
(Note: Lebih epic kalau bacanya sambil dengerin OST 'Preparedness' dari anime Tensei Shitara Slime Datta Ken.)
--------------------------------------------------------
Sebelum pertempuran melawan kawanan Dire Wolf.
"Hei, Yamamura. Apa kau yakin rencana ini akan berjalan dengan lancar?" tanya Yamarashi dengan raut wajah yang terlihat ragu-ragu. "Lawan kita adalah kawanan Dire Wolf, lho. Solidaritas, kecerdasan, dan koordinasi mereka luar biasa. Kurasa sekedar membunuh pemimpin wolf pack-nya takkan menghentikan aksi mereka."
Yamamura tersenyum kecil.
"Justru karena lawan kita serigala."
"Eh?" Yamarashi memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu?"
"Karena lawan kita serigala yang koordinasi, kecerdasan, serta solidaritasnya tinggi, makanya strategi ini pasti akan berhasil. Apa tadi aku bilang kalau aku sudah selesai menjelaskan strateginya? Tidak, 'kan?"
"Maksudmu?" Yamarashi tampak semakin bingung.
Dengan nada bicara yang agak sombong, Yamamura melanjutkan penjelasannya.
"Kalau strategi yang belum selesai kujelaskan ini kita pakai, kita pasti akan kalah. Bukankah kawanan Dire Wolf itu begitu licik dan ambisius hingga mampu melakukan segala macam cara untuk mencuri daging hasil buruan? Tak mungkin mereka menempatkan pemimpin kawanan di ruang terbuka. Apalagi jika pemimpin kawanan itu diam di garis belakang dan dijaga oleh anggota-anggota kawanan yang lain. Itu akan terlihat mencolok."
"Artinya, serigala yang terlihat seperti pemimpin di medan tempur nanti adalah pemimpin kawanan yang palsu. Mereka sengaja mengirimkannya untuk mengalihkan perhatian kita."
"Jadi, di mana pemimpin kawanan Dire Wolf yang asli?" tanya Yamarashi.
"Pemimpin mereka adalah bidak yang sangat penting dalam pertempuran. Kehilangan pemimpin mungkin tak cukup untuk membuat kawanan serigala itu menyerah, tapi cukup untuk mengurangi tingkat koordinasi mereka dan mengacaukan formasi serangan serta hierarki dalam kawanan. Makanya, berisiko sekali kalau pemimpin kawanan sampai terbunuh oleh musuh. Sebagai hewan yang sangat berhati-hati dalam bertindak, aku rasa mereka takkan berani mengambil risiko yang terlampau besar itu."
"Jadi, pemimpin mereka tak boleh sampai terlihat mencolok dan harus bergerak di balik bayangan. Kemungkinan besar, pemimpin kawanan yang asli bersembunyi dengan memanfaatkan keadaan hutan di malam hari yang gelap, menunggu untuk menerkamku dari titik buta."
"Begitu, ya," ujar Yamarashi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"
Yamamura menyeringai bengis. Semangat yang murni terpancar dari kedua bola matanya. "Kita ikuti alur permainan mereka."
"Eh?! Kau mau mati?!" seru Yamarashi dengan penuh keterkejutan.
"Tentu saja tidak, bodoh." Yamamura menepuk dahinya. "Maksudku, kita berpura-pura mengikuti alur permainan mereka, kemudian kita beri kejutan di bagian akhirnya."
"Aku akan menggunakan skill Pyro Clone untuk membuat klon yang terbuat dari api, lalu pergi duluan dan bersembunyi di atas pohon di hutan sambil berusaha untuk tidak membuat suara. Pohon adalah kelemahan serigala. Mereka tidak bisa memanjat pohon karena struktur kaki dan bentuk cakar mereka tak cocok untuk memanjat, jadi kemungkinan besar mereka tidak akan memperhatikan dahan-dahan pohon di atas. Kalaupun aku ketahuan, mereka takkan bisa menyerangku."
"Kemudian, kau akan pergi bersama klonku. Aku akan menugaskan klonku untuk mencari lokasi di mana pemimpin kawanan serigalanya berada dan dengan sengaja memojokkan dirinya mendekati pemimpin kawanan itu. Jumlah serigala yang akan datang nanti pasti cukup banyak, jadi takkan ada kecurigaan yang timbul. Setelah pemimpin kawanan yang asli menerkam klonku dan menyantap dagingnya bersama para serigala lainnya, aku akan mengubah klonku menjadi api sehingga tubuh mereka terbakar."
"Tapi, bagaimana kalau kawanan Dire Wolf itu punya mata-mata yang sudah sampai di sini duluan dan mengawasi keadaan di sekitar rumah ini?" ucap Yamarashi yang masih agak ragu akan keefektifan rencana tersebut.
Yamamura menatap ke arah pepohonan yang diselimuti kegelapan malam di luar jendela. "Tenang saja. Aku tidak melihat tanda-tanda pergerakan maupun keberadaan mereka. Mungkin mata-mata mereka ikut berkumpul bersama anggota-anggota kawanan yang lain untuk rapat terakhir sebelum penyerbuan," ujarnya dengan santai.
"Tapi, ini agak aneh. Bukankah-"
Ucapan adventurer cilik itu terpotong ketika kedua matanya menangkap sebuah sosok anjing besar yang sedang mengawasi rumah dengan tatapan tajam.
"Sudah kuduga. Mereka takkan membiarkan perhatian terhadap markas musuh lepas begitu saja." Yamamura kembali menyeringai.
"Baiklah. Aku akan mengaktifkan [Emergency Mode] sehingga skill Pyro Arrow milikku naik tingkat menjadi Ignis Arrow, kemudian membuka jendela dan melemparkan Ignis Arrow tersebut ke arah sang serigala mata-mata hingga tubuhnya terbakar menjadi abu. Selanjutnya, aku akan mematikan apinya supaya tidak semakin menyebar dan asapnya tidak menimbulkan kecurigaan. Setelah itu, aku akan melangkah keluar dengan perlahan mengikuti jejak langkahku saat pertama kali datang kemari dan memanjat salah satu pohon, kemudian bersembunyi di atas dahannya. Untung saja saat naik ke level 20 kemarin aku mendapat kemampuan untuk mematikan api yang bersumber dari skill-ku sesuai dengan kehendakku."
"Yamamura ..., kau sedang menyusun rencana macam apa lagi? Ekspresi wajahmu terlihat mengerikan seperti seorang tokoh antagonis utama," ujar Yamarashi sembari bergidik ngeri.
"Ah, maaf." Yamamura meraba bagian belakang kepalanya. Ekspresi wajahnya kembali menjadi seperti biasa. "Ngomong-ngomong, aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Bisa tolong tikam tubuhku dengan pedang yang kubawa?"
"Eh?!"
To be continued
Author: Sepertinya MC kita ini habis dapat buff kecerdasan XD
Yamamura: Aku, 'kan, memang sudah jenius dari dulu.
Author: Dih sombong. Nanti kunerf otakmu baru tahu.
Yamamura: Yah. Jangan, dong, thor. Nanti saya ga bisa pamer kejeniusan di depan pembaca lagi.
Author: Iya, iya. Oh, ya. Kepada para readers, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karya ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, dan comment. Sampai jumpa!!
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 61: Kemampuan Terkuat yang Kita Miliki