Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Surat Cinta Bagian 1 (Part 20)



"Jadi kau sudah memutuskannya, ya?" Ryugai tersenyum senang. "Yah ..., baguslah. Pilihan yang tepat."


"Selamat tinggal." Yuukaru bangkit berdiri, kemudian menggeser pelan tangan kirinya ke arah kanan. Sebuah jendela sistem muncul di depannya, menampilkan besar-besar tulisan 'LOG OUT.' Ryugai berusaha untuk tetap terlihat tenang. Meski begitu, sebenarnya saat ini hatinya sedang bergejolak dan dipenuhi oleh rasa sedih.


"Kenapa?"


"Padahal aku yang menyarankannya untuk kembali ke dunia nyata ...."


"Tapi, perasaan apa ini?"


"Rasanya aku ingin ..., terus bersamanya di sini, memandangi bintang-bintang. Aku tak ingin malam ini berakhir dan tidak ingin dia pergi dari sisiku."


"Mungkin ..., apa yang dikatakan teman-temanku di akademi benar? Mungkin perasaan ini yang dinamakan cinta."


"Tapi, sudah terlambat untuk mengungkapkannya sekarang. Dunia ini hanyalah dunia mimpi. Dunia palsu yang tak asli. Semuanya yang ada di sini hanyalah kumpulan data, dan akan kembali ter-reset menjadi zero."


"Jika aku mengungkapkan rasa cinta ini sekarang, itu hanya akan menjadi balok besi yang membebani hatinya. Dia akan menjalani hidupnya dengan penuh kesedihan dan rasa kehilangan. Aku tak mau itu terjadi. Jadi, kurasa lebih baik jika aku tidak menyatakannya."


"Hei, Ryugai."


"Ya?"


"Apa setelah ini, kita masih akan bisa bertemu lagi?"


"Yaahh ..., entahlah ...," sahut Ryugai. "Semuanya tergantung pada takdir dan keberuntungan. Jalan takdir adalah suatu hal yang dipenuhi oleh misteri. Kita tak bisa menebak atau memprediksinya karena kita cuma manusia biasa, bukan time traveler yang bisa sesuka hati pergi ke masa lalu dan masa depan. Tapi, aku yakin ... bahwa selama kita masih percaya bahwa kita akan akan bertemu lagi, maka hal yang kedengarannya mustahil itu akan menjadi mungkin."


"Begitu, ya ...."


"Ah, kebetulan ada bintang jatuh!!" seru Yuukaru sembari menunjuk lintasan cahaya yang melintasi langit malam berwarna biru tua. Gadis itu menoleh ke arah Ryugai. "Ryugai, bagaimana kalau kita mengajukan permintaan itu sekarang kepada Dewa?"


"Bodoh, mana mungkin Dewa mendengarnya jika kita mengajukannya di dalam dunia virtual seperti ini." Ryugai terkekeh geli. "Tunggu, tapi itu boleh juga," sambungnya sembari bergegas bangkit berdiri dari kursinya. "Jika memang benar Dewa mengawasi setiap manusia yang ada di seluruh dunia, berarti Dia juga mengawasi dunia virtual ini. Mungkin saja permintaan kita akan dikabulkan."


"Kita mulai? 1 ..., 2 ..., 3 ...."


""Kami ingin ....""


""Kami bisa bertemu lagi!!!""


"Sekarang, keraguanku untuk meninggalkan dunia ini sudah hilang." Yuukaru kembali menoleh ke arah Ryugai. Jari telunjuk dari tangan kanannya sudah siap menekan tombol 'LOG OUT.'


"Hei, kalau boleh jujur, meskipun hanya dalam waktu yang singkat, aku senang bisa menjadi temanmu. Aku harap kita akan terus saling mengingat satu sama lain sampai selamanya."


"Ya, ya, terserah." Ryugai mengorek-ngorek telinganya dengan jari kelingking sambil berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. "Tak usah bersikap dramatis begitu, dong. Kau pikir ini di anime sad?"


"Kalau begitu, selamat tinggal. Terima kasih atas segalanya, Ryugai."


Sebelum telunjuk Yuukaru sempat menyentuh tombol di jendela sistem tersebut, Ryugai memanggil namanya, membuat gadis muda berambut keemasan sebahu itu kembali menoleh.


"Jaga diri di sana. Jangan malah jadi NEET. Nanti aku akan menyusul ke dunia nyata. Awas saja nanti kalau ketika kita bertemu lagi kau malah hidup secara acak-acakan."


"Ya," sahut Yuukaru dengan senyum manis terukir di wajah. "Itu pasti. Kau juga, ya ...."


Tepat setelah itu, jari telunjuk Yuukaru menyentuh tombol 'LOG OUT.' Struktur tubuhnya mulai memudar dan akhirnya lenyap sepenuhnya, hanya menyisakan debu-debu cahaya berwarna emas yang beterbangan di udara dan perlahan naik ke langit yang gelap. Sampai detik terakhir, dia terus mempertahankan senyumannya itu.


"Akhirnya pergi juga, ya, gadis merepotkan itu. Sekarang, aku bisa hidup dengan tenang. Dia juga tak perlu menderita lagi," ucap Ryugai.


"Tapi, entah kenapa ...."


"Hatiku terasa kosong dan dipenuhi oleh kesedihan ...."


"Ya sudahlah, masalah sudah selesai. Sekarang waktunya tidur. Masa' aku tidak tidur semalaman, sih. Besok kalau aku kesiangan dan telat ke akademi bisa-bisa dijitak Otomura dan dihukum berdiri di lorong. Tapi, kurasa sekolah belum dimulai kembali karena belum ada pengumuman."


Ryugai kemudian bersiap untuk meninggalkan bangku itu dan kembali ke kamarnya, tapi di saat itu juga kedua matanya menangkap sesuatu. Secarik lipatan kertas yang ditahan oleh batu tergeletak di tempat Yuukaru tadi duduk.


"Hm?" Kedua alisnya tertaut. "Sebuah surat?"


To be continued


Next Chapter:


Day 63: Surat Cinta Bagian 2 (Part 21)


Siapkan tisu satu pak yaa ^^