Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: Kekuatan Dahsyat!! Sang Penghukum Azadrasil (Part 8)



"Semuanya, bentuk formasi UU!!" perintah Ryugai kepada pasukannya. "Cepat!!!"


"Baik, Ryugai-sama!!"


Usai menyahut tanda paham, seluruh prajurit, baik angkatan darat maupun udara, langsung berbaris membentuk formasi setengah lingkaran yang mirip dengan huruf U, mengelilingi pohon raksasa bernama Azadrasil itu. Satu formasi di bawah dan satu lagi di atas. Mereka bergegas memasang anak panah berisikan mesiu di tali busur, kemudian menarik busurnya dan melepaskan panah.


Panah-panah tersebut mengenai Azadrasil dengan telak. Ledakan beruntun bergabung menjadi ledakan besar, memancarkan gelombang energi dahsyat dan angin kencang yang membuat semua prajurit monster juga manusia terlempar ke belakang sejauh beberapa meter. Hanya Greed saja yang berhasil mempertahankan posisi berdirinya.


"A-Apa mereka mati?!" Ryugai memandang dengan serius ke arah tebalnya kabut asap berwarna hitam legam. Perlahan, asap itu sirna. Azadrasil masih berdiri kokoh di tempatnya, begitupun Greed yang kini telah mengubah wujudnya menjadi ular naga raksasa untuk melindungi pasukannya.


"Ta-Tak mungkin!!!" Ryugai terperanjat begitu ia melihat bahwa Azadrasil, Greed, maupun pasukan 99 ras monster tidak terluka sedikitpun. "Ini mustahil!!!"


"Sekarang, giliran kami membalas serangan mesiu kalian tadi." Greed tersenyum licik. "Kalian tak bisa pakai sihir karena barrier anti sihir yang dipasang oleh Kapten Tengkorak dari pihak pasukanku, 'kan? Berarti kalian takkan bisa ...."


"Meng-counter serangan ini!!"


Greed menjentikkan jarinya sekali lagi. Senyum jahatnya melebar. Kini ia tampak bagai seorang psikopat. Buah-buah pohon Azadrasil mulai melepaskan diri dari tangkainya, kemudian melesat secepat kilat menuju pasukan Ryugai. "Bersiaplah untuk meledak, bangsa manusia ...."


Keringat dingin membanjiri tubuh Ryugai. Ia menggigit bibirnya. Marah, takut, panik, semuanya bercampur aduk di dalam hatinya.


"Sialan, seandainya saja barrier anti-sihir itu tidak dipasang, pasti aku bisa menyerap semua buah ranjau itu menggunakan lubang dimensi inventory."


"Tunggu, tunggu. Kurasa hasilnya akan sama saja sekalipun aku memakai sihir inventory. Ketika aku membukanya untuk serangan balasan, bisa-bisa waktu kembali berjalan dan ranjaunya meledak sebelum waktunya. Itu sama saja dengan bom bunuh diri."


Ryugai mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Sialaaaaaaannnnnnn!!!" bentaknya dalam hati.


*clash!!* *clash!!* *clash!!*


Ryugai terkejut. Seekor phoenix dengan cepat muncul dan menangkis ranjau-ranjau buah itu dengan mudah layaknya kiper yang menangkis bola sepak. Seekor naga hitam raksasa juga muncul, lalu melingkari bola-bola yang tersisa dan menjepitnya sampai akhirnya meledak. Berkat itu, pasukan manusia jadi tak terkena dampak ledakannya.


"Sial!! Siapa lagi yang menghalangiku?!!" Greed menyemburkan kemarahannya, lalu kembali menyuruh Azadrasil untuk melemparkan buah-buah tadi. "Azadrasil!! Lemparkan lagi!!!"


Azadrasil melemparkan buah-buah ranjau tadi sekali lagi. Kali ini, giliran enam tangan raksasa misterius yang entah dari mana asalnya yang menangkis mereka. Bom-bom itu akhirnya meledak di laut.


Si phoenix, si naga, dan pemilik dari tangan-tangan raksasa tadi bergegas menghampiri pasukan Ryugai. Rupanya mereka merupakan sosok yang familiar.


"Hei, kau masih harus hidup," ucap si penunggang phoenix.


"Ya, anak muda," timpal si pemilik tangan raksasa. Seorang pria botak dengan tubuh yang kekar.


"Kalau kau mati, pacarmu akan menangisimu, lho." Sang penunggang naga turut menimpali.


Kedua mata Ryugai membelalak sekali lagi begitu ia melihat wajah dari ketiga orang tersebut.


"Arai? Genbu? Dan ... Wakil Kepala Angkatan Darat Dai?!"


To be continued


Next Chapter:


Day 62: Kekuatan Asli Wakil Kepala Dai (Part 9)