Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 22: Keberangkatan



"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu." Yamamura berpamitan kepada resepsionis dan pemilik penginapan. Ia baru saja selesai sarapan dan mandi pagi.


"Jangan sampai ada barang yang ketinggalan," peringat sang pemilik penginapan.


"Tenang saja. Lagipula, barangku, 'kan, cuma ini," ucap Yamamura sembari menepuk busur miliknya yang tergantung di punggungnya. Dia kini sudah mengenakan armor lengkap pemberian Zett kemarin dan tak lupa menyematkan adventurer badge-nya di bagian dada.


"Kau yakin ... mau pergi sekarang?" tanya sang resepsionis dengan khawatir. "Dilihat dari armor-mu, kau masih tergolong petualang pemula. Ditambah lagi, class-mu adalah archer yang termasuk ke dalam tipe penyerang jarak jauh. Kau membutuhkan party untuk bisa terus berpetualang, sementara di sini tidak ada satupun adventurer lain yang tersisa."


"Itu benar. Apa kau yakin kau tidak akan apa-apa, Nak?" Pemilik penginapan menimpali.


"Tidak apa-apa," ucap Yamamura dengan percaya diri. "Selama aku masih punya busur ini, pasti semuanya akan baik-baik saja."


Pemilik penginapan tersenyum, tampak kagum dengan keberanian bocah berambut emas di hadapannya.


"Kau anak yang hebat. Kau masih muda, tapi sudah bekerja dengan mempertaruhkan nyawamu menjadi seorang adventurer."


"Apa boleh buat. Ini karena tuntutan keuangan juga," sahut Yamamura. "Ibu dan ayahku sudah meninggal, dan adikku masih terlalu kecil untuk bekerja. Jika aku tidak bekerja, maka kami semua akan mati kelaparan."


"Mereka berdua tidak boleh tahu kalau aku bukan berasal dari dunia ini. Apalagi soal kemampuan system yang masih ada di dalam diriku ini." Yamamura menatap map yang masih tertera di pandangannya. "Bisa timbul kehebohan besar nanti."


"Kau benar-benar anak yang pemberani," puji resepsionis. "Semoga kau selamat dalam perjalananmu."


"Terima kasih atas pujiannya." Yamamura tersenyum senang. "Kalau begitu, aku berangkat dulu."


"Ya. Hati-hati di jalan, Nak."


--------------------------------


"Aku cuma perlu mengikuti petunjuk di map ini, 'kan?"


Yamamura terus berjalan, melintasi jalan setapak yang diapit oleh hutan lebat di kanan dan padang rumput di kiri. Beberapa hewan tampak sedang merumput di padang rumput tersebut, tapi kelihatannya si adventurer muda sama sekali tidak berminat untuk melakukan hunting. Matahari sudah mulai meninggi, menandakan bahwa siang telah tiba. Udara pagi yang sejuk mulai digantikan oleh teriknya siang hari. Dia sudah berjalan selama beberapa lama, tapi belum sampai juga ke tempat yang dimaksud oleh quest.


"Memangnya sejauh apa, sih?" Yamamura mencoba meng-scroll panel map dan mendapati bahwa ternyata tempat itu masih sangat jauh.


"APAAAA?!" Adventurer cilik itu terperanjat. "Mati aku. Kakiku keburu bengkak semua, nih." Ia membungkukkan badannya dengan lesu.


"Hei, apa kau seorang adventurer?"


"Ya ...," sahut Yamamura.


"Tempat ini cukup jauh dari kota. Apa yang kau lakukan di sini? Dilihat dari pakaianmu, kutebak kalau kau adalah petualang pemula. Seharusnya quest yang kau ambil tidak membawamu sampai sejauh ini, karena rata-rata quest rank C sampai E lokasinya tidak terlalu jauh dari kota."


"Ah, aku sedang menuju Winter Region untuk sebuah urusan."


Kedua mata si penebang langsung membelalak ketika dia mendengar kata Winter Region. "Kau .... Kau serius?!"


"Memangnya ada apa?" Alis Yamamura tertaut.


"Tempat itu, 'kan, sangat berbahaya!!" seru si penebang.


"Banyak petualang dari berbagai kota dan kerajaan yang mencoba masuk ke wilayah itu karena adanya rumor bahwa di sana bersemayam boss dengan drop item yang sangat berharga, tapi pada akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang berhasil keluar hidup-hidup!! Kalaupun bisa kembali, pasti mereka akan pulang dalam keadaan tidak waras!! Legenda mengatakan kalau boss itu bukan boss biasa!! Ada sesuatu yang kuat dan mengerikan yang bersembunyi di dalam sana!!"


"Ah, aku harus segera mulai menebang!! Aku sudah kesiangan." Sang penebang bergegas memasuki hutan. "Pokoknya, urungkan niatmu untuk pergi ke sana jika kau masih ingin hidup, Nak!!!"


Hening sesaat. Yamamura terdiam seribu bahasa. Keberanian yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah perlahan mulai lenyap. Ketakutan akan kematian kembali menghampirinya.


"Sesuatu ... yang mengerikan ...?"


Yamamura menatap telapak tangan kanannya, kemudian mengepalkannya kuat-kuat.


"Tapi ..., aku sudah sampai sejauh ini. Lagipula kalau aku kembali sekarang, aku akan terjebak di dunia ini selamanya."


Ditatapnya matahari yang bersinar cerah di langit sambil menghalangi sedikit pandangannya menggunakan punggung tangan supaya kedua matanya tidak silau.


"Bukankah aku sudah berkomitmen untuk terus bertarung seberapa kuat dan menakutkan pun musuhku nanti? Kenapa sekarang aku jadi seorang penakut cuma karena mendengar cerita legenda?"


"Aku ... akan melanjutkan perjalananku ..., tak peduli seberapa besarpun resikonya!!!"


To be continued


Next Part:


[Season 2] Chapter 23: Dungeon dan Winter Region