
Setelah meninggalkan gedung guild, Yamamura pun segera menuju padang rumput di luar kota untuk melaksanakan quest-nya. Dia melewati rumah-rumah, bangunan-bangunan, toko-toko, deretan NPC pedagang di kawasan market, NPC penjaga gerbang, dan segera keluar dari kota. Dalam waktu singkat, ia pun tiba di padang rumput di luar kota yang bernama Ein Greenfield.
Padang ini cukup luas dan monster-monster yang ter-spawn di sini hanyalah monster kelas rendah bertipe tanaman seperti Plantalus dan Evil Rose. Beberapa player newbie terlihat sedang farming di kawasan itu meski EXP dan drop item yang dihasilkan tak seberapa. Awan-awan seputih kapas melintasi langit dengan lambat bagaikan siput seolah menonton para player yang sedang farming. Yamamura tak memedulikan mereka dan terus berlari dengan mengandalkan pattern di map dan suara desiran air dari arus sungai. Dia pun tiba di tepian sungai besar yang memisahkan Ein Greenfield dengan Midorikawa Greenfield. Ada sebuah jembatan berbahan kayu yang berukuran cukup besar di sana. Beberapa bebatuan menghiasi aliran sungai.
Yamamura berhenti sejenak, lalu mengisi paru-parunya dengan udara virtual yang segar dan alami. Suara desiran air sungai memanjakan telinganya. Meski suasana alami ini hanyalah kumpulan virtual object dan data, tapi bagi para player ini terasa sangat nyata. Setidaknya cukup untuk menentramkan hati mereka.
Usai menyerap energi positif dari alam, Yamamura pun melintasi jembatan. Di seberang sungai, tampak beberapa orang player sedang bertarung melawan rusa besar yang memiliki tanduk di atas hidung. Dari Name Bar di atas kepala rusa itu, Yamamura sudah bisa mengetahui kalau rusa besar itulah Horned Deer Leader yang dimaksud.
Sementara itu, Horned Deer Leader yang lain sudah menunggunya tak jauh dari rusa besar yang dilawan oleh party (tim player) tadi. Horned Deer Leader ini adalah mini-boss, bukan boss. Jadi cara spawn mereka sama seperti monster-monster yang lain. Hanya saja, waktu tunggu untuk spawn-nya lebih lama daripada monster biasa.
Menolak untuk menyampah, Yamamura menyiapkan weapon miliknya. Sebuah busur sederhana yang terkesan rapuh. Dia memang benci dengan orang-orang yang kerjanya menyampah di pertarungan. Setiap kali menonton anime, ia selalu mengutuk dan mengatai karakter-karakter seperti itu. Bayangkan saja, orang lain susah payah menggambar lukisan terbaik dan dia yang hanya memberi sentuhan terakhir seenaknya mengklaim lukisan itu? Apa-apaan itu?
(Author: Syukur, MC kita di Season 2 Purity Online ini gak ampas kayak Borutod.
Ryugai: Kayaknya author kita ini sedang mengungkapkan kebenciannya sendiri terhadap karakter-karakter ampas secara tidak langsung.
Yuukaru: Iya, nih. Kayaknya ini curhat terselubung :v
Author: Kalian berdua diam!! >:v Kita lanjutkan adegannya.)
"Bodo amat, lah. Ini quest kelas E. Tidak perlu senjata bagus dan equipment untuk menyelesaikannya," batin bocah itu.
Dia berlari ke arah rusa itu sambil memunculkan cahaya putih yang kemudian menjelma menjadi anak panah di tali busurnya. Ia segera bersiaga, bersiap menembakkan panah tersebut.
"Matilah kau!!"
——————————————————————————
Beberapa menit kemudian.
"Aaaaaaaaa!!!"
*sbyuuurrr!!!*
Baru beberapa menit berselang, Yamamura sudah terlempar akibat serudukan rusa tadi dan tercebur ke sungai pembatas. Rusa besar yang dilawannya tadi membuang napas dengan gusar dan membalikkan badannya. Beberapa detik kemudian, kepala bocah tersebut timbul dari dalam air. Rambut emas pendeknya basah kuyup, begitupun kepalanya.
