Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 61: Kekuatan Terkuat yang Kita Miliki



Kembali ke waktu saat ini.


"Sekarang, kalian mau melanjutkan pertarungannya? Pemimpin kalian beserta separuh anggota pasukan penyerbu sudah tiada, lho." Yamamura mengintimidasi para anggota kawanan Dire Wolf yang tersisa sambil menyiapkan kuda-kuda bertarungnya dan memunculkan anak panah di tali busur.


"Aku, sih, takkan keberatan kalau kalian mau terus bertarung sampai titik darah penghabisan. Kami berdua akan menghabisi kalian."


Kawanan serigala itu terdiam sejenak, tampak sedang berpikir. Tak lama kemudian, mereka mundur dari medan pertempuran secara teratur, meninggalkan jasad ketua beserta teman-teman mereka.


"Skill Pyro Arrow yang kudapat dari pertarungan dengan para Colonius Tiger tadi siang berguna juga," batin Yamamura.


 --------------------------------------------------------


Flashback


"Tapi, untuk sekarang ...."


Dia bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah pohon yang tadi digunakannya untuk berteduh dan duduk di bawahnya.


"Aku akan memulihkan tenaga dan meminimalisir penguapan cairan tubuh terlebih dahulu. Setidaknya untuk tiga puluh menit ke depan."


Yah. Harapannya, sih, begitu. Sayangnya, realita terkadang (atau bahkan sering?) berkebalikan dengan ekspektasi. Baru lima menit bocah berambut emas itu beristirahat, dia sudah menerima notifikasi dari system.


[Pemberitahuan: Sehubungan dengan kenaikan level dari level 18 menjadi level 20, anda mendapatkan skill baru, yakni Pyro Clone.]


Bocah tersebut menghela napas panjang, seolah berkata: 'Oi, oi. Tidak bisakah kau mengizinkanku beristirahat sejenak?' Akan tetapi, rasa penasaran dan ketertarikannya terhadap skill baru yang ia dapatkan berhasil mengalahkan kekesalannya.


"Pyro Clone? Apa itu semacam skill untuk menciptakan klon yang terbuat dari api? Mungkin sebaiknya aku mencobanya."


Yamamura menyebutkan kalimat 'Pyro Clone' dan seketika muncul sosok seseorang yang sangat mirip dengan dirinya. Bahkan mungkin sidik jari mereka berdua sama persis.


"Oh!! Dugaanku benar. Tapi, aku harus mengetes dulu apakah dia benar-benar sebuah perfect copy dari diriku atau bukan." Sambil tersenyum jahat, Yamamura memunculkan anak panah, menggenggamnya, dan segera mengarahkannya ke jantung sang klon.


"Hei. Tunggu! Kau mau ap-" Klon tersebut mencoba untuk protes. Dia terlihat sangat panik. Itu wajar, karena mana ada orang yang tidak panik jika ia langsung ditodong menggunakan senjata setelah dipanggil.


"Maaf, ya. Ini untuk uji coba."


"Heeeii!!!"


Panah tersebut melesat dan menancap tepat di jantung klon itu. Darah segar mengalir deras dan dengan cepat sang klon berubah wujud menjadi api.


"Ohh!! Jadi begitu sistemnya!!" Yamamura meraba dagunya dan tersenyum penuh semangat.


"Tapi, kurasa skill ini akan kusimpan untuk saat darurat. Soalnya dia memakan cukup banyak energi."


"Sekarang, waktunya kembali beristirahat."


(Author: Kasihan amat itu klonnya, ga salah apa-apa dihabisi :"(


Yamamura: Yah. 'Kan, buat uji coba, thor :v)


 --------------------------------------------------------


Flashback End.


Yamamura menghela napas lega dan melenyapkan anak panahnya yang sudah siap untuk ditembakkan. Pertarungan telah berakhir. Melihat kawanan serigala itu pergi dan menghilang ke balik gelapnya hutan, Yamarashi pun tersenyum lebar. Dia bergegas menyarungi belatinya, menghampiri Yamamura, dan menepuk punggungnya.


"Kita berhasil, partner!!" serunya dengan gembira.


"Ya. Aktingmu tadi bagus sekali, Yamarashi. Kalau ada seleksi aktor, kau pasti akan menang," canda Yamamura.


