
"H-Hai ...."
Sepasang mata beriris emas milik anak lelaki berambut hitam legam tadi mulai menunjukkan kegusaran. Bagian di antara kedua alisnya berkerut. Dengan cepat, dia melempar cangkul yang sedang dipegangnya hingga melintas tepat di samping leher Yamamura dan menancap di tembok kayu.
"Hiiiiyyy!!!" seru Yamamura dengan panik sembari menjauhkan lehernya dari cangkul itu.
"Oi!! Itu berbahaya tahu!!!" ucapnya dengan marah.
"Kau ... pencuri, ya?!" tuduh anak lelaki tadi.
"B-Bukan!! Tenang dulu. Aku bisa jelaskan." Yamamura berusaha menenangkannya, tapi kelihatannya usaha itu gagal.
"Jangan berbohong!!! Tadi kau memakan jatah makan malamku, 'kan?!"
Berbagai macam perabot rumah tangga melayang satu-persatu ke arah Yamamura yang langsung bergerak secepat kilat untuk menghindar. Suara benturan yang timbul membuat hewan-hewan malam segera bergerak menjauh.
"Ternyata dia pemilik rumahnya!!" batin adventurer muda tersebut sambil terus menghindari lemparan barang dan sesekali menangkisnya menggunakan lengan.
"Sudah, ah. Capek, nih," ujar Yamamura. Keringat membasahi tubuhnya dan napasnya tidak beraturan.
"Sekarang, mengakulah .... Kau pencuri, 'kan?!" Untuk kedua kalinya, si anak berambut hitam menuduh Yamamura. Kedua matanya menatap dengan tajam.
"Sudah kubilang, aku bukan orang jahat-"
"Ada ribut-ribut apa, sih? Mengganggu orang tidur saja."
Seorang remaja lelaki dengan rambut coklat bergaya cepak dan iris mata keemasan muncul dari lantai dua dan menuruni tangga yang terletak di ruangan sebelah sambil menggerutu, kemudian memasuki ruang makan. Kelihatannya dia lebih tua sekitar dua atau tiga tahun daripada anak berambut hitam tadi.
"Ada penghuni lain di rumah ini? Dan dia sudah berada di sini sejak tadi? Ah, bodoh sekali kau, Yamamura. Seharusnya aku mengecek semua bagian rumah ini dulu, baru memakan makanan di meja."
Sang anak lelaki berambut hitam segera mengenali remaja tersebut.
"Kakak?"
--------------------------------------------------------
Beberapa menit kemudian.
"Hahahahaha, jadi begitu ceritanya." Sang remaja berambut coklat cepak tertawa terbahak-bahak. "Kukira ada apa."
"Aku minta maaf. Kukira rumah ini sudah ditinggalkan pemiliknya. Lagipula, waktu itu perutku lapar sekali. Aku tidak sempat berpikir lebih jauh lagi," ucap Yamamura sambil membungkukkan tubuhnya.
"Tidak masalah. Aku bisa memasak lagi, kok." Alih-alih marah, justru remaja itu malah berbicara dengan ramah kepada Yamamura.
"Hei, kakak. Apa itu artinya kau menerima kedatangan orang asing ini?" tanya adiknya, si anak lelaki berambut hitam.
"Hei, hei. Jangan kasar begitu terhadap tamu," tegur sang kakak. "Apa kau tidak merasa kasihan? Dia belum makan seharian ini."
"Aku tidak peduli dengan nasib dari orang yang belum jelas baik atau jahat," sahut sang adik dengan nada dingin. "Lagipula, aku malas menjalin relasi baru. Itu akan menambah beban pikiranku ketika hari kematianku atau hari kematian mereka tiba."
"Jangan bilang begitu, ah. Kau berbicara seolah-olah besok kau akan mati."
"Tidak harus besok. Tapi cepat atau lambat, kita pasti akan segera mati."
"Haahh~~ Tidak punya harapan seperti biasanya." Sang kakak menghembuskan napas panjang. "Apa kau tidak bosan hidup seperti itu terus?"
"Tidak. Bagiku, inilah jalan hidupku."
