Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 19: Asli



"Dunia ini ... asli ...?!"


"Jadi, sejak awal dunia ini memang sudah ada? Tidak seperti Sword Art Online yang awalnya sekedar dunia virtual, tapi kemudian menjadi realita."


"Tapi ..., kalau itu benar ... berarti ini isekai?"


"Dunia apa ini? Apa hubunganku dengan dunia ini? Bagaimana dunia ini bisa terhubung dengan duniaku? Apa ini rencana para developer game Neironius Online? Apa mereka terlibat?" Yamamura mengacak-acak rambut keemasannya seraya berpikir keras. "Ugghh, siaaalll!! Aku sama sekali tidak ingat apa-apa. Aku tidak mengerti."


Dia mengalihkan pandangannya ke map yang masih tertera di pojok kiri atas pandangannya, mencari simbol player. Namun, ia sama sekali tak menemukan simbol yang menandakan keberadaan player lain, bahkan satupun tidak ada. Hanya ada simbol-simbol mob. Sementara itu, matahari sudah mulai menenggelamkan dirinya ke balik cakrawala, menandakan bahwa senja telah tiba.


"Ah, sudahlah. Daripada hanya bicara saja, lebih baik aku mencari mereka. Siapa tahu masih ada player yang tersisa."


Dilangkahkannya kakinya. Anak itu berlari secepat mungkin, menyusuri daerah-daerah, padang rumput, dan hutan-hutan di sekitar kota. Namun, dia sama sekali tidak menemukan player. Malah dia harus menghadapi beberapa mob yang merasa terusik oleh kehadirannya.


"Mungkin aku bisa menemukan mereka di kota," batinnya.


Yamamura bergegas menuju kota tempat dia pertama kali ter-spawn. Langit telah didominasi oleh warna biru tua ketika player cilik tersebut tiba di kota. Toko-toko dan gedung guild di kejauhan tampak memancarkan cahaya lampu yang berwarna-warni, menghiasi kegelapan malam. Cahaya-cahaya dari lampu itu berpadu dengan cahaya dari bintang-bintang di langit malam yang cerah. Bulan tidak bersinar malam ini sehingga bintang-bintang lebih leluasa memancarkan cahaya-cahaya mungil mereka yang indah. Namun, di kota itu juga tak ada satupun simbol player.


"Apa-apaan ini? Apa aku benar-benar satu-satunya player yang tersisa di dunia ini? Yang benar saja!! Aku bahkan tidak tahu ini di mana. Ck!!" decaknya dengan kesal.


"Mungkin aku akan mencoba bertanya ke gedung guild dulu."


Yamamura melangkahkan kakinya sekali lagi, menuju gedung guild yang menjulang tinggi di kejauhan. Karena larinya yang cepat, tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di sana. Halaman gedung guild tampak sepi. Sepertinya itu karena sudah tidak ada lagi adventurer di kota ini.


Kedua mata Yamamura menangkap sosok seorang pria muda yang tengah berdiri tepat di depan pintu gedung guild. Kelihatannya dia adalah penjaga pintu gedung.


"Permisi," sapa Yamamura dengan ramah. "Selamat malam."


"Selamat malam," sahut pria muda itu. "Ah, badge di dadamu itu .... Apa kau seorang adventurer?"


"Syukurlah. Kukira semuanya sudah menghilang." Penjaga itu tersenyum lega. "Jika semua adventurer di dunia ini benar-benar sudah menghilang, entah bagaimana nasib perkumpulan petualang ini di masa depan."


"Maksud anda, kejadian tadi sore?" tanya Yamamura.


"Ya," sahut si penjaga. "Mendadak, semua adventurer di kota ini dan sekitarnya lenyap tanpa jejak. Kami sampai panik karena para petualang adalah salah satu roda penggerak ekonomi kota ini. Kami kira guild ini akan berakhir bubar, tapi dengan kemunculanmu aku jadi yakin kalau di luar sana mungkin masih ada adventurer-adventurer lain yang tersisa, walau mungkin mereka tercerai-berai sehingga tidak bisa saling bertemu."


"Aku ragu akan hal itu," sahut Yamamura. "Aku sudah berkeliling di wilayah sekitar sini tadi, mencari petualang yang lain. Tapi, tidak kutemukan satupun."


"Mungkin mereka ada di sisi dunia yang lain," ujar si penjaga.


"Ah, ya. Aku lelah. Ini juga sudah malam. Apa di sekitar sini ada penginapan?"


"Oh, kau baru jadi petualang hari ini, ya?" ucap penjaga itu. "Ada. Kau tinggal lurus, lalu belok kiri, terus belok kanan, terus belok kiri lagi, masuk jalan besar, lurus terus, di belokan ketiga belok kiri, lurus lagi teruuuusss dan di perempatan belok kanan. Sampai, deh ...."


"Di penginapan?"


"Bukan, di rumah sakit jiwa."


"KAU MEMPERMAINKANKU, YA?!" Dengan kesal Yamamura mengunci tubuh sang penjaga dan memuntir lengannya.


"AAAAA!!! IYA!!! ADUH, ADUH!!! AKU CUMA BERCANDA!! CUMA BERCANDAAAAA!!! ADUDUDUDUDUDUH, SAKIT, SAKIIITTT!!! Iya, iya!! Akan kuberitahu!! Tapi lepaskan aku dulu. Adudududuh sakiiittt!!"


To be continued


Next Part:


[Season 2] Chapter 20: Quest yang Misterius