
"Kalau aku menyerang secara asal, pasti tidak akan kena yang asli. Dengan penampilan mereka yang sama persis seperti ini, kurasa sistem auto-target dari controller arrow sekalipun tidak akan bisa mengetahui mana Rudolf yang asli," batin Yamamura. "Jadi, satu-satunya cara adalah ... melompat!!"
Dengan gerakan yang cepat, semua Rudolf yang sedang mengepung menyeruduk ke arah Yamamura. Namun, mereka segera berhenti begitu Yamamura melompat ke atas untuk menghindar.
"Kenapa mereka berhenti? Oh, iya. Kalau mereka terus maju dan saling bertabrakan, nanti akan menimbulkan damage sehingga semua Rudolf yang palsu menghilang dan akan langsung ketahuan mana yang asli."
Mendadak, seluruh Rudolf mendongakkan kepala dan menembakkan laser berwarna merah dari mata mereka.
"O-Oi!! Kalau di udara, 'kan, jadi tidak bisa bergerak bebas!!!" Kepanikan tersirat di wajah Yamamura.
"Gimana, nih?! Aku tidak punya shield atau benda yang bisa dijadikan sebagai reflektor. Pedangku juga sudah terlempar tadi. Satu-satunya cara adalah mengacaukan arah serangan laser dengan melukai salah satu dari mereka!! Tapi, waktunya tidak cukup untuk memasang anak panah di busur, memperhitungkan akurasi, dan menembakkannya!!"
"Ah, masa bodoh, lah!! Lemparkan langsung pakai tangan saja, seperti olahraga lempar lembing!!"
Bocah itu memunculkan anak panah di telapak tangannya dan menggenggamnya, lalu melemparkannya secepat kilat ke arah mata dari salah satu bayangan Rudolf secara miring agar tidak terhalang oleh laser, sambil berharap hembusan angin badai tidak menyebabkan panah itu meleset. Rusa monster yang matanya terkena tusuk oleh anak panah meraung dan arah lasernya jadi meleset. Dia melukai temannya, kemudian tubuhnya lenyap tanpa bekas. Temannya juga melakukan hal yang sama. Reaksi beruntun itu terus berlanjut sampai semua bayangan Rudolf menghilang.
"Hooo. Jadi invisible body armor-nya itu tidak tahan terhadap serangan dari sesama rusa monster, ya ...." Yamamura membatin sekali lagi. "Itulah kelemahan dari teknik ilusi bayangan miliknya. Jurus itu bisa menjadi senjata makan tuan jika tidak dikendalikan dengan baik."
"Eh?!"
"Uaargghh!!!"
Yamamura mengerang kesakitan. Sebuah laser nyasar telah melukai bagian belakang dari bahu kanannya. Untung saja laser itu hanya menyerempet.
"Urgh!! Sial!!" gerutunya. "Sudah kuduga, ini bukan strategi yang bagus. Tapi, setidaknya dengan begini bisa ketahuan mana yang asli."
Ia mendarat di tanah bersalju sembari memegangi bahunya yang terluka dan menatap Rudolf yang sudah kehilangan setengah dari tanduknya gara-gara serangan laser nyasar dari bayangannya. Sebuah luka sabet memanjang tampak di punggungnya.
"Kelihatannya kau terluka," ucap Yamamura sambil tersenyum.
"Jangan berekspresi seolah-olah kau sudah menang, bodoh," sahut Rudolf. "Kau juga terluka, 'kan?"
"Memang, tapi ... aku masih punya strategi."
"Memangnya strategi apa lagi yang bisa kau lakukan, payah?! Terima saja kematianmu!!!" seru Rudolf sembari menyeruduk ke arah Yamamura.
"Dia lebih memilih menyeruduk daripada menembakkan laser, berarti jurus Red Gleam itu memerlukan waktu untuk cooldown. Kalau begitu, strategi kedua ini bisa dilaksanakan!! Baguslah!!"
Dengan cepat, Yamamura berguling menjauh untuk menghindar. Kali ini dengan kecepatan dua kali lebih cepat daripada gulingan-gulingan sebelumnya.
"Bocah itu .... Apa dia merencanakan sesuatu?"
"Hei, tunggu!!! Kau mau kabur, ya?!"
Rudolf mencoba mengejarnya, tapi badai salju malah menjadi semakin parah, menyebabkan penglihatannya dipenuhi oleh warna putih.