"Strategimu juga hebat. Berkatmu, aku bisa menang melawan kawanan serigala itu dan berhasil menjaga daging di ruang penyimpanan untuk pertama kalinya," sahut Yamarashi, membalas pujian rekannya.


"Ya ...," sahut Yamamura sembari memandang rembulan yang bersinar di langit dan ditemani oleh bintang-bintang. "Rasanya aneh, ya? Padahal kita baru bertemu beberapa jam lalu, tapi ikatan yang menghubungkan kita berdua sudah sekuat ini."


"Aku juga heran tentang hal itu," ujar Yamarashi. "Walaupun aku tahu bahwa kau takkan tinggal di sini selamanya, aku tetap senang. Karena ini adalah kemenangan pertamaku. Rasanya seperti aku mendapatkan kembali kedamaian yang kurasakan ketika keluarga kecil kami masih hidup dengan bahagia dan tentram di hutan ini."


Yamarashi menengadah menatap langit. "Kira-kira, sampai kapan kedamaian ini berlangsung, ya? Apakah setelah kau meninggalkan rumah ini, aku tetap bisa mempertahankan kemenangan ini?


"Siapa yang tahu jawabannya? Kurasa tidak ada. Masa depan adalah sebuah misteri, tapi ...."


Yamamura mengangkat tangannya perlahan, seolah berusaha meraih bulan yang tergantung di langit malam berwarna biru tua.


"Kitalah yang menentukan jawaban dari pertanyaan itu. Itulah kemampuan terkuat yang kita miliki."


"Kemampuan terkuat, ya ...," ucap Yamarashi.


"Hei, Yamamura. Sampai kapan kau akan tinggal di sini?" Remaja berambut coklat cepak itu mengalihkan pandangannya dari langit malam. Kini, ia menatap rekannya.


Yamamura turut melepaskan pandangannya dari langit malam dan menoleh ke arah rekannya. "Aku tidak tahu. Seperti yang kau katakan tadi, pastinya tidak selamanya. Karena aku memiliki misi lain. Tapi, selama aku masih di sini, aku akan berusaha untuk membantumu melindungi ruang penyimpanan."


"Untuk melindungi relasi kita?"


"Ya."


"Relasi itu aneh, ya. Terkadang dia memberi rasa sakit dan merampas harapan. Namun, kadang dia juga memberi makna lebih pada hidup kita. Aku merasa baik pola pikir kita maupun pola pikir Senshi ada benarnya."


"Yah, begitulah ...."


Yamamura melangkah menuju pintu rumah. "Ayo kita masuk. Sudah larut malam. Kita harus ti-"


"Hei, tunggu dulu. Jasad para serigala ini mau diapakan?" sela Yamarashi.


"Benar juga." Yamamura mengetuk-ngetuk dagunya, terlihat sedang berpikir. "Bagaimana kalau kita gabungkan dengan daging hasil buruan di ruang penyimpanan?"


"Eh?! Kau mau memakan semuanya?!"


"Yah. Daripada jadi sia-sia, lebih baik daging mereka masuk ke dalam perutku. Setidaknya dengan begitu mereka bisa memberiku tenaga. Soal rasa, itu urusan belakangan."


"Baiklah, tapi nanti kau yang memakan semuanya, ya?"


"Eh?! Curang!! Kau juga ikut berkontribusi untuk menghabisi mereka, 'kan?"


"Biar saja. Hahaha. Kabur, ah!!"


"Hei, jangan lari!! Dasar pengkhianat!!"


To be continued


Author: Yak. Akhirnya Yamamura bisa merasakan chemistry pertemanan dan kedamaian lagi setelah selama berhari-hari nyawanya berada di ujung tanduk :") Terharu saya.


Yamamura: Justru kalau ada adegan yang damai begini, malah mencurigakan _-"


Yamarashi: Iya, nih. Apalagi sekarang, 'kan, vibes Natal sedang terasa sekali. Tahu, 'kan, tradisi author kita saat Natal tiba?


Senshi: Iya, nih. Mencurigakan. Apa yang kau rencanakan kali ini, thor?


Author: Eeee .... Yak. Kepada para pembaca, terima kasih sudah membaca chapter ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, dan comment. Sampai jumpa di chapter berikutnya dan Merry Christmas bagi yang merayakan!!


Yamamura: Yah, dia menghindari pertanyaan _-"