
"Jadi ..., apa tujuan dari kedatanganmu kemari?" tanya Ryugai dengan raut wajah yang masih terlihat datar serta kelam sembari duduk di bangku taman yang terletak di halaman belakang rumah. Ia seolah tak peduli pada udara pagi yang segar, burung-burung yang berkicau, dan langit biru yang cerah. Semua keindahan alam itu tak bisa mencerahkan hatinya yang sudah diliputi keputusasaan.
"Hei, hei. Tidak usah dingin begitu, dong," ucap Otomura. Sahabat lamanya itu kemudian duduk di sampingnya. "Setidaknya tunjukkan sikap yang ramah kepada tamu. Misalnya tersenyum atau mengucapkan selamat datang, gitu ...."
"Maaf, ya, Otomura. Tapi ..., saat ini suasana hatiku sedang tidak memungkinkan untuk melakukan itu," sahut Ryugai. "Lebih baik kau jangan membuang waktumu di sini. Masih ada naskah yang harus kauselesaikan, bukan? Nanti kau kena semprot editormu lagi."
"Tenang saja. Naskahku sudah selesai. Hari ini, aku punya banyak waktu luang," ucap Otomura sambil tersenyum.
"Kalau begitu, nikmati saja liburanmu. Jangan membuang hari liburmu yang berharga."
"Bicara apa, sih, kau ini? Aku sama sekali tidak menganggap waktuku terbuang karena berkunjung ke rumahmu."
"Aku tahu, Otomura." Ryugai menoleh ke arah pria berambut emas tersebut. Tatapan matanya mendadak menajam. "Kau datang kemari untuk menghiburku, 'kan? Jangan lakukan perbuatan yang sia-sia. Asal kau tahu, rasa kasihanmu adalah penghinaan terbesar bagiku."
"Bodoh. Omong kosong apa lagi yang kau bicarakan?! Aku datang kemari bukan karena merasa kasihan, tapi karena aku adalah-"
"'Temanmu'. Ya, 'kan?" potong Ryugai. "Untuk itu aku berterimakasih. Tapi, berhentilah melakukan perbuatan yang sia-sia. Kau tidak akan bisa menghiburku, dan tidak akan ada yang bisa."
"Bukankah kau pernah bilang, tak peduli berapa kali kita terjatuh dan sesulit apapun rintangan yang harus kita hadapi di masa depan, kita harus terus bangkit kembali, maju, dan menghadapinya? Kau sendiri yang mengatakan itu ketika meyakinkanku untuk kembali ke dunia nyata saat beta test Purity Online, 'kan?! Apa kau sudah lupa?!"
"Ah .... Dulu aku pernah mengatakan hal naif yang konyol seperti itu, ya .... Tapi, itu adalah masa lalu. Masa lalu terang yang penuh dengan kebohongan serta harapan palsu."
"Jangan bilang kalau kau ingin kembali ke cara hidupmu yang lama? Kau ingin menjalani hidup seperti sebelum kau bertemu denganku dan Yuukaru? Kau ingin hidup di dalam kegelapan lagi?!"
"Ya ...," sahut Ryugai. "Hidup di dalam gelapnya kenyataan lebih baik daripada hidup di dalam terangnya kebohongan. Cepat atau lambat, kebenaran yang kelam itu akan terungkap, dan kebohongan takkan bisa bersinar lagi. Itulah yang terjadi padaku."
"'Harapan' bukanlah sebuah kebohongan, Ryugai!!" tegas Otomura.
"Kalau begitu, apa kau bisa membuktikan kalau itu bukan kebohongan?" tanya Ryugai. "Bagiku, apa yang terjadi sekarang dan semua yang telah terjadi dalam hidupku saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa harapan adalah kebohongan."
"Seharusnya aku tidak pernah berharap ... kepada kebohongan yang bersinar cerah itu. Kebohongan memuakkan yang menarikku untuk menikmati cahayanya dan kemudian membuangku kembali ke dalam kegelapan. Harusnya daripada memberikanku cahaya palsu, sekalian saja realita sialan itu tidak usah memberiku cahaya dan membiarkanku hidup di dalam kegelapan yang pekat."
"Realita sepertinya sedang mempermainkanku. Memberiku kebahagiaan, lalu merenggutnya dariku, kemudian memberikan kebahagiaan lagi dan merenggutnya lagi dariku. Memangnya aku ini mainan, apa?!" Nada suara Ryugai mulai meninggi, menandakan bahwa emosi telah memenuhi dirinya.
"Dan ... kau menyuruhku untuk memercayai takdir sialan itu? Jangan bercanda!! Rasanya aku ingin membunuhnya. Seandainya saja dia punya tubuh fisik ...."
Kedua telapak tangan Ryugai terkepal kuat. Kemarahan dan kekecewaan benar-benar sudah menguasai hatinya. Dia menundukkan kepalanya hingga wajahnya tersembunyi di balik bayangan.
"Ryugai ...."
Otomura turut menundukkan kepalanya. Dia paham betul apa yang tengah dirasakan oleh teman lamanya itu saat ini. Karena dia juga bisa sampai pada titik ini bukan tanpa perjuangan, melainkan melalui perjuangan yang menguras keringat dan mengorbankan banyak air mata.
"Ryugai ...."
"Kau sudah menjadi sama seperti diri kita di masa lalu ...."
"Apa ... yang harus kulakukan?"
"Kelihatannya mustahil ... menyemangatimu ketika kondisimu sudah seperti ini."
"Tapi, tetap saja ...."
"Aku harus melakukan sesuatu ...."
"Tak peduli apakah itu akan berhasil membantumu untuk merasa lebih baik atau tidak ...."
Tiba-tiba, sesuatu terlintas di benak Otomura. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ryugai yang tengah terduduk sambil menundukkan kepala di sampingnya. Senyum terukir di bibirnya.
"Hei, Ryugai. Aku tidak setuju dengan semua yang kau katakan barusan. Semua ucapanmu itu salah besar."
"Oh?" Ryugai berujar sembari mengangkat kepalanya. Tatapan matanya masih tampak tidak bersemangat. "Kalau begitu, apa kau punya bukti?"
"Aku tidak akan berkata begitu kalau aku tidak punya bukti, bodoh." Otomura terkekeh.
"Tentu saja ... aku ... punya buktinya ...."
To be continued
Siapakah yang akan memenangkan 'Talk no Jutsu Battle' kali ini? Ryugai atau Otomura? Saksikan di chapter berikutnya :v
Ngomong-ngomong, author ingin mengucapkan selamat datang kepada bulan April!! Bulan di mana musim semi berlangsung (walau di Indo ga ada musim semi, sih), bulan di mana Yamamura berulang tahun, sekaligus bulan spesial bagi umat vvibu ..., bulan di mana Kaori pertama kali bertemu dengan Arima Kousei. Sayangnya sekarang dia dah mati :") Eh, dahlah. Kok malah jadi ke anime topiknya :v
Untuk yang mau rewatch Shigatsu, selamat rewatch!!
Author juga ingin mengucapkan terima kasih atas semua dukungan yang sudah kalian berikan selama ini. Walau akhir-akhir ini novel ini agak sepi, sih. Mungkin gara-gara **main conflict-nya belum dimulai. Wkwkwk.**
Terima kasih sudah membaca chapter ini. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, dan comment. Bye bye!!
Next Part:
[Season 2] Chapter 43: Dengan Tangannya Sendiri