
"Jadi, begitulah ...." Zett mengakhiri ceritanya. "Itulah cerita tentang masa laluku."
"Begitu, ya." Yamamura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ingatlah, Izanagi. Dunia yang indah dan terkesan sempurna tidak selalu cocok untukmu. Ketika tiba saatnya nanti, kau akan menyadari kalau dunia itu bukanlah tempatmu untuk pulang. Jangan menyia-nyiakan masa mudamu dengan menenggelamkan dirimu di dalam dunia virtual dan mengabaikan masa depanmu. Carilah tujuan hidupmu yang sebenarnya. Kau lebih muda daripada diriku. Masa depanmu masih panjang. Jadi, aku mengingatkan ini kepadamu dari sekarang supaya kau tidak terjerumus ke jalan yang salah."
"Baiklah," sahut Yamamura. "Aku akan selalu mengingat itu, Zett-san."
"Bagus." Zett mengacungkan jempolnya sembari tersenyum memamerkan gigi-giginya.
"Eh? Tunggu. Sekarang jam berapa?" tanya Zett.
"Lihat saja di menu."
"Alamak!!!" Zett langsung terperanjat begitu dia membuka menu dan melihat angka di clock bar. "Sebentar lagi shift kerja sambilanku akan dimulai!!"
"Kalau begitu, sampai jumpa besok," ucap Yamamura. "Kau tidak sedang sibuk, 'kan?"
"Tentu saja tidak. Aku akan login lagi besok." Zett bangkit berdiri, bersiap menekan tombol log out. "Kalau begitu, sampai jumpa."
"Eh, tunggu!!" Yamamura mulai menyadari sesuatu yang aneh pada struktur tubuh virtual milik Zett. Tubuh pemuda iblis itu tampak dipenuhi oleh tanda-tanda error. "Kenapa avatar-mu begitu?"
"Huh? Bug, mungkin?" Zett menatap tubuh avatar-nya. Kebingungan mulai tersirat di wajahnya.
"Tidak ..., kurasa bukan ...." Yamamura mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampak para player lain sedang kebingungan karena hal serupa. "Player-player yang lain juga mengalaminya!!"
"Tapi, aneh ...," ujar Zett. "Kenapa cuma avatar-mu yang tidak terkena bug?"
"Aku juga tidak tahu."
Mendadak, avatar milik seluruh player menghilang, bagai layar-layar hologram yang dimatikan sekaligus.
"Zett!!" Yamamura berseru. "Apa ini? Force logout? Tapi, kenapa cuma aku yang tidak dipaksa keluar dari game?"
"Karena game ini memang dibuat untuk anda." Sebuah suara wanita yang nyaring terdengar dari langit, menggema ke segala arah.
"Siapa?!" bentak Yamamura. "Siapa kau?! Tunjukkan dirimu, pengecut!!! Jangan bilang kalau kau berniat menjebakku seperti di film klasik itu!!"
"Tenang saja. Game ini tidak didesain untuk survival atau death game. Aku hanya berniat menahan anda di dunia ini."
"Percuma." Suara itu menyela. “Aku memang menyuruh developer BeltSphere Diver mendesain perangkat virtual-reality itu supaya tidak terlalu berbahaya, tapi aku juga menyuruhnya menambahkan fitur rahasia di mana seluruh sinyal elektrik yang menuju otak anda akan diblokade, dan fitur itu sedang kuaktifkan sekarang."
"Fitur rahasia itu juga akan memunculkan arus listrik di virtual gear anda, baik di bagian Sphere Part maupun bagian Choker Neklace sehingga orang lain di dunia nyata tidak bisa menyentuh perangkat itu. Dengan begitu, tidak akan ada yang bisa melepas BeltSphere Diver itu dari tubuh anda."
"Kau .... JANGAN BERCANDA!!!" Amarah Yamamura mulai memuncak. "Kenapa kau menjebakku di sini?! Apa rencanamu, hah?! Katakan!!! Kenapa cuma aku yang kau jebak?!"
"Karena andalah yang nantinya akan menguasai dunia ini dan mewujudkan kedamaian. Andalah yang akan menciptakan dunia tanpa kematian dan penderitaan. Andalah yang akan menjadi The Ruler of All."
"Hah? Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti."
"Tampaknya anda masih belum ingat apa-apa, ya ...."
"Apa maksudmu 'belum ingat'? Apa kita pernah bertemu? Tapi, aku tidak kenal denganmu!!"
"Suatu saat, pertanyaan-pertanyaan anda itu akan terjawab. Kurasa informasi yang kuberikan sudah cukup untuk sekarang. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya, My Lord."
"Hei!!! Heeeiii!!!"
Hening. Suara itu tak terdengar lagi. Hanya kicauan burung, tiupan angin, desiran air sungai, dan suara-suara rusa yang terdengar.
"Sial!!" Yamamura menendang rerumputan dengan keras karena kesal. "Sebenarnya, apa yang dia rencanakan?!"
Beberapa detik berselang, anak muda itu menyadari sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. HP Bar, MP Bar, dan tombol-tombol serta bar lainnya sudah lenyap dari pandangannya. Hanya fitur map, inventory, dan alchemist skill yang masih berada di tempatnya.
"He-Hei!! Jangan bilang kalau ...."
"Dunia ini ... nyata ...?!"
To be continued
Chapter 18 ini menandai akhir dari arc Welcome to Neironius Online dan awal dari arc Magic of Christmas. Mentahan arcnya udah ada di pikiran saya, tinggal lengkapin aja. Nanti bagian klimaks dari arc tersebut akan dipublish saat natal :3
Sekian dan terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!!
-Author