
Sebelum membaca chapter kali ini, siapkan tisu sekotak dulu, ya. Karena akan ada adegan dramatis yang menjadi klimaks dari arc ini. Sekian dan terima kasih.
Para chara: Kok feelingku gak enak, ya _-"
----------------------------------------------------------------
"Apa maksudmu?" tanya Yamamura. "Bukannya kau juga punya sesuatu untuk dilindungi?"
"Tidak, aku sudah kehilangan semuanya. Satu-satunya yang bisa kulindungi adalah Winter Region ini, tapi aku gagal melakukannya. Aku sama sekali ... tidak punya sesuatu untuk dilindungi."
"Kalau begitu, bukankah kau bisa mencari yang baru? Dengan begitu, kau pasti akan memilikinya lagi. Sesuatu untuk kau lindungi."
"Sia-sia saja. Itu semua cuma kebohongan. Cepat atau lambat, pasti sesuatu itu akan diambil dariku. Tidak ada yang nyata dari hidupku. Semuanya palsu."
"Kau bercanda? Kau menganggap hidupmu, kebahagiaanmu, motivasimu, impianmu, dan semua relasi yang sudah kau bangun dengan susah-payah hanyalah kebohongan?"
"Kalau itu memang nyata, lalu kenapa semuanya meninggalkanku?!" Nada suara Rudolf mulai meninggi. "Kenapa cuma aku yang memiliki takdir yang pahit?!"
"Kalau Santa yang menjadi alasanku untuk hidup itu memang nyata, lalu mengapa dia tidak menemuiku sejak hari itu?! Itu bukti kalau dia hanya sosok yang diciptakan oleh imajinasiku!!"
"Baiklah, terserah jika kau mau menganggap itu semua sebagai kebohongan. Tapi, ingatlah!! Kebohongan itulah yang memberimu tujuan hidup!! Kebohongan itulah yang membuatmu terus berjuang untuk hidup, bukan?! Kebohongan itulah ... yang memberimu kekuatan!!!"
"Yang namanya kebohongan, sampai kapanpun tetap akan menjadi kebohongan!!!" ketus Rudolf. "Sampai kapanpun, kebohongan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sesuatu yang palsu tidak akan bisa menjadi asli!!!"
"Tidak!!! Sepalsu apapun sesuatu itu, jika kau memutuskan untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang nyata, maka itu akan menjadi hal yang nyata bagimu!!!"
"Kau juga berpikir begitu, 'kan?! Kalau tidak, kenapa kau terus berjuang walaupun kau tahu Santa itu hanyalah dongeng untuk membohongi anak-anak?! Kenapa kau terus percaya pada keajaiban Natal meskipun teman-temanmu mengejek dan menertawakanmu?!"
"Itu dulu!! Ketika mataku masih terbutakan oleh dongeng tentang Santa Claus!!!"
"Bohong!! Kau masih mempercayainya sampai sekarang, bukan?! Kalau tidak, kenapa kau menerima wujud rusa kutub peliharaan Santa ini?! Kenapa kau terus melindungi Winter Region?! Kenapa kau terus melindungi hal-hal yang menyeretmu ke memori-memori kelam yang ingin kau lupakan?!"
"Bocah ini benar ...." Rudolf membatin sembari tertunduk. "Walaupun aku tahu kalau itu semua hanyalah kebohongan, tapi aku tidak bisa berhenti mempercayai semua fantasi palsu itu. Meski aku membenci wujud dan daerah ini, tapi aku tetap melindunginya mati-matian."
"Kenapa? Kenapa aku terus melindungi ini semua?"
"Apa karena perintah dari wanita itu?"
"Tidak ..., kurasa ada penyebab lain ...."
"Itu karena ... aku masih merindukan keajaiban Natal ...."
"Sesuatu yang paling kubenci ... ternyata merupakan sesuatu yang paling kurindukan ...."