"Ke mana bocah itu?"
"Di sini."
Rusa jadi-jadian tersebut menoleh ke belakang. Pada saat itu juga, badai mereda sehingga ia bisa melihat Yamamura sedang berdiri sambil memegang busur.
"Berani menunjukkan diri di hadapanku begitu ...." Rudolf bersiap untuk menyeruduk dengan gaya layaknya banteng. "Kau menantangku, ya?!"
Yamamura menghindari serudukan Rudolf, lalu menembakkan controller arrow. Dengan sigap, si rusa menghindari panah tersebut berulang-ulang dan menancapkannya di tanah dengan cara melompat ke udara.
"Strategi yang sama ... takkan bisa kau pakai lagi, bodoh!!!" seru Rudolf sembari menghancurkan anak panah itu menggunakan laser merah dari matanya.
"Skill controller arrow pasti memerlukan waktu untuk cooldown. Waktunya tidak cukup baginya untuk memasang anak panah dan menembakkannya sebelum aku mendarat di tanah. Kelihatannya dia tidak punya senjata lain selain busur dan anak-anak panah itu. Jadi ... pertarungan ini ... akulah yang akan memenangkannya!!" ucap sang rusa monster dalam hatinya sambil menyeringai bengis.
"Tadi dia memang beruntung karena panah yang dia lemparkan secara asal itu bisa mengenai mata dari salah satu bayanganku dengan telak, tapi ... keberuntungan tidak akan terulang untuk kedua kali!! Tinggal mengulangi strategi yang sama dan aku akan bisa menghabisinya."
Senyum penuh kemenangan tiba-tiba terukir di wajah Yamamura. Ia mengeluarkan sebuah pedang dari inventory dan melemparkannya dengan cepat ke arah mata Rudolf.
"APA?!" Rudolf terperanjat. "Mustahil .... Pedang itu, 'kan, yang tadi terlempar saat aku menepis serangannya ...."
"Kapan ... dia mengambilnya?"
Kedua mata Rudolf membulat. "Jangan-jangan, waktu itu ...."
"Jadi waktu itu dia ... bukannya mau kabur ...."
"Gawat .... Aku tak bisa menggunakan Red Gleam berkali-kali dalam waktu singkat. Meskipun aku menggunakan teknik ilusi bayangan, aku takkan bisa bertukar tempat dengan bayanganku sehingga bocah itu akan langsung tahu mana yang asli ...."
"Ini mustahil .... Aku ... kalah dari adventurer dengan rank rendah sepertinya?"
"Aku yang dijuluki Rusa Mimpi Buruk dan Penyihir Ilusi ... kalah dari seorang anak kecil?"
(Yamamura: Jangan panggil aku anak kecil, Paman.
*plak!!!*
Author: Lagi-lagi kau ngerusak script, ya!! >:v
Yamamura: Ampun, thor. 'Kan, bercanda, doang. Biar gak kaku suasananya :"
Author: DIAM!!! SANA AKTING YANG BENER, ATAU KUPECAT KAU!!!
Yamamura: Hiks :"( Gini amat punya author otoriter)
Pedang tersebut menancap di mata kanan Rudolf, membuatnya meraung dengan suara yang berat dan menggema, kemudian ambruk ke tanah bersalju.
"Kau ... anak yang jenius dan hebat ...," ucapnya dengan napas yang tak beraturan. Kematiannya sudah dekat. Darah segar mengalir keluar dari matanya yang tertusuk.
"Sudah kubilang, 'kan? Aku juga punya sesuatu untuk dilindungi, dan bahkan lebih banyak dari punyamu," sahut Yamamura. "Aku punya teman-teman, keluarga, dan banyak hal berharga lainnya. Aku tidak bisa meninggalkan mereka dan mengkhianati harapan mereka kepadaku. Karena itulah, aku terus bertarung dan berjuang."
"Begitu, ya ...." Rudolf tertawa getir. "Karena merekalah ... kau bisa menang .... Mereka juga yang sudah memberimu keberanian, sehingga kau bisa lolos dari dunia ilusi mimpi buruk milikku."
"Kau ... berbeda jauh dariku ...."
"Apa maksudmu?"
To be continued
Next Part:
[Season 2] Chapter 39: Kebohongan yang Memberimu Kekuatan