Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Memori yang Terlupakan - Sakura di Tengah Salju (Part 17)



"Jadi, kita akan bermain apa?" tanya Yuukaru. Anak-anak, pengurus, Kakek Yurato, Otomura, beserta Yuukaru tengah duduk melingkar.


Yuukaru menolehkan kepalanya ke arah Otomura. "Otomura, kau punya usul?"


Pria dingin berambut emas tersebut terlihat memalingkan wajahnya dan memasang ekspresi wajah acuh. Beberapa saat kemudian, dia pun tersadar bahwa perhatian semua orang sedang terarah kepadanya.


"Terserah. Kalian saja yang bermain. Aku tidak ikut-ikutan," sahut Otomura dengan jutek.


"Ayolah!!" bujuk Yuukaru. "Ini pasti akan menyenangkan."


"Bagiku malah akan membosankan." Otomura tetap mempertahankan gaya bicara dingin dan ekspresi acuhnya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menantangmu?" tanya Yuukaru dengan nada yang seolah menantang. "Ini juga bisa jadi tontonan bagi anak-anak di sini."


"Tantangan? Aku malas."


"Oh? Kau takut?"


"Tidak."


"Kakak takut kalah, ya?" Salah seorang anak lelaki mencoba memanas-manasi Otomura.


"Apa?! Takut?! Enak saja!!" Merasa tertantang, Otomura pun akhirnya menolehkan wajahnya ke arah Yuukaru. "Aku terima tantanganmu."


"Bagus, bagus." Yuukaru tersenyum senang.


"Tapi, kalian berdua akan bertanding dalam hal apa?" tanya Kakek Yurato.


"Bagaimana kalau ...." Sang pengurus bangkit berdiri dan melangkah, kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci kayu, lalu berjalan kembali ke lingkaran dan meletakkannya di hadapan semua orang. "Shogi?"


"Boleh juga," sahut Otomura. Dia menolehkan kepalanya ke arah Yuukaru. Tatapan matanya tampak dipenuhi dengan semangat, bahkan kedua pupil matanya seolah terbakar oleh api. "Baiklah, ayo kita mulai pertandingannya, Yuukaru!!"


—————————————————————————————


"Hmm ...." Otomura meraba dagunya yang licin karena dialiri oleh keringat. Dia tampak kebingungan dan tengah berpikir keras. Sekujur tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin. Tatapannya terfokus pada bidak-bidak dan papan shogi yang tergeletak di depannya.


"Apa harus kuambil yang ini? Ah, tidak. Nanti bisa-bisa formasi seranganku langsung dipatahkan!! Sial, apa yang harus kulakukan?" Saking bimbangnya, dia sampai mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Kak Otomura!!!" Salah seorang anak berseru dengan suara nyaring. "Berjuanglah!!!"


"Ya, kalahkan Kak Yuukaru!!!" Anak lainnya menimpali.


"Percaya saja pada diri kakak sendiri!!!"


Seruan-seruan pemberi semangat itu membuat kedua mata Otomura membelalak. Memori berdebu dan usang yang tadinya tersembunyi di sudut penuh kegelapan dari benaknya, mulai menggeser dirinya hingga ditimpa oleh cahaya ingatan. Kilasan memori dari masa lalu yang terlupakan mulai terproyeksi di pikirannya.


————————————————————————


Rembulan bersinar terang di langit berwarna biru gelap. Seorang remaja berambut keemasan dengan sweeter berwarna abu-abu dan syal hitam legam melangkah melintasi jalanan bersalju di gang yang cukup sepi dan lengang. Kepalanya tertunduk lesu, tak peduli akan apa yang ada di depannya. Pemuda tersebut menghela napas berat hingga tampak seolah asap keluar dari mulutnya akibat efek udara dingin. Dia tampak seperti lelaki yang tak punya semangat hidup.


Ya, lelaki itu adalah Otomura. Sejak kematian adiknya, dia kehilangan seluruh kebahagiaannya. Dia tak pernah tersenyum lagi dan selalu memasang wajah sedih. Bahkan kerlap-kerlip lampu di pohon natal yang sudah beberapa kali ditemuinya di sepanjang jalan pulang tak mampu menghiburnya. Kedukaan sudah benar-benar menguasai hatinya.


"Mungkin aku akan menjalani sisa musim dingin tahun ini dengan penuh kesenduan dan kekecewaan kepada takdir," batinnya. "Selamanya, tahun ini akan menjadi tahun terkutuk bagiku. Tahun di mana semua yang berharga bagiku direnggut dari genggaman tanganku."


"Ya .... Sama sekali tidak ada yang peduli padaku .... Bahkan Sinterklas dan Dewa sekalipun."


"Satu-satunya orang yang kupercayai di dunia kejam ini adalah Iruna, dan sekarang dia sudah pergi jauh. Mungkin aku takkan bisa memercayai siapapun lagi seumur hidupku."


Tanpa disadari, Otomura sudah tiba di depan rumahnya sendiri. Pemuda tersebut pun mengambil kunci dan mengangkat kepalanya, berniat membuka gembok rumahnya. Namun, yang selanjutnya ia dapatkan adalah pemandangan yang mengejutkan. Pemandangan yang benar-benar tak masuk akal, tapi indah. Kedua matanya membelalak ketika dia melihat bahwa pohon sakura di halaman rumahnya tengah mekar sempurna, padahal sekarang adalah musim dingin dan bukan musim semi. Tampak bunga-bunga merah mudanya bergoyang pelan tertiup angin malam.


"Mu-Mustahil!!!" Otomura terperanjat. "Ini tidak mungkin!!! Sama sekali tidak masuk akal!!!"


