Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 62: The Promised Dragon Toy - A Letter From Heaven Part 1 (Part 15)



"Semuanya ... sudah berakhir, ya?"


Bersamaan dengan lenyapnya cahaya emas pertanda kehidupan di kedua mata Azadrasil, hujan berhenti. Seolah-olah cuaca telah menghentikan tangisnya dan tersenyum menerima keadaan. Warna jingga mulai meninggalkan langit, digantikan oleh kegelapan malam. Rembulan terbit dan mulai menerangi langit biru tua ditemani bintang-bintang yang gemerlapan. Suara desir ombak terdengar. Suasana begitu damai hingga Ryugai menutup kedua matanya tanpa ia sadari dan tersenyum.


Ryugai bergegas mendarat di pesisir pantai dan melompat turun dari punggung phoenix. Mendadak, suara retakan terdengar samar dari sekitar. Ryugai terkejut. Ia segera membuka kedua matanya kembali. Tampak bahwa lapisan batu yang melapisi tubuh para prajurit retak dan mulai pecah. Kesadaran semua orang telah kembali ke tubuh mereka. Semuanya tampak tengah dikuasai oleh kebingungan.


"A-Apa yang terjadi?!" tanya Wakil Kepala Divisi Patroli dengan bingung.


"A-Azadrasil!!!" Kepala Divisi Patroli terperanjat. Ditunjuknya Azadrasil yang telah tumbang. Seluruh prajurit monster tampak mengelilinginya dan berlutut dengan penuh hormat.


"Strategy Commander, anda mengalahkannya sendirian?!"


Arai dan Genbu yang juga baru saja sadar turut terperanjat. "Ryugai, jangan bilang kau yang mengalahkannya?!" seru mereka hampir bersamaan.


"Tidak, aku tidak mengalahkannya. Aku hanya membebaskannya," sahut Ryugai. "Membebaskannya dari belenggu bernama 'perintah.' Dia sudah bebas sekarang."


"Ya ..., mungkin kita juga harus merubah stigma yang mengatakan bahwa monster hanyalah makhluk bengis yang lebih kejam daripada hewan buas. Mereka juga memiliki hati dan perasaan, sama seperti kita, manusia."


"Ryugai-sama!!!" panggil salah satu prajurit yang sedang berada di dekat jasad Wakil Kepala Dai. Wajahnya terlihat panik. Ia berusaha menggunakan sihir penyembuh, berharap pria tersebut membuka matanya kembali, tapi sihir itu sama sekali tidak bekerja.


"Apa yang terjadi dengan Wakil Kepala Dai?! Sihir regenerasiku tidak bekerja!! Apakah beliau ...."


Ryugai menoleh, kemudian menundukkan kepalanya dengan penuh dukacita. "Beliau sudah tiada .... Wakil Kepala Dai sangat mencintai desa, jadi dia bersedia menyerahkan apapun untuk melindunginya ..., bahkan ... jika itu adalah nyawanya ...."


"Begitu, ya ...."


Ekspresi wajah semua prajurit langsung berubah menjadi sendu. Para prajurit bergegas melingkari jasad Wakil Kepala Dai, kemudian berlutut dengan penuh hormat. Ryugai, Arai, dan Genbu turut menghampirinya dan berlutut penuh hormat. Kepala Divisi, Wakil Kepala Divisi, beserta seluruh anggota Divisi Patroli Angkatan Udara segera mendarat di daratan pantai dan melompat turun dari punggung Summon Animals mereka untuk menghampiri jasad itu. Mereka turut berlutut penuh hormat. Seluruh prajurit memejamkan mata mereka. Kelihatannya, mereka semua sedang berdoa. Ini adalah penghormatan terakhir untuk Sang Wakil Kepala Angkatan Darat yang gugur sebagai martir.


"Kau adalah orang yang sangat konyol dan ceroboh .... Namun, kau punya semangat dan tekad api yang melebihi siapapun di Desa Arafubi. Jasamu tiada tandingannya. Terima kasih banyak atas pengorbananmu."


"Beristirahatlah ... dengan tenang ...."


Selang beberapa menit, Ryugai, Arai, beserta seluruh prajurit membuka mata mereka kembali. Begitupun seluruh prajurit monster yang baru saja selesai mendoakan Azadrasil. Kapten Tengkorak dan Ryugai melangkah ke arah yang berlawanan, saling mendekati. Tangan mereka berdua terulur. Keduanya berjabat tangan dengan senyum ramah terukir di wajah.


"Mari lupakan soal perang." Ryugai membuka pembicaraan. "Berhubung konflik antara ras manusia dan ras monster sudah selesai, bagaimana kalau kita membentuk aliansi?"


"Bekerjasama lebih baik daripada terus bertarung. Mungkin saja itu akan membuat dunia ini menjadi dunia yang indah bagaikan surga. Bagaimana? Apakah anda setuju? Kalau anda tidak setuju, kita bisa berperang lagi," canda Ryugai sembari tersenyum jahil.


Kapten Tengkorak terkekeh geli. "Tentu saja aku setu-"


Tiba-tiba saja, senyum ramah lenyap dari wajah Sang Kapten Tengkorak. Dia menengadahkan kepalanya, menatap langit dengan wajah panik. "A-Apa itu?!"


Ryugai dan semua prajurit turut mendongakkan kepala mereka. Tampak sebuah siluet naga dengan sayap yang mengepak pelan tengah melintas di langit malam, menuju tempat di mana pasukan Ryugai berada.


"Hei, kita baru saja melakukan perjanjian perdamaian dan kau langsung mengkhianatiku?!" Ryugai menatap dengan serius ke arah Kapten Tengkorak.


"Bu-Bukan!!!" sahut kapten tersebut. "Yang seperti ini tidak ada dalam rencana kami!!"


"Tu-Tunggu!!!"** Ryugai memperhatikan sosok naga itu dengan teliti. "U-Ukurannya kelihatan jauh lebih kecil daripada naga asli!! Kalau itu naga asli, harusnya siluetnya semakin besar setiap detiknya!! Tapi, siluet ini ukurannya tetap. Berarti ...."


Wujud asli dari siluet itu akhirnya tampak dengan jelas karena jaraknya dengan Ryugai sudah sangat dekat. Rupanya bukan naga asli, tapi sebuah naga mainan. Mainan tersebut mendarat di telapak tangan Ryugai. Secarik kertas tampak terjepit di bagian mulutnya.


"Mainan naga bertenaga baterai, 'kah? Aneh sekali. Harusnya di era primitif seperti ini belum ada yang menciptakan mainan secanggih ini. Atau mungkin mainan ini adalah pemberian developer game? Ini adalah dunia game. Semuanya dikendalikan oleh system. Eh? Tunggu!! Mainan ini ...."


To be continued


Warning: next chapter bakalan banyak bawang XD awokwokwokwok