
"Kalau itu keinginanmu ..., habisi saja aku kalau kau bisa!!!"
Rudolf, rusa kutub yang terlihat buas dan beringas itu, berlari sekali lagi ke arah Yamamura dan mencoba menyeruduk. Namun, serangan tersebut berhasil dihindari. Yamamura mencoba menembakkan beberapa anak panah, tapi entah kenapa panah-panah miliknya malah terpantul ke tanah bersalju. Tubuh Rudolf seolah diselimuti oleh perisai tak kasat mata.
"Kok, dia gak terluka, sih?! Panah-panahku tadi, 'kan, tepat sasaran semua!!!" gerutu Yamamura.
Diiringi oleh raungan, Rudolf mencoba menyeruduk sekali lagi. Kali ini dengan gerakan yang lebih cepat daripada sebelumnya. Yamamura yang tidak siap dengan serangan dadakan pun terpaksa menahan serudukan tersebut dengan tangan sehingga beberapa luka goresan timbul di telapak tangan dan lengannya.
Ketika bocah itu bertemu pandang dengan sepasang mata milik Rudolf, waktu seakan-akan berhenti dan kesadarannya tersedot masuk ke dalam bayangan masa lalu kelam yang ada di mata merah tersebut. Kisah itu terproyeksi dengan jelas di pandangan Yamamura, bagai sebuah film virtual-reality.
"Di mana ini?"
Yamamura melihat ke sekeliling dan mendapati bahwa dia berada di sebuah panti asuhan yang dihiasi oleh dekorasi-dekorasi natal. Seorang anak laki-laki berambut merah pendek sedang duduk di kursi dekat jendela, tampak tidak peduli walaupun malam telah larut dan sebagian besar lampu sudah dimatikan. Wajah anak itu bukan wajah orang Asia, tapi wajah orang Eropa. Jadi sudah jelas kalau ini bukan di Jepang. Usianya kira-kira sama dengan usia Aojin, atau mungkin lebih muda lagi.
Beberapa kali pengurus panti asuhan memintanya untuk tidur saja, tapi si anak terus menolak. Akhirnya sang pengurus menyerah dan memutuskan untuk tidur duluan, sementara anak itu kembali memandangi jendela yang gordennya masih terbuka sehingga pemandangan jalan sepi yang dihiasi salju di luar terpampang dengan jelas. Entah apa yang ditunggunya.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Dan lagi ..., kenapa mereka tidak bisa melihatku? Bagaimana kelanjutan pertarunganku dengan rusa jadi-jadian tadi?"
Dengan benak yang masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Yamamura mencoba menundukkan kepalanya untuk melihat bagian bawah tubuhnya. Masih utuh. Bahkan luka-luka yang didapatnya saat bertarung tadi hilang entah ke mana.
"A-Apa wujudku saat ini adalah roh?!" duga Yamamura. "Apa aku sudah mati saat rusa tadi menyerudukku? Jangan-jangan tadi sebenarnya tanduk rusa itu berhasil menembus jantungku!! Tunggu, tunggu. Tapi, kok, aku tidak merasakannya?"
"Berarti ..., aku masih hidup? Bagaimana nasib tubuhku di dunia Neironius? Siapa yang mengirim kesadaranku kemari?"
"Dan ..., yang membuatku lebih penasaran lagi ... siapa ... anak itu?"
Karena terlalu lama menunggu dan tak kuasa menahan rasa kantuk, sang anak pun tertidur di kursi. Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 malam, mendadak terdengar suara tawa khas dari luar panti yang membuat anak tersebut terbangun dan segera menempelkan wajahnya di kaca jendela. Yamamura turut menoleh ke arah jendela dan melihat sebuah kereta luncur melayang yang ditarik oleh beberapa rusa sedang menuju kemari. Si anak terlihat kegirangan, sementara Yamamura terpaku di tempatnya berdiri karena terkejut. Ia mengenal baik suara tawa itu. Suara dari sosok yang selama ini dianggapnya tidak ada.
"O-Oi .... Kau bercanda, 'kan? Mana mungkin .... Ini tidak masuk akal. Masa, sih, dia benar-benar ada ...."
"Santa Claus?!"
To be continued
Yaps maaf baru up sekarang. Kemarin author libur sejenak dulu soalnya ngumpul sama keluarga ngerayain natal, hehe :v *ditampol*
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 27: Curse of Christmas