Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 50: Mountain Village



Akhirnya, suara tangisan bayi terdengar, menandai berakhirnya menit-menit yang menegangkan itu. Seluruh beban seolah terangkat dari hati Ryugai. Ia menghela napas lega sambil tersenyum ketika mengetahui bahwa istri dan putranya baik-baik saja. Sang bidan segera memandikan bayi tersebut. Bayi itu dalam kondisi normal dan sehat. Sungguh sebuah keajaiban yang jarang ditemui pada kasus persalinan prematur.


"Selamat. Bayi anda lahir dengan selamat dan sehat," ucap bidan dengan senyum ramah terukir di wajah. "Bayi yang sangat kuat. Biasanya, bayi yang lahir prematur organ-organnya belum sempurna sehingga menyebabkan komplikasi, tapi entah bagaimana itu tidak terjadi pada putra Bapak dan Ibu."


"Terima kasih." Ryugai menerima putranya itu dan menggendongnya. "Lihat, Yuukaru. Ini anak kita."


"Anak yang sangat kuat dan tampan, ya." Yuukaru tersenyum bahagia. "Dia pasti akan tumbuh menjadi pemuda yang berani, pantang menyerah, dan mampu menggerakkan hati orang lain, sama seperti dirimu di masa beta test Purity Online dulu."


"Ya," sahut Ryugai. "Aku harap begitu. Ngomong-ngomong, kau sudah punya nama untuk diberikan kepadanya?"


"Tentu saja. Aku menamainya Yamamura."


"Nama yang sangat bagus," ujar Ryugai. "Tapi, kenapa kau memilih nama itu?"


Yuukaru menoleh ke arah jendela klinik, memandangi langit kemerahan yang membentang luas di luar dan burung-burung gagak yang tengah terbang bebas sambil berkaok. Tampak jarum pendek pada jam yang terletak di dekat jendela sudah mendekati angka enam. Cahaya dari matahari yang sudah mulai terbenam menembus masuk, mewarnai lantai ruangan dengan warna khas senja.


"Sebenarnya, tadi aku berbohong saat mengatakan kalau aku harus kembali ke danau karena ada sesuatu yang kelupaan. Waktu itu, aku pergi ke tanah kosong bekas hutan di dekat sungai untuk mencari tahu apakah ada tanaman yang selamat dari pembalakan liar."


"Tunggu, kenapa aku tidak melihatmu? Aku, 'kan, menunggu di jembatan yang melintangi sungai itu." Ryugai menginterupsi cerita istrinya.


"Itu karena aku sengaja menghindari bagian tepi sungai," sahut Yuukaru.


Wanita tersebut kemudian melanjutkan ceritanya.


"Pada awalnya, aku sempat putus asa dan merasa kesal. Namun, ketika sudah mau pergi, mataku menangkap suatu objek hijau. Itu adalah tunas pohon yang masih kecil. Pada saat yang bersamaan, aku juga melihat beberapa biji-bijian yang tersebar merata di tanah. Aku pun tersenyum dan merasa lega. Ternyata gunung ini masih belum menyerah untuk bertahan."


"Aku menolehkan kepalaku. Tak jauh dari tempatku berdiri saat itu, ada beberapa warga desa yang sedang sibuk menanam tunas-tunas tumbuhan di bagian tanah kosong yang lain. Mereka tidak peduli walau tubuh serta pakaian mereka harus kotor dan tenaga mereka terkuras. Pada saat itulah, aku mengerti."


"Keindahan alam di gunung ini sama sekali tidak berubah, dari dulu sampai sekarang. Semangat para tumbuhan untuk terus melestarikan jenisnya juga sama sekali tak berkurang. Begitupun Desa Suzume. Desa itu tidak pernah berubah. Para penduduknya masih ramah dan ceria seperti biasa, walau pasti di dalam hati mereka merasa cemas dan gusar karena ulah pihak-pihak yang sering merusak alam yang mereka cintai."


