiga yang mengatur semua ini dan menunjukkan bukti-bukti palsu tersebut."
Gadis bernama Yuukaru itu memejamkan matanya, menyusun kembali ingatan yang menyebalkan itu di dalam pikirannya.
"Permisi, saudari Yuukaru. Anda kami tangkap atas tuduhan penganiayaan. Sekarang, tolong ikut kami ke kantor."
"Ta-Tapi, aku tidak melakukan apa-apa!!!"
"Tangkap saja, Pak!! Dia yang sudah mem-bully saya!!!"
"Apa?! Tidak, Pak!! Justru sebaliknya!!!"
"Diam!! Lebih baik turuti perkataan kami dan cepat masuk ke mobil patroli!!"
"Tapi-"
"Tolong jangan paksa kami untuk menggunakan cara kasar!!!"
"SIAL!!!"
Air mata semakin deras mengaliri wajah Yuukaru. Dia memukul kembali keramik lantai sel, kali ini bertubi-tubi.
"Sekarang, tinggal menunggu sidang. Tapi, aku bisa apa? Aku tak punya uang untuk menyewa pengacara. Aku tak punya kenalan ahli hukum atau polisi."
"Sial ...."
"SIAL!!! SIAL!!! SIAL!!! SIAL!!! SIAL!!!"
"Aku tak punya pengacara, MANA MUNGKIN AKU BISA MENANG DI PENGADILAN?! HUKUM MACAM APA INI?! SIALAN!!! KEADILAN ITU TIDAK ADA!!! KEADILAN ITU SAMPAH!!! PERCUMA SAJA AKU TERUS BERUSAHA, KALAU AKHIRNYA YANG MENGGUNAKAN CARA KOTORLAH YANG MENANG!!! Keadilan itu sampah ..., SAMPAH!!! SEMUA HAPPY ENDING HANYALAH FATAMORGANA!!!"
"Tapi, kurasa mengamuk di dalam sel tahanan ini pun tak ada gunanya .... Para petugas polisi itu cuma akan memarahiku karena berisik. Mereka sudah tertipu oleh bukti-bukti palsu. Kabur dari sini? Itu cuma akan membuatku jadi buronan. Hidupku takkan bisa tenang. Lagipula, belum tentu aku bisa lolos dari sel tahanan ini. Siapa yang tahu sistem keamanan apa yang mereka punya di sini.”
Yuukaru menghapus air mata yang memenuhi wajahnya, kemudian menatap ke langit-langit sel tahanan.
"Kurasa ..., yang bisa kulakukan sekarang ... hanyalah berharap akan keajaiban. Walau keajaiban itu tak mungkin ada. Itu semua cuma dongeng yang tak nyata, seperti genangan air palsu di gurun akibat pembiasan cahaya matahari."
Mendadak, suara langkah kaki terdengar, bergema di lorong sempit di depan sel tahanan milik Yuukaru. Menyadari kehadiran seseorang, Yuukaru bergegas menghapus sisa air mata yang masih menempel di wajahnya dan bangkit berdiri, kemudian melangkah mendekat ke jeruji besi sel.
Suara langkah itu semakin nyaring, menandakan bahwa sang pemilik kaki sudah semakin dekat. Sosok sumber dari langkah kaki tersebut kini berada tepat di depan Yuukaru, hanya dipisahkan oleh jeruji besi. Petugas kepolisian yang sama dengan tadi, masih dengan tatapan sinis yang sama.
“Ada perintah baru,” ucap polisi tersebut. “Atasan menyuruhku untuk merekrutmu sebagai alpha tester dari proyek rahasia pemerintah, dunia virtual Purity Online. Kuharap project ini bisa membuka kembali hatimu yang sudah ditutupi oleh kegelapan.”
Kedua alis mata Yuukaru tertaut. Ia menatap bingung. “Project ... Purity Online?”
To be continued
Next Chapter:
Day 63: Virtual Dive (Part 3)
Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca novel ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan comment supaya author bisa terus berkarya ^^