Dia bergegas membuka gembok dan mendekati pohon sakura itu. Di sekeliling akarnya, kelopak-kelopak sakura berjatuhan. Perpaduan antara putihnya salju dan indahnya warna merah muda sakura menciptakan kombinasi yang benar-benar mendamaikan hati.


Pada saat yang bersamaan, Otomura teringat akan kata-kata yang pernah diucapkan oleh Iruna. Janji yang pernah mereka buat bersama. Suara adik perempuannya itu kembali terngiang di kepalanya.


"Kita akan memekarkan bunga-bunga yang bahkan jauh lebih indah daripada semua bunga sakura ini."


"Hei, hei!! Kau bercanda, 'kan?" Otomura menatap tak percaya ke arah bunga-bunga sakura yang bermekaran. "Ini tidak mungkin .... Mana mungkin, sih, Iruna-"


Mendadak, tubuh Otomura bergerak dengan sendirinya. Dia membuka kunci pintu rumah, membuka pintu, memasuki rumah, mencuci kakinya, dan memasuki kamar Iruna, kemudian mengangkat bantal Iruna yang tergeletak di atas tempat tidur. Sesuatu tampak tergeletak di bawah bantalnya. Sebuah surat dengan tulisan tangan yang mungil.


Dia bergegas mengambil surat itu dan membacanya.


"Selamat natal, kakak!!


Ketika kakak membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bersama lagi dengan kakak. Tapi, jangan sampai kakak kehilangan semangat hidup hanya karena ini, ya. Aku yakin kakak pasti bisa menemukan tujuan hidup yang baru, karena kakak adalah kakakku yang sangat hebat.


Aku juga berharap supaya kakak tetap menjadi laki-laki yang pantang menyerah dan terus memegang teguh prinsip kakak. Suatu saat nanti, pasti kakak akan menemukannya. Orang-orang yang menyayangi kakak dengan tulus. Aku yakin akan hal itu. Teruslah mencari teman sejati dan teruslah menjadi orang yang memercayai orang lain. Aku percaya, kakak pasti bisa melakukannya. Percaya saja pada kemampuan kakak sendiri.


Kakak, aku memang sudah meninggalkan kakak secara fisik, tapi bukan berarti aku akan membiarkan kakak sendirian. Aku akan terus menemani kakak. Hanya saja, mungkin kakak tidak akan menyadarinya karena mungkin aku tidak akan direinkarnasi menjadi manusia lagi. Tapi, aku tak peduli aku akan direinkarnasi menjadi makhluk apa. Bahkan jika aku tidak direinkarnasi menjadi manusia lagi, aku akan terus menjaga janji kita. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memekarkan bunga-bunga yang paling indah di dunia."


Setetes air mata mulai jatuh dan membasahi kertas surat itu, disusul oleh tetesan-tetesan berikutnya. Dengan wajah yang berlinang air mata, Otomura membuka gorden dan menatap pohon sakura di balik kaca jendela.


"Jadi begitu, ya ...." Dia tersenyum penuh haru."Selama ini, dia terus menemaniku. Hanya aku saja yang tidak menyadarinya. Aku tidak pernah sendirian. Itu hanya perasaanku saja. Dia bersamaku, walau dalam wujud yang berbeda."


Tiba-tiba, sosok samar Iruna muncul di salah satu dahan pohon sakura, tampak tengah tersenyum."Jangan menyerah dan teruslah berjuang, kakak!!!" Suara itu terngiang-ngiang di telinga Otomura.


"Ya ...." Otomura menyahut dengan suara pelan diikuti oleh hilangnya wujud roh dari Iruna. "Kau juga ...."


Ya ....


Selama ini, akulah yang keliru ....


Dewa selalu memperhatikanku.


Akulah yang tak menyadarinya.


Aku terlalu fokus pada trauma karena kematian Iruna.


Kini ... aku ... percaya pada keajaiban.


Rupanya inilah hadiah natal yang diberikan oleh Sinterklas kepadaku. Bukan kematian Iruna, melainkan keajaiban ini. Bukan musibah, melainkan berkat.


Di balik takdir pahit yang kujalani ..., ternyata ada keajaiban dan berkat tersembunyi yang melimpah ....


Dasar .... Bagaimana aku bisa melupakan memori yang berharga ini?


Seharusnya aku tak pernah melupakannya, dan tak pernah membunuh orang-orang itu.


Yah ..., tapi masih belum terlambat untuk berubah.


Aku akan terus maju.


Aku baru sadar sekarang kalau keajaiban bukanlah omong kosong, dan Happy Ending tidak hanya ada dalam cerita dongeng.


Aku akan mewujudkan Happy Ending itu di hidupku.


Aku tidak boleh kalah dari Iruna yang sekarang sudah menjalani kehidupan berikutnya sebagai pohon sakura.


Aku juga harus ... memekarkan bunga-bunga yang paling indah di dunia ....


Sesuai dengan janji kami ....


——————————————————————————————


"Hei, Otomura? Otomura?" Yuukaru mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan wajah Otomura yang tengah sesenggukan.


"Kenapa kakak?" tanya salah seorang anak yang berada paling dekat dengannya dengan nada khawatir.


"Kakak menangis?"


"Otomura? Ada apa?" Kakek Yurato turut bertanya. Dia juga terlihat khawatir.


"Bodoh, aku cuma kelilipan." Otomura mengangkat wajahnya yang berlinang air mata sembari tersenyum. Cahaya-cahaya kehidupan di dada semua orang yang tadi tampak berwarna hitam kelam baginya kini berganti warna menjadi hijau terang. Sebuah warna yang melambangkan kemurnian dan ketulusan. "Hentikan omong kosong kalian. Sekarang, ayo kita lanjutkan pertandingan ini."


"Ternyata ...."


"Masih banyak orang baik di dunia ini ...."


To be continued