"RUSA BESAR SIALAN!!! AWAS SAJA KAU NANTI, YA!!!" bentaknya dengan marah tanpa memedulikan player-player lain yang keheranan. Dia bahkan tidak sadar kalau saat ini perhatian semua player sedang terarah kepadanya.
"AWAS KAU NANTI!!! KUCABUT TANDUKMU!! KUPATAHKAN TULANG-TULANGMU!! KUCINCANG BADANMU!! KUBAKAR DAGINGMU!!! LIHAT SAJA NANTI!!! KAU AKAN JADI MAKAN MALAMKUUU!!!"
Player-player yang kebingungan melihat tingkah Yamamura pun berbisik-bisik, bergunjing alias bergosip. Sementara itu, para player lain di Midorikawa Greenfield berpura-pura tidak tahu akan kejadian itu dan menolak untuk menoleh, seolah berkata: 'Dia bukan temen gua, yak. Gua ga kenal sama dia. Suer.'
"Dia kenapa, sih?"
"Gak tahu. Pergi aja, yuk."
"Kok orang sakit jiwa bisa main VRMMORPG, sih?"
Mendengar bisikan itu, si bocah berambut keemasan pun membalikkan badannya. Kini para player tadi jadi target kemarahannya.
"WOI!!! AKU GAK SAKIT JIWA, TAHU!!! JANGAN SEMBARANGAN NUDUH, YA!!!" serunya.
"Waaaaa!!! Lari!!! Orgilnya ngamuk!!"
"SUDAH KUBILANG, AKU INI MASIH WARAAAAAAAAAASSSSSS!!!"
(Author: Gak ampas sih emang, tapi kok malah malu-maluin, yak -_-"
Yamamura: Lah, 'kan, kau Plot Creator-nya. Kok protes ke saya?)
Dengan penuh kekesalan dan rasa malu, bocah tersebut pun merangkak naik ke salah satu batu di pinggir sungai. Dia mengambil busurnya yang kebetulan mendarat tak terlalu jauh dari sungai.
"Sial .... Bajuku jadi basah semua, nih ...," gerutunya. "Mana aku tidak punya baju ganti, pula. Rusa sialan tadi gesit sekali. Ini quest rank E atau SSS, sih? Sudah kuduga, harusnya seorang archer jangan bertarung sendirian melawan mini-boss."
"Kau ... baru pertama kali bermain VRMMORPG, ya?" Suara seorang pria muda berusia 15-20 tahunan terdengar.
"Ya." Yamamura menyahut sembari menoleh ke belakang. Kedua matanya membelalak. Dia terperanjat begitu menyadari bahwa orang yang sedang berbicara dengannya sekarang adalah player yang sama dengan yang ditemuinya di kawasan market.
"Ka-Kau ..., pemuda iblis itu?!"
"Jangan panggil begitu, dong," ucap player muda dari ras iblis itu sambil pundung. "Jadi terkesan kalau aku betulan iblis, tahu. Padahal yang iblis cuma rasku di game ini."
"Ah, ya. Mari kita kembali ke topik utama." Ia kembali menegakkan tubuhnya. "Kau orang yang tersandung di market waktu itu, 'kan?"
"Hei, hei. Jangan diingatkan lagi, dong," ucap Yamamura sambil menahan malu.
(Author: Ternyata masih punya malu nih anak :v
Yamamura: Diam, kau, author lacknad!!! >:v)
"Hahaha. Maaf." Pemuda itu menggaruk rambut hitam cepaknya yang dihiasi oleh sepasang tanduk. "Langsung ke intinya saja. Kau baru pertama kali memainkan VRMMORPG, 'kan?"
"Ya," sahut Yamamura.
"Bagaimana kalau kita membentuk sebuah party? Kebetulan aku juga masih solo player. Aku cukup berpengalaman di game virtual-reality seperti ini, jadi aku bisa mengajarimu basic-basic gamenya. Kita bisa menjadi partner."
"Hm? Partner?"
To be continued