"Karena itulah aku memberi nama Yamamura kepada anak ini. Aku ingin ketika dia tumbuh besar nanti, ia menjadi seseorang yang kuat, berpegang teguh pada pendirian, pekerja keras, memiliki tekad yang tidak dapat dipatahkan, dan tidak pernah menyerah. Aku ingin ... dia menjadi sama seperti desa yang terletak di lereng gunung (Mountain Village / Yamamura) ini."


"Wah, wah. Benar-benar arti nama yang bagus dan mengharukan, ya." Bibi yang sedari tadi hanya diam mulai nimbrung.


Ia menatap bayi yang tengah berada dalam gendongan Ryugai sambil tersenyum.


"Bibi yakin, dia pasti bisa mewujudkan harapan yang kalian letakkan di dalam nama itu."


"Ya ...," sahut Ryugai. "Pasti."


Mereka bertiga memandangi berkas cahaya matahari terakhir yang menandai akhir dari sore hari itu. Langit menggelap dan Sang Rembulan terbit, meneruskan tugas Sang Surya menyinari desa tersebut dengan cahaya yang dipantulkannya, seolah menyimbolkan penyerahan obor perjuangan dari generasi pertama ke generasi selanjutnya.


 --------------------------------------------------------------------------------------


"Hei."


"HEI!!!"


Suara-suara yang samar mulai terdengar di telinga Ryugai. Namun, pria itu tak begitu memedulikannya dan memilih untuk terus tidur.


*plaakkk!!!"


Sebuah tamparan mendarat dengan telak di pipi pria berambut biru acak-acakan tersebut. Secara refleks, ia membuka matanya, beranjak dari posisi berbaring ke posisi duduk, dan meraba pipinya yang merah. Dilihatnya Yuukaru yang telah mengenakan seragam polisi sedang tersenyum puas di hadapannya.


(Author: Cara membangunkan yang sangat kasar tapi efektif, wkwkwkwk XD)


"Akhirnya kau bangun juga," ucapnya.


"Apaan, sih!! Memangnya caramu membangunkanku tidak bisa lebih lembut sedikit, ya?!" seru Ryugai dengan kesal.


"Habisnya kau dari tadi tidak bangun-bangun, jadi aku terpaksa menggunakan 'jurus andalan'," sahut Yuukaru. "Daripada membicarakan soal itu, cepat mandi dan siap-siap. Nanti kau telat sampai di tempat kerja."


"Ah, kau benar."


"Aku duluan, ya!!" Wanita berambut keemasan itu melambaikan tangannya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dan menutup pintu.


"Yang tadi itu ... ternyata cuma mimpi, ya?" Ryugai menatap ke arah jendela kamar yang gordennya sudah dibuka. "Pasti ada suatu alasan mengapa aku bermimpi tentang itu. Pasti Dewa berniat untuk menyemangatiku."


Senyum lebar terlukis di wajahnya. Ia segera bangkit berdiri dan beranjak dari tempat tidurnya.


"Nah, sekarang, waktunya memulai hariku!!"


To be continued


Yaps, filler-nya sudah selesai!! Yang artinya saya bisa nyiksa mental Ryugai lagi, hohoho XD *ditabok*


Nggak, kok. Bercanda doang. Saya akan biarkan Ryugai hidup dengan tenang dulu. Seperti yang saya bilang di chapter sebelumnya, fokus ceritanya akan kembali mengarah ke MC kita saat ini, yakni Yamamura.


Btw, sebenarnya saya tadinya berniat membuat filler ini untuk memperingati hari ulang tahun Yamamura yang jatuh pada tanggal 17 April kemarin, tapi karena ada beberapa kendala, jadinya rencana itu gagal.


Ngomong-ngomong, kalian sadar, nggak? Tepat pada chapter ini, novel ini sudah tembus 100.000 kata!! Horeee!!! Semoga novel ini bisa terus berkembang dan sukses terus (walaupun sekarang makin sepi, heheh).


Sekian dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!!


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 51: Peningkatan Status