Rudolf tersenyum getir sekali lagi. Napasnya tinggal satu-dua. Usianya sudah tidak lama lagi. Pandangannya mulai menggelap dan cahaya merah terang di matanya yang tidak terkena panah mulai meredup.
"Selama ini ... kebohongan itulah ... yang selalu melindungiku."
Seolah melambangkan kecerahan di hati rusa monster itu, badai salju yang sejak tadi melanda Winter Region reda sepenuhnya. Suara hembusan angin tak lagi terdengar. Gorden awan kelabu tersibak, menampakkan langit malam yang cerah dan dihiasi oleh bintang-bintang.
"Langit malam yang indah seperti ini ... sudah lama aku tidak melihatnya." Rudolf menengadahkan kepalanya, menatap langit. Itu adalah langit malam cerah pertama yang dilihatnya di dunia itu sekaligus langit malam terakhir yang bisa dia lihat.
"Itu karena selama ini kau terkurung di dalam kegelapan."
"Jadi ... kaulah yang sudah membebaskanku dari dalam kegelapan?"
"Begitulah," sahut Yamamura sembari turut menengadahkan kepalanya.
"Hei, bocah ...."
"Apa? Permintaan terakhir? Jangan memintaku melakukan hal yang merepotkan, ya." Yamamura berujar dengan pandangan yang masih terpaku pada langit malam.
"Tenang saja, aku tidak akan memintamu untuk menyelamatkan dunia atau semacamnya." Rudolf tersenyum untuk yang terakhir kalinya, menampakkan gigi-giginya.
"Aku ... hanya ingin memintamu mengubah dunia ini ... menjadi tempat yang lebih baik lagi."
"Aku memang tidak mengenalmu sama sekali, tapi ...."
"Aku percaya kepadamu."
"Aku percaya kau bisa melakukannya, bocah."
"Setidaknya kau bisa menghilangkan kata 'bocah'-nya itu, 'kan? Pembicaraan terakhir itu harusnya menjadi sesuatu yang dramatis," ucap Yamamura sambil tersenyum.
"Diam, bodoh."
"Ya, ya. Aku mengerti. Aku akan mengabulkan permintaan terakhirmu itu."
"Terima kasih ..., bocah ...."
Pandangan sang rusa monster semakin menggelap sebelum akhirnya menjadi hitam seluruhnya. Namun, mendadak cahaya putih yang menyilaukan muncul, memenuhi ruang hitam di pandangan Rudolf hingga menjadi ruang putih. Santa Claus berdiri di hadapannya, membuat kedua matanya membesar. Dia melihat ke bawah dan mendapati bahwa tubuhnya saat ini adalah tubuhnya yang dulu. Tubuh Rudolf sang manusia. Dia sudah bukan rusa mimpi buruk lagi. Dia telah bebas ... dari kegelapan dan mimpi buruk itu ....
(Biar feelsnya nambah, kalian bacanya bisa sambil dengar lagu ini: https://youtu.be/qeu0\-X0hEWE)
"Sudah lama kita tidak bertemu, Rudolf," ucap Santa. "Kau sudah tumbuh besar rupanya."
"Tentu saja, dasar bodoh. Kau tahu sudah berapa tahun berlalu sejak malam Natal di mana kau menemuiku untuk yang terakhir kali?" Rudolf tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya sambil berusaha menahan rasa harunya.
"Jadi ... apa hadiah Natal yang kau inginkan tahun ini?"
"Sederhana saja." Rudolf mengangkat dan menyilangkan kedua lengannya di belakang kepalanya. "Aku ingin semua orang bahagia, sehingga tidak ada lagi yang perlu menderita seperti diriku."
Mendengar itu, air mata haru pun menggenangi sudut mata sang Santa Claus. Pria paruh baya berjanggut putih lebat itu tersenyum.
"Kau ... benar-benar sudah tumbuh dewasa ...."
"Rudolf ...."
