Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 57: Turnamen Maximus Potentia Bagian Enam (Part 7)



Capung raksasa tersebut mengaum dengan suara nyaring, kemudian melesat menuju phoenix milik Arai dengan kecepatan yang melebihi kilat. Di bawah masing-masing sayapnya, dua bilah pedang raksasa setajam belati terpasang.


"Phoenix, semburkan api!!" perintah Arai.


Sang Phoenix mengangguk tanda paham sambil mengeluarkan suara seperti teriakan elang, kemudian menyemburkan api ke arah capung raksasa tersebut, tapi terlambat. Pedang raksasa yang berada di bawah sayap capung itu telah lebih dulu menyerempet phoenix milik Arai. Burung besar itu menjerit kesakitan, kemudian terbang secepat kilat ke arah capung raksasa bernama Inukai tersebut, mencoba mencakarnya. Sayangnya, ia kalah cepat. Inukai telah terlebih dulu menghindar dan menyerangnya secara bertubi-tubi. Sang Phoenix berteriak kesakitan sekali lagi. Dia tak bisa meregenerasikan anggota tubuhnya yang terluka karena itu memerlukan jeda waktu tiga detik, dan Inukai bahkan tak memberinya kesempatan untuk menghela napas sejenak. Sayap dan sekujur tubuh phoenix itu kini dipenuhi oleh luka sabet. Tak mampu menahan berat badan Arai dan dirinya, Sang Phoenix terhuyung-huyung karena kehilangan keseimbangan, kemudian terjatuh ke arah parit pembatas arena.


"Sial!!" umpat Arai. Ia melompat turun dari phoenix itu dengan nekat, tak peduli walau harus terjun dari ketinggian setara lantai tiga. Sayangnya, rupanya di bawah Ryugai sudah menunggunya dengan menunggangi Inukai.


"Inukai!! Tembakkan!!"


Perintah tersebut langsung dipatuhi oleh Inukai. Ia bergegas melontarkan bola-bola energi kegelapan dari dalam tubuhnya.


"Gawat!!" Dengan sigap, Arai menciptakan bola pelindung yang terbuat dari energi merah menyala. Bola itu berhasil melindungi tubuhnya dari serangan Inukai, tapi pemuda berambut merah itu terpental jauh hingga terjatuh ke parit pembatas arena.


Arai tersenyum kecut. Dilenyapkannya bola energi merah itu. "Ini memalukan, tapi aku harus mengakuinya. Kali ini, kau yang menang, Ryugai."


"Pemenangnya adalah ... Ryugai Yuzumoto!!! Teknik Evolution membuat keadaan berbalik 180 derajat!!! Sungguh, itu adalah epic comeback yang sangat menakjubkan!!! Sekian untuk hari ini. Kita akan lanjutkan turnamennya di esok hari."


"Ooooooooo!!!"


Sorakan meriah langsung terdengar dengan jelas dari arah tribun penonton. Mereka meneriakkan nama Ryugai berulang-ulang. Ryugai tersenyum sembari mengangkat kepalanya dengan bangga, kemudian melompat turun dari punggung Inukai. Ia melangkah mendekati Arai dan mengulurkan tangannya. Bantuan itu segera diterima oleh Arai.


"Tampaknya, aku harus lebih rajin lagi berlatih," ucap Arai sambil bangkit berdiri. "Aku belum setara denganmu."


"Tapi, kau hebat, kawan," sahut Ryugai merendah. "Kau berhasil membuatku kewalahan. Aku pasti akan kalah seandainya aku tidak mempelajari teknik Evolution untuk jaga-jaga."


"Ya, ya. Kau menang hari ini, tapi ingatlah, suatu hari nanti aku akan mengalahkanmu. Camkan itu baik-baik, Ryugai."


"Ya. Aku pasti akan menunggu sampai saat itu tiba, Arai."


“Pertandingannya sudah selesai, ya?” Kalau begitu, ayo kembali ke ruang tunggu, beres-beres, dan pulang. Aku haus dan capek sekali, nih.” Ryugai membalikkan langkahnya, kemudian berjalan menuju ruang tunggu, diikuti oleh Arai.


—————————————————————————————————


Di ruang tunggu ....


Ruang tunggu masih tampak ramai oleh peserta, tapi sudah berkurang cukup banyak karena ada beberapa peserta yang langsung pulang setelah gilirannya bertanding berakhir. Genbu, Akiyama, dan Shiro masih duduk manis di bangku mereka masing-masing.


“Hei!!” sapa Akiyama. “Bagaimana hasilnya?”


“Ya, ya. Untuk mengalahkan pemuda lemah yang kewalahan hanya karena aku menggunakan seekor phoenix, ya?” sindir Arai sambil memasukkan kembali botol minum berbahan kulit ke tasnya. Ia baru saja menenggak habis isi dari botol tersebut.


“Bodoh!! Jangan kasih tahu!!” Ryugai menyikut punggung Arai.


“Jangan sombong atau kau akan menjadi seperti diriku yang dulu, Ryugai,” peringat Genbu.


“Dengerin, tuh.” Kali ini, giliran Arai yang menyikut bahu Ryugai.


“Iya, iya ...,” sahut Ryugai. “Ngomong-ngomong, dari tadi aku tidak melihat penampilan Genbu dan Akiyama. Nama kalian tadi dipanggil tidak, sih?”


“Sebenarnya, pertandingan kami bukan hari ini.” Akiyama menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


“Ya, kami datang hanya untuk menonton saja. Hehehehe,” timpal Genbu cengengesan. “Kami berbohong kepada staf pengurus turnamen dan menunggu di ruang tunggu peserta supaya kelihatan keren. Kalau berada di antara para penonton, nanti kami kelihatan lemah.”


“Yah, padahal aku sudah menunggu-nunggu penampilan badass Genbu sejak awal turnamen.” Ryugai mengerucutkan bibirnya layaknya anak kecil yang sedang merajuk. “Kok kesel, ya ...,” batinnya dengan bulir keringat mengaliri kening.


“Sudah, sudah. Kau bisa melihatnya besok. Sekarang, cepat beres-beres dan pulang. Kita harus cepat beristirahat karena besok turnamen akan dilanjutkan.”


“Bagaimana kalau kita jalan kaki bareng sampai perempatan?”


“Wah, ide bagus.”


“Aku setuju.”


“Sambil menikmati cahaya senja\~\~ melihat matahari yang beranjak tenggelam ke arah cakrawala\~\~ Matahari yang lelah, tapi belum menyerah untuk terus menyinari bumi. Karena itulah, dia akan bangkit kembali dari cakrawala dan berjuang menyinari bumi pada pagi hari berikutnya\~\~”


“Hei, jangan sok puitis.”


“Hehehe.”


“Hei, apa yang kalian lakukan? Cepat beres-beres. Jadi pulang bareng atau tidak?”


“Baik. Maaf, maaf.”


To be continued