"Tapi, ini sudah malam," sahut Yamamura.
"Ah, ya. Maksudku tidur malam."
"Lalu, makan malamku bagaimana?" tanya sang adik.
"Ah, hampir saja aku lupa. Sebentar, kumasakkan dulu."
Remaja berambut coklat itu melangkah menuju dapur, meninggalkan adiknya dan Yamamura. Setelah keheningan dan suara binatang malam meliputi ruangan tersebut selama beberapa menit, akhirnya Yamamura angkat suara.
"Aku baru ingat kalau kita belum berkenalan. Namaku Yamamura. Siapa namamu?" ucap Yamamura dengan ramah sembari mengulurkan tangannya.
"Senshi," jawab anak lelaki berambut hitam kelam itu tanpa menoleh maupun menyambut uluran tangan Yamamura. Singkat, padat, jelas, dan dingin layaknya es di Antartika.
"Kau ... adventurer, ya?" tanyanya.
"Hm? Ya," ujar Yamamura. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kau menganggapku bodoh, ya?" sahut anak lelaki yang bernama Senshi tersebut. "Adventurer badge yang terpasang di dadamu itu jelas menunjukkan bahwa kau adalah seorang petualang."
"Ah. Badge ini masih utuh, ya. Syukurlah!! Kalau benda ini hancur, bisa-bisa aku tidak bisa mengambil quest lagi," ucapnya dengan senang sambil meraba adventurer badge yang tersemat di bagian dada dari armor rusak miliknya. Dia hampir lupa tentang benda itu.
"Tapi, ada sesuatu yang aneh. Kenapa anak yang tinggal di tempat terpencil seperti ini mengetahui sistem adventurer yang cuma ada di kota?"
Senshi segera melanjutkan ucapannya.
"Selain itu, gerakan refleksmu tadi terlalu cepat untuk ukuran anak seumuranmu. Apa kau ikut latihan khusus?"
"Yah ..., bisa dibilang begitu." Yamamura menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Aku tidak pernah mengikuti latihan beladiri sewaktu masih berada di Bumi, sih. Tapi, kurasa pertarungan-pertarungan yang kujalani di sini bisa disebut sebagai latihan khusus, terutama bagian latihan dikeroyok kawanan harimau," batinnya dengan bulir keringat mengalir di kening.
"Ngomong-ngomong, gerakan seranganmu tadi juga tidak kalah cepat dengan gerakan refleksku."
"Padahal aku cuma melakukannya secara spontan," ujar Senshi, masih dengan wajah tanpa ekspresi. Dia sama sekali tidak bereaksi terhadap pujian dari Yamamura.
"Kau mempunyai potensi. Jika dilatih secara terus-menerus, bakatmu akan semakin berkembang dan lama-kelamaan akan mencapai tahap yang mengagumkan. Kau memilikinya. Jiwa seorang petarung. Orangtuamu tidak memberimu nama Senshi tanpa alasan, bukan?"
"Menjadi petarung, ya ...."
Kedua mata emas milik Senshi menerawang ke luar jendela, menatap pemandangan malam.
"Dulu, itu adalah impianku."
To be continued
Yoo, author kembali!! Jika kalian bertanya: "Kok tumben author rajin update? Biasanya harus tunggu sebulan dulu baru update", itu karena fuel bagi writing spirit saya sudah kembali!! :3 Setelah 18 bulan alias satu setengah tahun berlalu, akhirnya saya menonton kembali salah satu anime yang paling meng-influence saya dalam menulis POS1 alias Purity Online Season 1, yakni Angel Beats!! Yah, semoga saja dengan ini kualitas lama dari novel ini bisa kembali.
Tapi, berhubung saya sudah kelas 12 dan sudah mulai kepikiran tentang kuliah, saya tidak tahu kapan saya akan sibuk lagi. Jadi kalau saya tiba-tiba hilang lagi, jangan ngamuk ke saya 🗿 *ditampol*
Sekian untuk chapter kali ini dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, dan comment. Sampai jumpa di chapter berikutnya!!
-Author