----------------------------------------------------------------
Di dalam sebuah ruangan istana yang entah berada di mana, dua orang berjubah hitam tampak tengah berdiri menatap bola kristal beralaskan bantal kecil di hadapan mereka yang sedang memproyeksikan gambar percakapan terakhir antara Rudolf dan Yamamura. Salah satu dari kedua orang itu tampak seperti seorang wanita karena bibirnya dilapisi oleh lipstik berwarna merah terang.
"Dia berhasil mengalahkan Rudolf," ucap sang pria. "Karisma dan kemampuan bertarungnya itu ... benar-benar mirip dengan Kaisar Dewa Elterior."
"Ya ...," sahut sang wanita.
"Aku heran denganmu. Padahal dari kabar tentang peristiwa penyerangan oleh Calamity Angels yang kita dapatkan, kita sudah tahu kalau dia adalah Dewa Elterior. Lantas, kenapa kau harus menghalangi jalannya dengan menggunakan guardian seperti itu?"
"Kau bodoh atau apa? Dia belum menunjukkan kekuatan dewanya di depan mata kita secara langsung. Bisa saja itu berita palsu yang dibuat oleh para dewa yang berpangkat lebih tinggi untuk mempermainkan kita."
"Benar juga .... Itu sebabnya kau menghambat jalannya walaupun sudah sengaja menjebaknya di dunia ini, ya? Untuk memastikan apakah dia benar-benar Elterior-sama atau bukan." Si pria berjubah hitam mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Begitulah. Para penjaga itu cuma anak buah rendahan, jadi mati pun tidak apa-apa, 'kan?" Senyum jahat tergambar di bagian bawah wajah wanita itu yang tidak tertutup oleh bayangan tudung jubah.
"Tapi, waktu kita terbatas. Kalau tidak cepat, nanti 'dia' keburu muncul, lho!!"
"Ya ...." Si wanita berujar sambil membuka jendela dan berjalan keluar menuju beranda. Dia menatap langit malam. Angin malam bertiup, menyibakkan sedikit jubah hitam yang dikenakannya sehingga salah satu matanya terlihat. Sebuah mata berwarna ungu dengan bulu mata lentik khas wanita.
"Aku juga berharap ... anak itu ..., maksudku Elterior-sama segera mendapatkan ingatannya kembali."
Pupil mata wanita tersebut tiba-tiba menghilang dan digantikan oleh lambang ankh, kemudian lambang ouroboros dan dark sun muncul secara berurutan, mengelilingi lambang ankh tadi.
"Soalnya ... aku paling benci menunggu ...."
To be continued
Penjelasan:
Ankh \= Lambang Mesir Kuno berbentuk salib dengan pegangan. Biasanya dijadikan lambang keabadian dan **afterlife. Karena itulah para dewa Mesir biasanya ditampilkan dengan memegang ankh di tangan mereka.**
Ouroboros \= Lambang Mesir Kuno berbentuk ular yang memakan ekornya sendiri. Melambangkan siklus kehidupan dan kematian yang tidak akan pernah berhenti.
Kalau kalian susah ngebayangin matanya si wanita berjubah hitam, author kasih ilustrasi, deh.
(Mata & lambang-lambangnya hasil nyolong di gugel, tapi yang ngedit dan nyusun lambangnya itu saya sendiri :v)
Kurang lebih seperti itu, tapi warna ungu di matanya agak lebih gelap.
Btw, dengan ini arc Magic of Christmas sudah berakhir, ya. Agak sad juga sih harus namatin arc yg sudah berlangsung selama 2 bulan + ngebunuh si Rudolf. Tapi, yah, kalo ga dilakuin nanti plotnya kaga jalan-jalan.
Rudolf: Boong kau, thor. Seneng, 'kan, kau, aku mati _-" Dasar ****Chara Slayer.
Author: Apaan, kaga :v Nekting** (negative thinking) mulu nih chara.**
Rudolf: Masa?
Author: Oke sekian untuk chapter kali ini. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya!! Bye!!
Rudolf: Menghindar dari pertanyaan, nih _-"